Skip to main content

Detektif Kocak A2G (Bab 5): Empat Hari yang Lalu...

5. EMPAT HARI YANG LALU..

Sebelum membaca bab ini, kamu DISARANKAN untuk membaca:

[Sinopsis dan Daftar Isi] Detektif Kocak A2G: "Hilangnya Lukisan Berharga 20 Milliar"


Baca cerita sebelumnya di:

Detektif Kocak A2G (Bab 4): Lima Hari yang Lalu...


baca enovel detektif kocak a2g bab 5 empat hari yang lalu



“HAHAHAHAA...!!” Hamid dan Ali tertawa terpingkal-pingkal di atas sofa di dalam kantor A2G. Mereka terus menertawakan si Togar yang terpaksa ‘menggadaikan’ ponselnya – demi makan siang dengan briptu Eka. Dan sampai sekarang dia belum juga ‘menebus’ benda berharga miliknya itu.

“Ah, sudah lah kawan-kawan,” tukas Togar kemudian. “Hidup itu memang perlu pengorbanan,” sambung remaja berlogat batak itu dengan nada santai. Tapi yang jelas, di dalam hatinya pasti tersimpan rasa kecewa yang mendalam lantaran ponselnya harus tergadai. Beruntung briptu Eka tidak melihat kejadian itu. Kalau sampai itu terjadi, maka tak terbayang betapa malunya si Togar dihadapan polwan cantik itu.

“Hahaha.. Pengorbanan yang luar biasa, gan,” Hamid menimpali sambil tertawa cekikikan.

“Betul sekali, Mid,” sahut si Ali. “Gue gak nyangka si Togar rela makan siang mahal-mahal demi si dia. Buat kite-kite kapan niih?” Tambah remaja bertubuh kecil itu dengan nada menyindir.

“Sudahlah, kawan,” sahut si Togar. “Itu tak penting sama sekali untuk dibahas,” sambungnya dengan wajah acuh. Dia kemudian berjalan menuju ke meja bundar yang ada di belakang kursi sofa – diikuti oleh Ali dan Hamid yang mengerti akan maksud si Togar. Seperti biasa, di meja bundar itulah ketiganya akan berdiskusi untuk membahas kasus yang sedang mereka hadapi.

“Yang penting sekarang adalah – kita akan segera melihat ‘pesanan’ yang aku pesan dari mbak Eka,” tukas si Togar. “Sebuah pesanan khusus yang akan kita simak dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.



“Bisa kupinjam laptop kau mid?” Pinta si Togar kepada si Hamid.

“Oke,” jawab Hamid seraya berjalan menuju lemari yang ada di pojok ruangan. Dia kemudian mengambil laptopnya yang memang tersimpan di sana.

“Nihh,” kata si Hamid seraya menyerahkan laptopnya kepada si Togar.

“Oke, baiklah...” tukas Togar seraya meletakkan laptop itu di atas meja bundar. Dia kemudian membuka laptop itu dan mengetikkan sesuatu.

“Naahh, ada!” Seru si Togar kemudian.

“Mana gue lihat,” seru si Ali seraya melihat ke layar laptop. “Wah, ada email dari mbak Eka. Tumben sekali,”

“Pesananku telah datang,” gumam si Togar.
            
            “Memangnya lu sudah mesan apa, Gar?” Tanya Ali heran.
            
            “Nih, kau lihat saja sendiri,” jawab si Togar sambil menunjukkan sesuatu kepada kedua temannya itu.

Togar kemudian membuka file kotak masuk di emailnya. Di sana ada Email masuk yang berasal dari briptu Eka. “Lihatlah, ada ada 3 buah foto yang kemarin ‘kupesan’ dari mbak Eka. Kalian bisa lihat sendiri,” sambung remaja berlogat batak itu sambil menunjukkan 3 foto yang dikirim briptu Eka. Tampak di layar laptop ada foto sebuah bingkai lukisan yang kosong – alias tidak ada lukisan di dalamnya, kemudian ada foto potongan plastik mika berukuran beberapa sentimeter dan terakhir, foto sebuah kartu nama seorang pembuat tato.
            
            
            “Apa maksud dari ketiga foto ini, gan?” Tanya Hamid heran. “Ada hubungannya dengan kasus pencurian lukisan?”
            
