Skip to main content

Lovers, Haters dan Media Adalah 'Syarat Wajib' Seorang Public Figure

Mungkin judul artikel ini terkesan berlebihan. Namun berdasarkan riset dan pengamatan kami, memang betul kalau lovers, haters dan media merupakan 'syarat wajib' bagi seorang public figure. Tanpa adanya ketiga unsur tersebut, maka seorang public figure tak akan terkenal dan dibicarakan.

lovers, haters, media untuk public figure
©Pixabay/dinokfwong


Mungkin kita bisa mengubah kata 'syarat wajib' menjadi 'hal yang wajar'. Jadi judulnya berganti menjadi: Lovers, haters dan media merupakan 'hal yang wajar' bagi seorang public figure.

Kenapa di anggap hal yang wajar?

Jawabannya adalah karena ketiga instrumen di atas (lover, haters dan media -red) merupakan 'penyebab' seorang public figure semakin dikenal. Istilahnya, keberadaan ketiganya membuat nama seorang public figure bisa terangkat.

Ketika kita bicara mengenai lovers, haters dan media, maka ketiga-tiganya memiliki kesamaan, yaitu 'pembuat bahan pembicaraan'. Untuk lovers, merupakan 'pembuat bahan pembicaraan' yang sifatnya positif. Kemudian untuk haters, 'merupakan pembuat bahan pembicaraan' yang negatif. Terakhir, media -- merupakan 'pembuat bahan pembicaraan' yang menyampaikannya secara lebih luas, sehingga bisa diketahui oleh banyak orang. Untuk 'bahan pembicaraan' media ini biasanya tak konsisten -- bisa positif dan bisa negatif. Semua tergantung 'tren' yang tengah berkembang, yang bisa dijadikan 'makanan' bagi media-media saat ini.

Kesimpulannya, nama seorang public figure akan terangkat, baik karena berita positif maupun berita negatif. Apabila hal itu sudah menjadi 'trending' dan 'tercium' oleh media, maka siap-siap sang public figure akan dikenal lebih banyak orang. Apalagi ada banyak orang yang masih belum tahu dan mereka ingin tahu akan sensasi atau prestasi yang menimpa si public figure, semakin membuat media 'menggoreng' berita menjadi sesuatu yang kadang dilebih-lebihkan.


Dampak Negatif

Kalau 'bahan pembicaraan' datang dari lovers, maka hal ini bukanlah sesuatu yang negatif. Pasalnya yang dibicarakan adalah prestasi dan berita positif tentang si public figure. Lain halnya kalau yang membicarakan adalah haters, maka yang muncul adalah kabar-kabar negatif dari si public figure.

Ketika kabar negatif menjadi 'tren', maka media pun turut ambil bagian untuk 'meramaikan' kabar tersebut. Alhasil, kabar negatif pun tersebar luas dan membuat banyak orang yang membicarakan si public figure. Membicarakan di sini adalah membicarakan keburukan dan sensasi yang ditujukan kepada si public figure.

Selanjutnya, yang muncul bukanlah pujian dan sanjungan -- melainkan hujatan dan cacian. Haters pun tertawa karena figure yang 'dibencinya' dihujat oleh orang banyak.


Bagaimana menyikapinya?

KETEGASAN adalah hal yang wajib dilakukan untuk merespon tindakan seorang HATERS yang berlebihan. Kita acungi jempol, bagaimana tindakan tegas yang dilakukan oleh Prilly Latuconsina dan Deddy Corbuzier terhadap haters mereka yang sudah keterlaluan (silahkan googling sendiri -red). Menurut keduanya, itu bertujuan untuk menimbulkan efek JERA, agar haters yang lain takut untuk melakukan hal serupa. Alhasil, ketegasan merupakan solusi untuk 'meredam' haters yang sudah di luar kontrol.

Kemudian media juga harus bisa memberikan pemberitaan yang berimbang. Jangan sampai memberitakan sesuatu secara berlebihan dan tak sesuai dengan data dan fakta. Hal itu bisa mengarah kepada fitnah dan tentunya bisa menjatuhkan nama si public figure.

Media harus kembali 'berkaca' kepada media di masa lalu. Beberapa puluh tahun yang lalu, sifat media adalah memberikan berita sesuai data dan fakta dengan tujuan memberikan informasi terpercaya kepada masyarakat. Tak seperti sekarang, sifat media justru lebih mengarah kepada alat propaganda, alat pencitraan, alat untuk 'menjatuhkan lawan', alat politik dan masih banyak lagi. Jadi untuk media, kembalilah menjadi media yang independen dan tak memihak dan menjatuhkan siapapun.


Penutup

Memang betul, keberadaan lovers, haters dan media merupakan faktor penting dalam ketenaran public figure. Tapi yang harus diingat, jangan sampai 'pembicaraan' yang terjadi mengarah kepada fitnah, karena didasari kebencian. Karena apabila hal ini terus-menerus terjadi, maka si 'pembicara' harus siap untuk ditindak tegas secara hukum. Jadi, jangan terlalu berlebihan dalam 'memberitakan hal negatif', dan bagi media harus bisa memfilter berita yang belum tentu benar adanya.

Salam!


Kamu ingin menjadi seorang artis atau public figure? Silahkan kamu baca:

5 Syarat untuk menjadi seorang artis

Baca Juga
> Jual eBook bisnis online kekinian Rp25.000, bisa bayar via pulsa [LIHAT]