Skip to main content

Detektif Kocak A2G (Bab 8): Satu Hari yang Lalu...

8. SATU HARI YANG LALU...

Sebelum membaca bab ini, kamu DISARANKAN untuk membaca:


Baca cerita sebelumnya di:


bab 8 enovel detektif kocak a2g cerita detektif indonesia



            
Pagi hari di hari senin. Togar dengan cepat menggeber motor sport merahnya. Di belakangnya ada Ali yang berpegangan sangat erat. Togar kemudian menatap jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 06.00 pagi. Jalanan pun sangatlah sepi.
            
Kali ini dia bersama Ali dengan cepat menuju ke rumah salah satu saksi. Hanya dengan bermodalkan print goggle earth dari si Hamid, keduanya mencari alamat dari pak Bondan yang letaknya beberapa kilometer dari markasnya A2G.
            
Tujuan Togar bukannya ingin ‘menangkap’ pria berwajah aneh itu. Tujuannya adalah ingin ‘menyelamatkan’ pak Bondan dari sergapan para polisi. Loh, apa yang sebenarnya terjadi?
            
Usut punya usut, rupanya subuh tadi sekitar pukul 05.00 ada telepon mendadak dari briptu Eka. Dia mengatakan, kalau pihak kepolisian sudah menetapkan pelakunya, yaitu pak Bondan. Rupanya polisi baru saja menyadari ‘kejanggalan’ yang ada di koper milik pria berkepala botak itu. Dan mereka langsung ingin menangkap pak Bondan.
            
Mendengar penjelasan briptu Eka itu, membuar si Togar langsung ambil tindakan cepat. Analisa polisi jelas salah, karena dirinya sudah tau apa yang terjadi. Dan pak Bondan bukanlah pelaku dari kasus pencurian lukisan itu. Togar pun semakin mempercepat laju motornya, sementara si Ali makin mengencangkan pegangannya ke pinggang si Togar. Keduanya layaknya orang pacaran yang sedang berkendara bersama.
           
            

Sekitar 30 menit lamanya perjalanan, sampai akhirnya kedua remaja itu tiba di depan rumah pak Bondan. Hanya bermodalkan print google earth dari si Hamid, keduanya tidak perlu bertanya kepada orang sekitar yang memang tak terlihat sama sekali. Tampak sebuah rumah besar berpagar tinggi kini ada di hadapan Togar dan Hamid. Keduanya nampak terkagum-kagum melihat rumah besar itu.

Togar kemudian mengintip dari balik pagar besar itu. Alangkah terkejutnya dia, lantaran ada satu ekor anjing buldog tengah bersiaga. Wajahnya terlihat menyeramkan dengan disertai gigi-gigi yang tajam. Semua itu membuat Togar dan Ali menjadi sedikit ragu untuk melangkah lebih jauh lagi. Keduanya bergidik karena ngeri melihat sangarnya wajah tu anjing buldog.


Sementara hari semakin terang dari sebelumnya, lantaran si Togar dan Ali yang belum juga bertindak. Keduanya benar-benar takut dengan yang namanya anjing.

“Lu, aja gar yang masuk duluan,” bisik si Ali.

“Laah, kau ini bagaimana? Kau lihat sendiri kan tu ada anjing serem di depan rumah,” Togar terlihat sedikit putus asa. Dia begitu fobia dengan yang namanya anjing.

“Sama, gue juga,” bisik Ali. Dia memang takut dengan anjing, namun tak separah si Togar yang tingkat fobianya lumayan mengkhawatirkan

“Waduhh.. jadi bagaimana ini?” Sahut Togar bingung.

“Gak tau,” jawab Ali singkat.

“Bagaimana kalau kau jadi pengalih perhatian tu anjing, lalu aku yang masuk ke dalam rumah untuk menemui pak Bondan,” Togar memberikan usulan secara sepihak.

“Wah, lu aja,” kali ini Ali  tak mau menuruti.

Togar kemudian menghela nafasnya.

“Bagaimana kalau kita suit?” Togar memberikan usulan.

“Boleh,” sahut si Ali.

Keduanya pun suit. Dan pemenangnya adalah.... Si Togar yang menggunakan ‘batu’ mengalahkan Ali dengan ‘gunting’ nya.

“Yeee, aku menang,” seru si Togar dengan gembira. Padahal dia memang sudah yakin menang, karena dia bisa membaca kebiasaan si Ali yang selalu mengawali suit dengan ‘gunting’nya.

“Ah, siaal!!” Sesal si Ali. Dirinya harus menerima kenyataan untuk menjadi ‘umpan’ bagi si buldog itu.

