--> Skip to main content


[CERBUNG] Magician of Feliz (Bab 2)

BAB 2: MIMPI ANEH DAN SISWA BARU

Baca cerita sebelumnya di:

baca cerbung online magician of feliz bab 2


    Sungguh aneh pikir Nabilah. Tatapannya terus tertuju pada liontin putih yang kini ada di genggamannya. Liontin misterius yang tiba-tiba muncul setelah dia terbangun dari tidurnya saat  berada di padang rumput  tadi siang.
Nabilah terus mengamati liontin itu dengan seksama. Ternyata di liontin berukuran sebesar jempol kaki itu ada sebuah tulisan kecil.  Tulisan berbahasa asing entah itu bahasa Prancis atau Italia. Di situ tertulis “feliz de que lo”. Akan tetapi, tulisan itu tidak begitu dihiraukan oleh Nabilah. Dia lebih tertarik untuk mengingat mimpinya tadi siang. Mimpi yang seolah mengantarkan liontin itu ke dunia nyata.
Sambil duduk di atas kasur empuknya dan ditemani lampu remang yang menerangi kamarnya, pikiran Nabilah terus berkelana mencari jawaban atas segala keanehan ini.
    Terlihat jam dinding di kamar Nabilah sudah menunjukkan pukul 22.05 malam. Saat itu Orang rumah sudah tidur semua. Suasana remang dan hujan gerimis di luar rumah seakan menemani Nabilah yang tengah terjaga. Pikirannya terus melayang.
Banyak pertanyaan yang muncul dalam benakya. Mungkinkah liontin itu adalah benda dalam mimpi yang muncul ke dunia nyata? Mungkinkah itu semacam pertanda bahwa mimpi itu bukan sekedar mimpi biasa, melainkan kenyataan? Atau kah itu merupakan pertanda bahwa ayah dan ibunya masih hidup?
Nabilah terus mengingat-ingat kronologi mimpinya. Liontin yang kini ada di tangannya itu adalah yang waktu itu di pakai oleh si penyihir putih di lehernya. Dalam ingatannya liontin itu seperti mengandung kekuatan sihir. Nabilah sangat yakin dengan ingatannya itu. Karena semua itu tampak begitu nyata. Yeah, Walau semuanya hanya sebatas mimpi gumamnya dalam hati.
Semakin malam semakin  keras Nabilah berpikir dan bertanya – tanya.  Air mukanya menunjukkan raut wajah kebingungan.
Terkadang dia merinding tatkala mengingat sosok penyihir hitam dan pasukannya yang berjumlah ratusan. Begitu pula dengan keadaan ayah dan ibunya yang diikat dan disekap oleh penyihir jahat itu. Mereka seperti meminta tolong.
Semua ingatan itu terus menghantui pikirannya. Batinnya berkecamuk. Dan membuatnya menjadi semakin pusing.
Nabilah pun mulai menyerah. Hal itu terlihat dari Rasa kantuk yang mulai menggerogotinya.
Lagipula besok hari senin. Dia harus masuk sekolah seperti biasanya. Rutinitas.
Nabilah kemudian meletakkan liontin yang dari tadi digenggamnya ke dalam laci meja yang ada di samping kasurnya. Setelah itu, dengan sigap dia langsung berbaring di atas kasur empuknya.
Sambil bergelumut dengan selimut, perlahan dia mencoba untuk memejamkan matanya. Mencoba untuk terlelap dan melupakan kejadian aneh tadi siang. Mencoba menghilangkan ingatan menakutkan yang terlanjur menghantui pikirannya.
Dia pun mulai tertidur..
Tidur dengan sangat pulas...

***

    Pagi senin yang cerah.

Waktu sudah menunjukan pukul 07.05. Nabilah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Setelah siap dengan seragam putih abu-abu dan tas ransel berwarna hitamnya, dia kemudian bergegas menuju ruang makan.
Di ruang makan tersedia 3 potong roti sandwich dan segelas susu putih hangat. Langsung saja Nabilah melahap semua sarapannya itu. Dengan agak rakus.
Setelah menghabiskan sarapannya dengan tergesa-gesa,  Nabilah langsung bergegas menuju ke pekarangan rumah. Di sana sudah menunggu mobil sedan hitam BMW yang lumayan mewah. Di dalam nya ada om Wisnu yang tersenyum  melihat keponakan cantiknya yang tergesa-gesa dan kikuk.
“Pagi Cantik. Sarapannya sudah habis belum?” sapa Om Wisnu
“Pagi Om Wisnu. Iya ini sudah aku habisin semuanya. Cuma piringnya aja yang gak aku habisin,” Nabilah menjawab sambil mengunyah sisa roti yang ada di mulutnya. Jawabannya terdengar sedikit konyol dan di balas dengan tawa ringan Om Wisnu.