            “Tentu saja, kawan!” Jawab si Togar. “Ketiga benda inilah yang ditemukan di TKP, saat lukisan hilang. Sebelumnya yang kita tahu kan Cuma bingkai lukisan kosong saja. Namun, sebenarnya ada dua benda lagi yang ditemukan bersamanya. Yang mengherankan adalah, kedua benda itu sepertinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan lukisan yang hilang. Seperti yang kalian lihat – ada potongan plastik mika dan kartu nama seorang pembuat tato. Kedua benda itu sepertinya tidak berkaitan dengan lukisan, namun kemungkinan –  kedua benda itu mengandung petunjuk yang tersembunyi dan perlu kita kupas secara tuntas,” jelas Togar. Kali ini terlihat jelas, wajah remaja itu tampak antusias dan matanya berbinar-binar. Semakin sulit suatu kasus, maka remaja berdarah batak itu semakin bersemangat untuk memecahkannya.
            
            “Bisakah kau simpan foto ini, kawan?” Pinta si Togar kepada si Hamid. Kalau untuk urusan riset, pengumpulan data, serta penyimpanan arsip – adalah tugas dari remaja dengan tubuh paling gempal itu.

Perlu diingat lagi, tiap-tiap anggota A2G memiliki spesialisasi dan tugas yang berbeda-beda. Kalau Togar adalah ‘otak’nya A2G – trus Ali adalah ‘petugas lapangan’nya – lain lagi dengan si Hamid. Remaja bertubuh gempal itu adalah ‘inventory’nya A2G. Jadi, wajar saja kalau A2G terlihat sangat solid karena tiap-tiap anggotanya punya kelebihan masing-masing. Dan ketiganya saling melengkapi.


           
            “Tentu saja, gan,” jawab Hamid sambil mengetikkan sesuatu di laptop miliknya – semacam password. Dia kemudian menyimpan ketiga foto tadi – ke dalam folder miliknya yang bernama ‘Kasus Pencurian Lukisan 20 Milyar’. Di dalam folder itu terkumpul semua file yang berhubungan dengan kasus yang sedang mereka hadapi. Misalnya saja foto-foto para saksi,  catatan-catatan dari si Ali yang kemarin melakukan penyelidikan langsung di TKP, kemudian ada juga data-data hasil riset dari si Hamid, arsip kasus-kasus terdahulu dan lain sebagainya.
           
            “Oh iya, Mid. Aku hampir lupa menanyakan ini,” kata Togar lagi. “Apakah kau sudah memperbaiki antena pemancar kita?” Tanyanya kepada Hamid.
           
            “Sudah dong, gan,” jawab Hamid. “Tapi maaf sekali, gan – agak sedikit lebih lama ane memperbaikinya. Kemarin ada kesalahan teknis sedikit, jadinya perbaikan memakan waktu sampai jam 6 sore,” sesal Hamid.

Hamid kemudian teringat kejadian semalam, ketika salah satu bagian antena yang sedak diperbaikinya terjatuh, kemudian menimpa atap rumah tetangganya. Jatuhnya benda itu membuat si pemilik rumah kaget, kemudian langsung marah-marah. Hal itu membuat Hamid menjadi enggan untuk mengambil bagian dari antena pemancar yang jatuh itu. Alhasil dia pun harus mengganti bagian yang ‘hilang’ itu dengan yang baru, sehingga memakan waktu lebih lama untuk mencarinya di dalam ruko milik orang tuanya itu.
            
            “Hu-uhh, pantas saja gue kemarin pas siang-siang gak bisa makai tu walkie talkie,” gerutu Ali. “Ternyata antena pemancarnya masih belum diperbaiki, ya..?!”
            
            “Iya iya. Maafin ane, gan,” sesal si Hamid. “Tapi tenang saja, gan. Sekarang walkie talkie kita sudah siap untuk dipakai. Apalagi si Togar kan ponselnya lagi ‘digadaikan’. Pastinya bakalan perlu banget ama tu walkie talkie,” sambung remaja bertubuh gempal itu dengan nada menyindir. “Ya kan, gar?”
            
           “Hedeehh, lagi-lagi kau mengungkit hal itu,” tukas si Togar dengan wajah masam. “Itu tak usah diomongkan lagi laah..”



“Oh iya Ali,” seru si Togar. “Bagaimana hasil penyelidikan dan  ‘penyamaran’ kau kemarin? Sudah kau catat kan?” Togar menagih ‘laporan’ yang belum disampaikan si Ali – pasca ‘tugas lapangan’. Berhubung kemarin walkie talkie masih belum bisa difungsikan dengan baik.
           
