Skip to main content


Detektif Kocak A2G (Bab 3): Enam Hari yang Lalu...

3. ENAM HARI YANG LALU...

Sebelum membaca bab ini, kamu DISARANKAN untuk membaca:

[Sinopsis dan Daftar Isi] Detektif Kocak A2G: "Hilangnya Lukisan Berharga 20 Milliar"


Baca cerita sebelumnya di:

Detektif Kocak A2G (Bab 2): Tujuh Hari yang Lalu...
      

enovel detektif kocak A2g bab  3 enam hari yang lalu


            Pagi menjelang siang, atau lebih tepatnya pukul 11 siang. Ketiga orang remaja berusia 20 tahunan lebih sedikit – tengah berdiskusi di dalam ruangan yang sedikit berantakan. Sebuah ruangan yang letaknya di lantai 3 ruko milik ayahnya si Hamid, yang kini menjadi tempat diskusi mereka.

            “Tugas kuliah, oh tugas kuliah,” keluh si Ali dengan wajah sedikit lemas, seraya meletakkan ranselnya di atas sofa. Mahasiswa fakultas hukum Unlam itu baru saja pulang dari kuliahnya.

            “Hahaha..” Hamid tertawa ringan. “Di bawa santai aja gan. Kayak ane nih contohnya.”

            “Lu enak gak kuliah! Lahh, kalau gue?” protes Ali. “Setelah gue pikir-pikir –  ternyata kuliah itu perlu perjuangan yang sangat berat. Tugas tiap hari, ujian, laporan, dan pada akhirnya.. Bikin skripsi.. arghhh.. Bikin gue pusing saja.”

            “Sudahlah kawan,” sahut Togar. “Daripada kau pusing, mending kayak aku saja. Tu tugas kuliah aku tumpuk saja semuanya – kalau aku lagi malas. Pas mood aku sudah bagus, baru lah aku kerjakan tugas-tugas itu. Yang penting kan punya alasan yang pas – kalau nanti ditanyakan sama dosen. Tinggal jawab ‘ketinggalan’ atau tak usah masuk pas jam tu dosen. Gampang kan?” saran si Togar kepada Ali. Saran yang benar-benar sangat menyimpang. Walaupun cerdas

            “Saran yang kereen!!” Seru Ali dengan nada kagum yang tampak dibuat-buat.

            Meskipun orangnya suka mengoceh, Ali ini sangatlah perhatian dengan yang namanya tugas kuliah. Mungkin dikarenakan didikan ayahnya yang seorang kepala sekolah. Hal itu yang membuat keseriusannya dibidang pelajaran lebih unggul ketimbang Togar. Lain lagi kalau urusan kecerdasan. Kalau untuk itu, Togar lah yang lebih unggul.

            “Tapi sekarang kita harus fokus dulu ke satu hal yang teramat penting,” Togar mengalihkan topik. “Tentang kasus kemarin!” seru remaja berlogat batak itu dengan cepat.

            “Mulai hari ini kita harus bergerak secepat mungkin! Jangan sampai kita kehilangan jejak dan petunjuk dari kasus ini!” Togar mengingatkan. “Semuanya teramat penting untuk diselidiki secepat mungkin! Sebelum semua petunjuk itu bisa dihilangkan oleh si pelaku,” air mukanya tampak lebih serius.

            “Oh iya, gan! Tadi ada BBM dari mbak Eka,” Hamid menyela ucapan Togar yang berapi-api.

            “Apa kata dia?” tanya si Togar antusias. “Apakah dia sudah mendapatkan sesuatu?”

            “Hmm.. Engga juga sih. Mba Eka cuma memberitahukan tentang data-data yang ente minta kemarin.”

            Hamid kemudian mengajak kedua rekannya menuju ke meja bundar di belakang kursi sofa. Meja dengan tinggi selutut orang dewasa itu hanya beralaskan tikar ambal. Di meja itulah ketiga remaja itu biasa berdiskusi, ditemani oleh kertas coretan dan laptop canggih milik si Hamid.

