--> Skip to main content


  

[CERBUNG] D2C: Harta Karun yang Tak Terlihat (Eps. 6)

BAB 6: Sesuatu Yang Janggal

 Sebelum membaca bab ini, silahkan baca dulu bab sebelumnya di:
[CERBUNG] D2C: Harta Karun Yang Tak Terlihat (Eps. 5)


Teka-teki yang sedang dipecahkan Nino dan Jono:

   Berlayar di dunia yang luas namun tak bisa dirasakan
 Harta karun yang sangat berlimpah namun sulit untuk didapatkan
 Dengan kerja keras yang gigih akhirnya semua bisa dikumpulkan
 Namun wujudnya tak bisa dilihat dan dirasakan
 Bagi yang menginginkan, petunjuknya sebagai berikut:
 1. Surat yang sering ku kirimkan namun tak bisa dipegang
 2. Hanya bisa dilihat apabila pergi ke tempat pertama aku bertemu dengan orang yang ku cintai


detektif lokal indonesia


“Hah? Martapura?” Tanya Jono heran setelah mendengar jawaban dari Sisca.
“Yeah, begitulah. Itu jawaban dari kalimat terakhir di teka-teki tersebut,” jelas Sisca.
“Jadi di kota itu Almarhum Pak Hendro pertama kali bertemu dengan kekasihnya – yang kemudian menjadi istrinya?” Kali ini Nino yang bertanya. “Tahu darimana kak?”
“Tahu dari ayahku,” jawab Sisca. “Ayahku adalah teman dari almarhumah istrinya pak Hendro.
     “Informasi yang sangat berharga nih!” Gumam si Jono dengan raut wajah antusias.
“Nahh, sekarang giliran kalian – apa yang kalian dapatkan?” Tanya Sisca kepada kedua bocah yang ada di sampingnya. Di senin sore yang cerah itu -- mereka bertiga tengah berdiskusi di sebuah taman di pinggir sungai yang besar di Banjarmasin. Taman itu terletak di pusat kota – dengan banyak pohon rindang di sana. Tak ada gangguan dalam membicarakan hal-hal yang penting di sana.
“Bagaimana ini?” Bisik Jono kepada Nino. “Kita kan belum mendapatkan apa-apa.”
“Tenang saja,” bisik Nino. “Tadi malam aku mendapatkan jawaban dari kalimat yang lain.”
“Kalian ini suka berbisik-bisik, ya?” Tanya Sisca. “Jadi bagaimana? Apa yang kalian dapat?”
“Begini kak,” tutur Nino. “Aku juga berhasil memecahkan salah satu kalimat dari teka-teki itu. Yaitu kalimat yang isinya ‘Surat yang sering ku kirimkan, namun tak bisa dipegang’ – itu artinya adalah surat yang bentuknya tidak nyata. Surat yang tak ada di dunia nyata – atau bisa dibilang hanya ada di dunia maya. Kesimpulannya, itu adalah Surat Elektronik – atau Email. Bagaimana, kak?”
“Kenapa tak terpikirkan olehku ya?” Tanya Sisca heran. “Berarti yang dimaksud di sana mungkin alamat email milik almarhum Pak Hendro. Ada yang tau alamatnya?”
“Hendro1950@gmail.com,” kata Nino. “Tadi malam aku berhasil mendapatkan informasi email itu dari pamannya Jono, seorang polisi. Aku minta tolong beliau untuk mencari tahu alamat itu. Dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkannya bagi seorang polisi,” jelas Nino.
“Hei, kenapa kau tidak bilang sama aku?” Tanya Jono sedikit kesal. “Pamanku dibawa-bawa.”
“Kan tadi malam kau ketiduran di markas. Jadinya aku tak tega membangunkanmu yang tengah asyik bermimpi sambil mendengkur kayak om-om, hehehe,” balas Nino seraya terkekeh
“Markas?” Tanya Sisca Heran. “Kalian punya markas ya?”
“Nngg.. salah-salah, maksudku rumah – bukan markas, hehehe..” Nino berusaha meralat perkataannya yang terlanjur keceplosan. Intinya markas mereka tak boleh diketahui oleh siapapun.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Sisca kepada Nino. Suasana sejuk di bawah pohon di taman itu membuat pikiran menjadi tenang, sehingga otak pun menjadi encer.