            “Tenang saja, Gar,” pungkas Ali dengan santai. “Semua hal yang gue lihat – sudah gue catat dan gue simpan. Semuanya ada di filenya si Hamid."

            “Ya, semuanya ane satukan dalam satu folder,” timpal si Hamid. “Seperti biasanya.”

            “Bagus, kawan!” seru si Togar tersenyum puas. “Nanti kalau semua bukti dan juga file-file sudah lengkap – laptop milik kau aku pinjam ya? Untuk analisa yang lebih teliti dan lebih seksama lagi.”

            “Beres, gan!” Jawab Hamid.


“Jadi, apa lagi yang harus kita lakukan, gan? Apakah ente memiliki petunjuk lagi untuk langkah kita selanjutnya?” Tanya Hamid kepada ‘otak’nya A2G.



            Togar kemudian berfikir sejenak. Dia memikirkan langkah apa yang selanjutnya dilakukan oleh dirinya dan timnya. Tangannya mengusap-usap dagunya, seperti gaya seorang detektif pro. Wajahnya nampak serius.

Setelah beberapa menit berfikir, si Togar kemudian  menghela nafasnya.

            “Baiklah..” gumam si Togar. “Setelah kupikirkan baik-baik.. Seharian ini, sebaiknya kita cukup berada di kantor ini saja.” sambungnya. “Kita akan menyimak ‘pesanan’ku yang satunya lagi. Pesanan kali ini jauh lebih penting dari yang sebelumnya,” tukasnya lagi. Terlihat raut wajah Ali dan Hamid tampak penasaran dan ingin tahu isi dari ‘pesanan’ yang dimaksud.

“Coba kalian lihat ini, kawan!” Togar kembali menggunakan laptopnya si Hamid. Dia kemudian membuka file selanjutnya – kiriman dari briptu Eka melalui Email tadi.

Kali ini kiriman dari briptu Eka bukan lagi dalam bentuk foto – melainkan dalam bentuk catatan suara. Togar kemudian menjelaskan, kalau ‘pesanan’nya kali ini adalah sebuah percakapan penting, yaitu interogasi yang dilakukan briptu Eka kepada salah satu saksi yang bernama Beben. Hal itu sesuai dengan permintaan si Togar kemarin, sewaktu di kafe. Dia ingin menyelidiki lebih dalam tentang sosok Beben itu.

            

           “Wow! Rekaman interogasi ya?!” Seru Ali. “Sepertinya akan sangat menarik!”

            “Beben itu yang rambutnya mohawk itu ya, gan?” timpal Hamid seraya mengingat-ingat.

            “Betul sekali,” jawab Togar. “Saat ini kecurigaan ku sedikit mengarah ke dia, sebab briptu Eka bilang – si Beben itu punya tato di lengannya. Mungkin saja ada hubungannya antara si Beben itu dengan salah satu barang bukti di foto, yaitu sebuah kartu nama seorang pembuat tato. Yang terpenting, sekarang aku ingin mendengarkan keterangan dari orang itu. Semoga saja ada petunjuk lainnya yang akan tampak,” harap Togar. Dia kemudian memutar rekaman suara antara Beben dan briptu Eka itu. Dan ketiga remaja itu pun bersiap untuk menyimaknya 'dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya'.



*(Suara rekaman)

Briptu Eka: “Selamat siang, mas.”

Beben       : “Met siang juga, mbak.

Briptu Eka: “Maaf sudah mngganggu anda di acara pameran ini.”

Beben       : “Iya gakpapa kok.
“Eke juga gak sibuk-sibuk amat cyinn.

Briptu Eka: “Woww?!”

Beben       : “Kenapa mbak? Ada yang salah ama diri eke?”

Briptu Eka: “O-ooh.. Eng-Enggak ada...
“A-anu.. Bolehkah aku bertanya beberapa hal?

Beben       : “Boleh saja, cyinn.. Memangnya mau tanya apa ke eke?

Briptu Eka: “Nnnggg.. A-anu, saya mau tanya perihal tentang kasus hilangnya lukisan – atau lebih 
tepatnya pencurian atas lukisan beberapa hari yang lalu?
“Bisakah anda menjawab semua pertanyaan yang akan saya ajukan ke anda?”

Beben       : “Hedeeh.. soal kasus itu ya, bo?! Eke sudah pucing cing cing ciing mikirinnya! Secara ye, eke ini gak tau apa-apa, bo! Walaupun eke yang jadi penanggung jawab lapangan, sumpeh lo kalau eke memang gak tau apa-apa sama tu lukisan, cyin. Amit-amit eke cyiin..”
  