            “Ok, baiklah. Sekarang ane mau jelasin semua yang tadi dikasih tau mbak Eka,” Hamid memulai obrolan kembali. Sementara Togar sudah bersiap dengan pulpen dan kertas corat-coretnya.

            “Begini, gan. Tadi mbak Eka memberitahukan nama para saksi – atau bisa dibilang orang-orang yang paling dicurigai dalam kasus ini,” lanjut penggemar berat situs Kaskus itu. “Mereka itulah yang paling sering keluar masuk ruangan tempat lukisan yang hilang itu disimpan – sebelum dipamerkan. Jumlah mereka ada 4 orang.

            Togar dan Ali mendengarkan dengan seksama.

           “Trus, tadi mbak Eka juga mengirimkan alamat rumah serta foto masing-masing saksi itu. Selain itu ada juga foto dari  lukisan yang hilang. Serta satu lagi – foto posisi lukisan itu sebelum hilang. Kata mbak Eka, foto itu diambil beberapa hari sebelumnya, oleh pimpinan EO yang iseng-iseng mengambil foto lukisan itu -- tentunya sebelum lukisan itu raib entah kemana. Dia lalu memberikan foto lukisan itu kepada kepolisian, siapa tau ada petunjuk yang bisa digali.

           “Naah.. semua foto itu sudah ane simpan di dalam sini, gan,” Hamid menunjuk laptop canggihnya yang berada di atas meja bundar.

            Hamid kemudian membuka laptopnya itu. Setelah itu dia membuka tiap-tiap foto yang  tadi disimpannya.

           “Ini, ente-ente liat sendiri gan. Keempat orang yang dianggap sebagai saksi,” Hamid menunjukkan foto keempat orang itu.

            Ali dan Togar memperhatikan foto-foto itu dengan seksama -- wajah-wajah para saksi yang ditetapkan oleh kepolisian. Tiap-tiap foto itu diberi nama sesuai dengan nama asli para saksi tersebut.

           “Hahahaha!” Ali tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal. “Lucu sekali wajah orang tua itu!”

           “Rupanya kau berpikiran sama dengan aku,” tukas Togar.

           “Sudah ane duga, agan-agan pasti ketawa pas ngeliat foto itu.” Hamid rupanya sudah tau penyebabnya, kenapa si Ali tertawa sebegitunya. Tidak lain tidak bukan adalah karena foto dengan nama file ‘Pak Bondan’ yang memiliki wajah sangat lucu.

           Terlihat di laptop itu foto seorang pria paruh baya dengan badan gempal, kepala botak mengkilat, kumis tebal dan kacamata hitam yang sangat keren. Kacamata itu seperti yang sering dipakai oleh James Bond.

          “Siapa dia itu? Wajah sama gayanya bikin gue sakit perut, hahaha..” Ali masih tak bisa menahan tawanya setelah melihat foto lelaki berwajah sangat lucu itu. “Terutama kepalanya, bikin silau, men!” Ali tertawa terpingkal-pingkal.

          “Wah, ente jangan ngeremehin ni orang, gan. Jelek-jelek gini, dia itu adalah seorang kolektor benda-benda seni.”

          “Wow!!” Seru Ali. “Gak nyangka! Pasti dia itu orang kaya,ya?”

          “Ya. Mungkin saja,” tukas si Hamid. Dia kembali mengutak-atik laptopnya.



            *Hamid kemudian menjelaskan satu persatu saksi yang diberitahukan oleh briptu Eka. Mulai dari pak Bondan yang tadi ditertawakan si Ali.

            Kolektor benda seni itu ditetapkan sebagai saksi karena keberadaan dirinya yang terlalu sering keluar masuk gedung sebelum pameran dimulai. Sesuatu yang tidak 'etis' bagi seorang yang non panitia untuk keluar masuk gedung. Bahkan terkadang bisa sampai malam hari. Petugas keamanan pun tidak bisa berkutik, lantaran sang kolektor memang punya ijin khusus untuk keluar masuk gedung. Ijin khusus itu datang dari sang pemilik galeri lukisan. Keduanya memang saling kenal dengan baik.