Dengan agak gugup, si Ali kemudian membuka pagar yang kebetulan tak terkunci. Perlahan-lahan dia membukanya sampai akhirnya pintu pagar itu terbuka semuanya. Si Ali langsung melakukan tingkah laku aneh, guna ‘mengolok-olok’ anjing penjaga rumah itu. Dan si buldog itu pun terprovokasi. Dengan cepat buldog itu berlari untuk mendatangi si Ali yang berada di depan pintu pagar.

“Selamat berjuang, gar!” Seru Ali sembari berlari dan dikejar oleh anjing penjaga rumah. Ali pun semakin menjauh dikejar-kejar anjing itu. Larinya semakin kencang. Tampak gelagat Ali begitu ketakutan dengan anjing berwajah menyeramkan itu

“Seharusnya aku yang mengucapkan itu,” gumam si Togar sambil tertawa kecil. “Baiklah, saatnya menjalankan misi!” Gumamnya lagi seraya berjalan masuk ke dalam halaman rumah besar itu.

“Selamat pagi.. Apa ada orang!” Seru Togar seraya mengetuk pintu rumah bercat hijau itu. Kemudian terdengar langkah kaki berat dari dalam ruangan yang terdengar mendekati pintu.

Pintu pun terbuka. Terlihat sosok pria berbadan gempal, berkepala botak dan berkumis tanpa memakai kacamatanya. Namun, tetap saja wajah orang bernama pak Bondan itu terlihat aneh di mata si Togar.

“Hei, kau wartawan yang waktu itu!!” Seru pak Bondan. “Ada urusan apa kau ke sini?” Tanyanya dengan suara yang keras.

“A-anu, pak. Sebelumnya aku minta maaf atas kejadian itu,” sesal si Togar. “Kedatangan ku kemari, aku mau ‘menyelamatkan’ bapak,” sambung remaja berlogat batak itu seraya tersenyum ke arah pak Bondan.

“Hah?! Menyelamatkan?! Memang ada yang mau membunuhku?”

Togar kemudian menghela nafasnya.

“Tidak ada yang mau membunuh bapak,” tukas Togar. “Hanya saja, para polisi sebentar lagi mau menangkap bapak. Menurut informasi yang saya dapat, bapak telah ditetapkan sebagai pelaku pencurian lukisan di pameran itu. Untuk itu, saya datang kemari pagi-pagi begini sebelum mereka datang – untuk ‘menyelamatkan’ bapak dari sergapan mereka sebentar lagi.”

“Kau pasti pembohong!!” Bentak pak tua itu. “Mana mungkin aku bisa mempercayaimu!!”

“Baiklah, mungkin ucapanku ini akan membuat bapak percaya,” kata Togar dengan nada tenang. “Pak Bondan ini pasti adalah seorang agen rahasia yang sedang menyelidiki kasus pencurian lukisan di pameran, benarkan?”

Pak Bondan langsung terdiam. Raut wajahnya tampak terkejut. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh si Togar.

“Darimana kau tahu itu?” Tanya pria tua itu, kali ini dengan nada yang lebih halus.

“Dari koper,” sahut si Togar. “Koper yang selalu anda bawa sebenarnya adalah koper dengan dua pintu. Pintu A sebagai kamuflase dan isinya adalah uang yang sangat banyak. Sedangkan pintu B adalah tempat untuk menyimpan peralatan penyelidikan anda,” jelas si Togar. “Dan kedua pintu itu menggunakan kombinasi angka yang berbeda.”

Pak Bondan kembali terdiam. Namun, terlihat jelas raut wajahnya masih belum percaya dengan si Togar.

“Satu lagi,” pungkas si Togar. “Rupanya anda tidak hati-hati dalam memakai rompi anti peluru. Tuh bagian bawahnya sampai kelihatan menyembul,” sambung remaja itu seraya menunjuk ke arah bagian bawah bajunya pak Bondan.

Pria tua itu kemudian menyadari kecerobohannya dalam memakai rompi anti peluru. Dengan cepat dia membetulkan kesalahannya itu.

“Baiklah,” gumam pak Bondan. “Namamu siapa, nak?”

“Nama aku Togar pak. Togar Sidabutar,” sahut si Togar dengan mantap.

Pak bondan kemudian menghela nafasnya.

“Baiklah, aku percaya padamu, nak. Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan?”


Sementara Togar berhasil meyakinkan si pria tua, si Ali justru tengah berlari tanpa arah dan tujuan yang jelas. Padahal sudah setengah jam dia berlari tanpa henti, namun tak terlihat lelah. Rupanya anjing buldog yang galak itu tak henti-hentinya mengejarnya. Membuat Ali terengah-engah dan hampir kehabisan nafasnya.

“TOLONGIN GUEE!!” Teriak si Ali sambil terus berlari. Suaranya menggema sampai seantero planet..




(Bersambung...............)


Baca cerita terakhir di:
Detektif Kocak A2G (Bab 9): JUDGEMENT DAY!

Author:
Ajie Fabregas

Baca Juga:
Baca Juga