“Kakak punya laptop?” tanya Nino. “Kita akan mengakses alamat email tersebut, sekarang.”
“Tunggu sebentar. Laptopku ada di mobil.” Sisca kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman itu. Tidak lama kemudian, dia pun kembali ke taman yang penuh dengan pohon rindang itu. Di tangannya membawa sebuah laptop berlogo buah apel.
“Nah sekarang macbooknya sudah ku nyalakan,” kata Sisca. Setelah itu dia memasang modem di samping laptop yang bernama macbook itu. Dan koneksi internet pun muncul dengan cepat.
Wanita berambut panjang itu kemudian menuliskan alamat gmail.com di browser. Dan muncullah halaman login untuk masuk ke akun Email milik google itu.
“Sekarang kakak tuliskan alamat email tersebut di sana,” tunjuk Nino.
“Sudah,” balas Sisca. “Terus passwordnya?” Mata wanita itu tertuju ke kolom di bawah email.
“Tuliskan Martapura – sesuai jawaban dari petunjuk teka-teki di kalimat terakhir. 2 kalimat terakhir itu merupakan petunjuk yang mengarahkan ke Email dan passwordnya.”
Sisca pun melakukan apa yang diperintahkan oleh bocah di sampingnya itu. Sementara si Jono hanya melongo. Dia kagum dan tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar analisa dari sobatnya itu.
Sisca kemudian menekan tombol enter. “Siap-siap untuk melihat petunjuk selanjutnya!”
Dan.. Email pun bisa diakses.. Terbuka lah isi dari email tersebut – yang ternyata isinya.....
“Hah?! Kenapa bisa kosong?!” Seru Nino terkejut. “Ini aneh sekali! Email kok bisa kosong?”
“Iya emailnya kosong – baik pesan masuk, draf maupun pesan terkirimnya,” gumam Sisca. “Sepertinya si pemilik email telah mengosongkan semua surat keluar dan masuk di emailnya. Dia seperti ingin menghapus semua petunjuk. Benar-benar kurang ajar!” Kata Sisca Geram.
Tiba-tiba handphone milik Sisca berbunyi. Dia kemudian menjawab panggilan itu.
“Aku harus pergi sekarang,” kata Sisca kepada Jono dan Nino. “Nanti kita akan bertemu lagi untuk membahas kasus ini. Silakan kalian lanjutkan penyelidikan, aku ada sedikit urusan di kampus.”
Tidak lama kemudian Sisca berlalu dari hadapan Nino dan Jono. Dia kemudian berjalan menuju mobilnya dan langsung melesat pergi. Tertinggal Nino dan Jono yang berada di taman itu. Mata mereka tertuju ke arah aliran sungai yang tenang. Walaupun pikiran mereka sedang tak tenang.
“Bagaimana? Apakah mobil itu sudah jauh dari kita?” Tanya Nino kepada Jono.
“Sepertinya begitu,” jawab Jono seraya memastikan keberadaan mobil Sisca yang memang sudah menjauh dari posisi mereka berdua. “Memangnya kenapa kalau dia menjauh?”
Nino kemudian menghela nafasnya, “aku hanya ingin memastikan kalau kita tidak dibuntuti lagi oleh kakak itu. Aku merasa ada beberapa hal yang mengganjal di pikiranku,” gumam Nino.
“Hmm.. begitu, ya?” Kata Jono. “Menurutku sih, kak Sisca itu baik orangnya. Aneh kau ini.”
“Sudahlah.” Kata Nino. “Sekarang ada hal penting yang harus kita selidiki, mumpung tak dibuntuti oleh kakak itu. Kita bisa leluasa dalam bertindak. Tak ada gangguan dari mata-mata itu.”
“Hei, bukannya petunjuknya sudah tidak ada lagi,” balas Jono. “Tadi kan kita semua sudah melihat kalau di laptop itu tak ada data satupun – alias kosong melompong!”
“Sudahlah. Aku punya rencana yang bagus. Kau ikut saja,” seru Nino seraya beranjak dari kursi di taman itu. Jono pun mau tak mau ikut juga. Mereka kembali bergerak dengan cepat.