            Kemudian tentang saksi kedua. Orang itu adalah penanggung jawab lapangan dari pihak EO yang menyelenggarakan pameran. Dia tahu betul keadaan seluruh gedung, dan sering melakukan pengecekan lukisan-lukisan – dan juga dalam halsetting tempat yang ada di gedung. Dia adalah orang kepercayaan pimpinan EO, sehingga leluasa dalam akses ke tiap-tiap lukisan yang dipamerkan.

Hamid kemudian menunjukkan foto saksi pria yang ternyata bernama Beben itu. Pria dengan wajah putih dan perawakan kurus itu memiliki tampang yang cukup maskulin. Gaya rambutnya yang mohawk plus telinga kirinya yang bertindik – membuat efek maskulin pria itu tampak semakin jelas.


            Saksi berikutnya adalah, seorang security di gedung bernama Maman. Dia dijadikan saksi karena dia bertugas tepat pada saat jam hilangnya lukisan super mahal itu. Waktu itu dia bertugas di shift malam. Ciri-cirinya sesuai di foto adalah berkulit sawo matang, dan memiliki rambut sedikit ikal.


            Dan saksi terakhir, dia adalah seorang pria bernama Memet. Dia adalah seorang cleaning service atau petugas kebersihan yang bertugas di gedung. Dialah yang pertama kali memberitahukan kepada yang lain – kalau ada lukisan yang hilang. Ciri-cirinya adalah bertubuh kurus, putih dan rambutnya pendek.

            Waktu itu si Memet menemukan sebuah bingkai lukisan yang ternyata telah kosong, tergeletak di depan pintu ruangan tempat lukisan di simpan. Kebetulan si Memet ini kena shift pagi, yaitu dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Saat baru datang, dia menemukan bingkai kosong tersebut, dan langsung melaporkannya kepada security dan penanggung jawab lapangan.




          “Wow, jadi lukisan itu hilang – tapi bingkainya tidak ikut ya mid?” Tanya Ali dengan heran.

          “Yeah, begitulah yang dikatakan oleh mbak Eka,” jawab Hamid. “Jadi, yang hilang Cuma kain kanvas lukisannya saja, gan.”



…………………………………



           Suasana di meja bundar tampak tak seramai biasanya. Si Togar yang duduk di samping Ali tidak terlalu banyak bicara. Dia tengah serius menulis-nulis sesuatu di kertas corat-coretnya. Entah apa yang ditulis oleh remaja berdarah Medan itu.

           Selanjutnya si Hamid menunjukkan foto lukisan yang hilang itu. Di layar laptop terlihat sebuah lukisan berbingkai kayu dengan gambar tiga tangkai bunga yang sangat besar, namun tampak tak jelas. Lukisan yang tak terlalu jelas itu bernama Rafflesia Arnoldi.

         “Hedehh.. Lukisan kayak gini kok harganya mahal?!” Protes Ali. “Ini sih lebih tepatnya coretan anak-anak SD yang tak terlalu jelas bentuknya,” ejek si Ali pasca melihat bentuk lukisan berharga 20 miliar itu.

         “Jangan salah, gan. Ini yang namanya lukisan abstrak,” jelas Hamid. “Bahkan ada yang lebih ‘abstrak’ dari ini, tapi harganya lebih mahal,” sambung remaja bertubuh gempal itu.

        “Ternyata selera orang memang aneh, ya. Lukisan sejelek ini harganya selangit. Bagusan gambaran adek gue yang masih balita, huuft..” Ali masih tak terima dengan tingginya harga lukisan abstrak itu.


        “Nah, sekarang foto terakhir,” seru Hamid sambil menggerakkan mouse di laptopnya. “Ini dia.. Foto posisi lukisan itu sebelum hilang.”

        Ali dan Togar menyaksikan foto itu dengan seksama. Tampak foto itu dipotret dari pintu depan sebuah ruangan. Mungkin semacam ruang penyimpanan lukisan.

        “Siapa yang mengambil foto itu?” Tanya Togar. Akhirnya dia buka suara setelah tadi asyik dengan kertas coretannya.