"ZZZttt..."
   

            Tiba-tiba suara dari rekaman itu berhenti mendadak.

            Rupa-rupanya si Hamid memilih tulisan ‘pause’ yang ada di layar laptopnya.


            “Maafin ane, gan,” tukas si Hamid. “Ane pause dulu ni rekaman, soalnya ane benar-benar gak tahan lagi niih.. Ane bener-bener pengen ketawa," tampak wajah Hamid seperti menahan ketawanya yang sudah tak bisa ditahan lagi..


           "HUAHAHAHAHHAAHAAA!”

           Remaja bertubuh gempal itu tertawa lepas. Dia melepaskan tawanya yang tadi tertahan, lantaran gaya bicara Beben yang terdengar sangat menggelitik. Sesuatu yang benar-benar tak disangka olehnya.
  
          “Sama, gue juga... HAHAHAHAHAHAHAAA!!” Ali ikut-ikutan tertawa. Suaranya lebih nyaring lagi.

            “Aku juga, kawan-kawan!!” Seru si Togar menimpali. “Tu orang, benar-benar cucoo cyiinn... HUAHAHAHAHAHAAA!!” Remaja berlogat batak itu ikut tertawa terpingkal-pingkal.

Alhasil, ketiga remaja itu tertawa bersama setelah mendengar rekaman pembicaraan itu. Ketiganya tak menyangka akan suara si Beben yang terdengar lucu dan bikin bulu kuduk merinding.

            

           “Hedehh.. Gue bener-bener gak nyangka,” tukas Ali setelah puas tertawa. “Tu orang tampang maskulin, rambut mohawk, trus rada sangar gitu.. Eh ternyata, lekoong boo, HAHAHAHA!!” lagi-lagi Ali tak bisa menahan tawanya tiap kali teringat gaya bicara pria berwajah sangar itu.

            “Ane juga bener-bener gak nyangka, gan. Tampang laki, pas ngomong ketahuan kalau dia banci, HAHAHAHAHA!!” Hamid menimpali sambil terus menertawakan suara pria bertampang maskulin – tapi ternyata feminim itu.

            “Hahaha, sudah-sudah, kawan,” seru Togar masih dengan isak tawanya. “Aku juga gak mengira kalau pria sangar itu ternyata cuco seperti itu. Sepertinya mbak Eka juga tadi tidak menyangka...” Raut wajah Togar masih geli lantaran suara Beben barusan.



Togar kemudian melanjutkan, “tapi sekarang, kita harus melanjutkan rekaman tadi. Mungkin ada petunjuk yang tersembunyi di sana,” kali ini raut wajah Togar nampak serius kembali. Walau dalam hatinya masih terasa geli.

            “Siap-siap untuk menahan tawa lagi,” gumam si Ali.

            “Oke, gan! Ane juga siap,” timpal Hamid.

            Togar kemudian langsung menekan tombol ‘play’ di file rekaman tadi. Dia mulai menyimak lanjutan percakapan yang tadi terhenti sejenak, lantaran adanya ‘kesalahan teknis’.



            Rekaman kembali diputar, dan percakapan briptu Eka dan Beben pun dilanjutkan. Terdengar di sana suara briptu Eka yang terus bertanya, dan dijawab oleh si pria bernama Beben itu. Nada suaranya masih sama, yaitu cucoo, ciin.

            Dengan sekuat tenaga si Togar berusaha keras untuk menahan tawanya ketika mendengar celotehan si Beben. Remaja asli Medan itu berusaha untuk menyimak isi dari percakapan atau lebih tepatnya interogasi – yang dilakukan oleh briptu Eka.

Walaupun isi dari percakapan sangat melenceng – lantaran celotehan si Beben yang terkadang tidak  nyambung, tapi Togar tetap berusaha untuk memahaminya dengan sekuat tenaga.

            Sementara itu, si Ali dan si Hamid masih tak bisa menahan diri. Keduanya hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal seperti sebelumnya. Saking lucunya, bahkan membuat kedua remaja itu sampai terbaring-baring di lantai dekat meja bundar. Mereka (masih) tak bisa menahan tawa, ketika mendengar celotehan-celotehan yang keluar dari mulut si Beben. Ampyuun cyiiin....




(Bersambung...............)



Baca cerita selanjutnya di:


Author:
Ajie Fabregas

Baca Juga:



Baca Juga
> Jual eBook bisnis online kekinian Rp25.000, bisa bayar via pulsa [LIHAT]