“Hah?! Ngapain kita ke sini??” Tanya Jono heran. Kali ini matanya tertuju ke sebuah gedung berbentuk rumah khas banjar. Gedung itu sangat megah dan memiliki 2 lantai. Di depan gedung itu tertulis dengan sangat besar ‘Perpustakaan Daerah Banjarmasin’.
“Ada buku yang sedang aku cari. Kebetulan aku punya kartu anggotanya nih, hihihi,” jawab Nino seraya terkekeh. Dia kemudian memarkirkan sepeda BMX nya di halaman perpustakaan yang luas itu – diikuti oleh si Jono.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke tangga besar yang merupakan akses menuju ke lantai atas perpustakaan. Suasana di sana sangat sepi – dan hal itu wajar karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.
Nino kemudian berjalan menuju ke dalam ruangan perpustakaan yang sangat luas itu. Di sana ada puluhan rak yang tersusun rapi – yang di dalamnya ada ribuan buku.  Bocah bertubuh sedang itu kemudian bergerak ke salah satu kategori rak buku yang khusus membahas tentang komputer dan internet. Sementara si Jono setia berjalan mengikuti ‘otak’ dari grup detektif cilik itu. Tiba-tiba...
“Tunggu sebentar! Kita harus cepat-cepat bersembunyi!” Seru Nino. Matanya tertuju kepada seorang pemuda yang tengah asyik mencari-cari buku di perpustakaan itu. Pemuda berkaos biru dan berambut cepak itu tengah sibuk mencari sesuatu. Usianya mungkin sepantaran dengan Sisca.
“Hei, memangnya kenapa?” Bisik Jono. “Siapa kakak itu?” Dia kemudian turut bersembunyi di belakang rak yang sama dengan Nino. Jarak mereka dengan pemuda itu hanya beberapa meter.
“Dia adalah Kak Ardi!” Bisik Nino. “Dia sama seperti aku dan kak Sisca – yaitu 3 orang yang berhasil lolos seleksi untuk mengikuti sayembara. Kenapa dia ada di sini??”
“Jangan-jangan.. Dia itu yang kata kak Sisca – yang katanya telah berkonspirasi dengan Pak Hendro,” Jono berkesimpulan. Bocah yang satu ini memang lambat dalam menarik kesimpulan.
“Tepat sekali!” Bisik Nino. “Dia itu komplotannya pak Hendro. Kemungkinan dia ke sini karena pemikirannya selangkah lebih maju dari aku dan kak Sisca. Orang ini patut diperhitungkan!”
Kedua bocah itu terus mengamati apa yang dilakukan oleh pemuda yang bernama Ardi itu. Terlihat kalau pemuda itu tersenyum puas setelah menemukan buku yang dicarinya. Buku itu berwarna hijau, namun tulisannya tak jelas dilihat oleh Nino dan Jono yang tengah bersembunyi.
Kemudian pemuda yang bernama Ardi itu menuju ke penjaga perpustakaan. Dia bermaksud untuk meminjam buku itu. Setelah itu dia bergegas untuk pergi dari perpustakaan itu. Sementara Nino dan Jono terus menerus mengikuti pergerakan pemuda itu –  layaknya mata-mata.
“Hei, ngapain kita mengikuti kakak itu?” Bisik Jono. Ini Kesekian kalinya dia bertanya.
“Aku penasaran, buku apa yang di dapat kakak itu,” balas Nino. Kali ini mereka bersembunyi di balik tiang besar dekat tangga yang saat ini dilalui oleh si Ardi. Pemuda itu sama sekali tak menyadari kalau dia dibuntuti. Kemudian pemuda itu bergegas menuju ke parkiran di lantai bawah untuk mengambil sepeda motor miliknya. Kebetulan di tempat itu sangat sepi dari pengunjung.