        “Kata mbak Eka sih, diambil oleh Pak Andre, pimpinan Event Organiser yang menyelenggarakan pameran,” jawab Hamid.

        Togar kemudian mendekatkan wajahnya ke laptop. Kali ini dirinya menatap foto itu dengan lebih seksama. Dia berusaha mencari petunjuk sedetail mungkin dari foto lukisan itu.

        Terlihat lukisan itu berada di sebuah ruangan penyimpanan dalam keadaan tertempel di dinding, berjejer bersama lukisan-lukisan lainnya.

        “Apakah di ruangan itu ada CCTV nya?” tanya Togar

        “Sepertinya tidak terpasang, gan. Masalahnya jumlah CCTV di gedung itu tidak terlalu banyak. Dan semua CCTV itu terpasang di titik-titik yang lebih strategis, seperti di ruang utama,  di pintu masuk dan keluar gedung yang jumlahnya sangat banyak, di halaman dan di pintu parkir.”

        “Wah.. sebuah kecerobohan besar,” gerutu Togar. “Masa’ di ruangan yang ada benda bernilai miliaran tidak dipasangi CCTV. Benar-benar bodoh mereka itu,” sambung pria berlogat batak itu dengan geram.

        “Ya, begitulah,” tukas Hamid sependapat. “Jadi apa yang kita lakukan selanjutnya,gan? Ini harinya sudah mulai sore nih,” keluh si Hamid. Matanya sesekali melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore lewat sedikit.


Togar kemudian menerangkan rencananya kepada kedua temannya yang masih setia nongkrong di meja bundar.

           “Mulai besok, kita langsung bergerak!” tegas si Togar.

           “Bergerak ke mana?” Tanya si Ali. “Trus Apa dong tugas gue?”

           Togar kemudian mengambil kertas corat-coret yang tadi asyik dia corat-coret.. Dirinya kemudian menyobek kertas itu menjadi dua bagian dan menyerahkan masing-masing sobekannya kepada Ali dan Hamid.

          “Tugas kalian tertulis di sana,” tukas si Togar. “Intinya mulai besok kita akan berpencar!

          “Ali, tugas kau besok adalah pergi ke Gedung pameran lukisan. Saat itu pameran sedang berlangsung. Selidiki keadaan di sana! Jangan lupa juga kau ambil foto sebanyak-banyaknya, Ok?” Ali mengangguk setelah mendengar arahan si Togar.

          “Hamid, kau nanti sore naik ke atap ruangan ini!” tukas si Togar. “Nanti kau perbaiki antena pemancar radio di atas sana. Mulai besok pagi, kita akan berkomunikasi jarak jauh saja – lewat walkie talkie,” jelas si Togar lagi. “Lumayan kan, bisa menghemat pulsa. Daripada kita pakai ponsel, hehehe.” Hamid dan Ali pun mengangguk tanda setuju.

          “Selanjutnya kau bersiaga di sini saja, kawan,” tambah si Togar kepada Hamid. “Nanti akan banyak informasi yang harus kau cari lewat internet.”

         “Ok ok, gan,” jawab si Hamid.

         “Trus tugas ente apa, gan?” Tanya Hamid kepada Togar.


         Togar kemudian menarik nafas panjang-panjang.

        “Besok, aku akan pergi ke kantor polisi,” jawab si Togar singkat.

        “Lah.. ngapain lu di kantor polisi?” Tanya Ali heran.


Togar kembali menghela nafasnya.

           “Besok aku mau....  Kencan sama mbak Eka,” kata si Togar dengan wajah polos dan tanpa dosa.

“HAAH?! APAA?!” Seru Ali dan Hamid secara bersamaan. Keduanya tampak tak terima dengan pembagian tugas yang tak adil itu.




(Bersambung...............)



Baca cerita selanjutnya di:


Detektif Kocak A2G (Bab 4): Lima Hari yang Lalu...




Author:
Ajie Fabregas

Baca Juga:
Baca Juga
> Jual eBook bisnis online kekinian Rp25.000, bisa bayar via pulsa [LIHAT]