Tiba-tiba... Ada mobil avanza hitam yang masuk ke area parkiran itu. Mobil itu kemudian mendekat ke arah pemuda bernama Ardi itu. Dari dalam mobil itu tiba-tiba keluar 3 orang berseragam hitam. Tubuh mereka besar-besar. Ketiganya langsung menyekap pemuda bernama Ardi itu. Belum sempat si Ardi melawan, kepalanya langsung di hantam dari belakang dengan benda tumpul – sehingga membuatnya jatuh dan pingsan. Dia kemudian dimasukkan ke dalam mobil oleh ketiga penjahat itu. Dan mobil itu pun langsung meluncur keluar dari halaman perpustakaan yang besar itu. Mobil itu melesat di jalan raya dan hilang dari pandangan Nino dan Jono.
“Astaga!” Seru Jono. “Apa yang sebenarnya terjadi?? Siapa mereka?”
Nino pun menampakkan raut wajah yang sama dengan Jono. Wajah mereka tegang sekali. Mereka tidak menyangka kalau kejadian itu terjadi di depan mata mereka. Kejadian seperti film Action di televisi. Dan kini, orang yang mereka curigai – disekap oleh komplotan penjahat itu.
“Aneh sekali,” gumam Nino. “Kenapa orang yang aku curigai justru disekap?” Wajah Nino tampak tegang. “Jangan-jangan kita dan kak Sisca juga diincar? Dan 3 orang yang sedang menghadapi sayembara ini, sepertinya dalam bahaya besar!” Baru kali ini Nino setakut itu.
Rupanya bukan Cuma Nino yang bergidik. Sahabatnya yang memang sangat penakut – yaitu si Jono jauh lebih takut lagi. Tubuhnya gemetaran. Wajahnya pucat pasi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Air mukanya menyiratkan ketakutan yang sangat besar.
Nino pun heran, “Hei kenapa kau ini? Seperti melihat hantu saja?”
Jono pun menjawab dengan nada gugup, “bu-bukannya begitu. Ini lebih menakutkan daripada melihat hantu.” Wajah Jono semakin menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
“Maksudmu apa?” Tanya Nino heran.
“A-apa kau masih ingat dengan mimpi yang kuceritakan kemarin – ketika aku tertidur di pelabuhan?” Tanya Jono dengan gugup.
“Ya, aku masih ingat,” jawab Nino singkat.
 “3 orang berseragam hitam tadi adalah sosok yang ada di dalam mimpiku. Merekalah yang mengejar dan menembaki kita hingga terjatuh dari atas gedung dan mati!”


 (To be continued...)


Lihat bab lainnya di: D2C1

***




Author: A F
Profesi: Internet marketer, penulis dan pencipta lagu
Dengarkan lagu ciptaannya di: 
www.reverbnation.com/triology4
www.reverbnation.com/ajiesongcollection
KUTIPAN FAVORIT:
"Enjoy Aja!"

CAUTION!

- DILARANG KERAS MENIRU, MENJIPLAK DAN MENGKOPI IDE MAUPUN ISI DARI TULISAN DI ATAS. KARENA ITU MERUPAKAN PELANGGARAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.


- APABILA DITEMUKAN PELANGGARAN HAK CIPTA/PLAGIAT, MAKA AKAN BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN HUKUM DI REPUBLIK INDONESIA!



Baca Juga