Setiap pagi om Wisnu lah yang selalu mengantarkan keponakan cantiknya ke sekolah. Dia sudah menganggap Nabilah seperti anaknya sendiri. Jadi dia tidak merasa kerepotan walaupun harus bangun pagi-pagi sekali.
Om wisnu berprofesi sebagai seorang pengusaha, sama seperti ayah Nabilah.  Beliau memiliki perusahaan yang terbilang cukup mapan. Perusahaan itu bergerak di bidang perdagangan alat berat. Dengan jumlah karyawan mencapai puluhan orang. Dia hanya sesekali datang ke kantornya. Kebetulan Letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sehingga banyak sekali waktu luang yang dimilikinya di rumah.
Sedangkan istrinya Shireen, kesahariannya adalah sebagai seorang ibu rumah tangga. Kegiatannya adalah mengurus dapur dan lain sebagainya. Namun kali ini pekerjaannya terasa lebih ringan, karena ada Bi Surti yang senantiasa membantu pekerjaan rumahnya. Bi Surti yang juga ikut pindah rumah bersama Nabilah.

“Hati-hati di jalan ya.” kata tante Shiren sambil tersenyum seraya mendekat ke arah Nabilah. “Semoga sekolahmu hari ini dipenuhi dengan keceriaan ya sayangku,” sambungnya sambil mengecup kening Nabilah.
“Iya tante ku sayang. ” Jawab Nabilah yang kemudian membalas kecupan tantenya dengan pelukan manja.
Setelah berpelukan dan mencium tangan tantenya, Nabilah kemudian berangkat.  Dengan lincah dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping om Wisnu.
Mobil pun meluncur pelan meninggalkan rumah mereka. Perlahan menyusuri komplek perumahan bernama CLUSTER GARDEN yang lumayan luas dan penuh dengan rumah-rumah mewah di sekelilingnya. Mereka terus meluncur menuju ke sekolah Nabilah.

Sekolah Nabilah bernama SMU Negeri 1 Ciburial. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari rumahnya. Jarak yang bisa di bilang lumayan jauh. Namun terasa dekat kalau berangkat dengan mengendarai mobil.
Di tengah perjalanan, mereka melewati area persawahan yang luas. Di kejauhan nampak terlihat perbukitan yang indah. Udara di sekitarnya terasa sangat sejuk.
Mobil melaju perlahan di jalanan yang saat itu lumayan ramai. Lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki meramaikan suasana pagi itu. Dari anak-anak sampai dewasa.  Aktivitas yang sibuk di pagi yang sejuk.
Melihat pemandangan itu, Nabilah jadi teringat kalau Rute yang mereka lalui itu adalah rute yang kemarin dilalui Nabilah saat berjalan kaki sendirian. Dia kembali teringat dengan padang rumput luas yang kemarin disinggahinya. Dari jauh terlihat pohon-pohon besar yang berjejer di samping  padang rumput itu. Ukuran pepohonan itu terlihat kecil, karena jarak padang rumput dengan jalan raya lumayan jauhnya. Terlihat pula satu pohon besar misterius tempat dia bersandar sampai tertidur, bermimpi aneh, kemudian terbangun dan menemukan liontin putih misterius. Liontin yang kalau tidak salah ada tulisan “feliz de que lo” . Saat ini liontin itu tersimpan aman di laci kamar Nabilah.

“Kita hampir sampai,” seru om Wisnu memecah lamunan Nabilah.
“Jangan melamun terus hehehe,” sambungnya sambil tertawa kecil.
“Owh.. okey..” jawab Nabilah setengah kaget.
“Maklum bawaan ngantuk om hahaha,” Nabilah memberi penjelasan sambil tertawa lepas. Gaya khasnya yang memang agak konyol.

Dari kejauhan terlihat bangunan SMU Negeri 1 Ciburial yang jaraknya tinggal 100 meter dari posisi mobil yang tengah melaju. Sekolah itu bercat warna biru muda dengan atap genteng berwarna biru tua. Di sekitar jalan menuju sekolah itu cukup ramai dengan perumahan. Berbeda dengan jalanan di daerah persawahan dan perbukitan yang sepi dari rumah penduduk.

Sudah 1 bulan lamanya Nabilah pindah ke sekolah barunya itu. Meninggalkan  sekolah lamanya yang dulu di Jakarta. Berat juga rasanya harus berpisah dengan teman-teman di sekolah lamanya. Tapi apa boleh buat, karena dia tinggal dengan om dan tantenya di Jawa Barat, ya dia pun juga harus bersekolah di daerah tempat tinggal barunya itu.

Tidak berapa lama kemudian, sampailah mobil mereka di depan sekolah. Setelah turun dari mobil, Nabilah langsung berpamitan dan mencium tangan omnya. Tidak lupa pula dia mengucapkan terima kasih  dan dibalas dengan senyuman dari omnya yang kemudian memutar mobil untuk berbalik pulang ke rumah.
 Nabilah melihat ke Arloji hitam di pergelangan tangan kirinya yang  menunjukkan pukul 07.28, yang berarti bel masuk tinggal 2 menit lagi. Seluruh siswa di sekolah itu nampak berhamburan ke lapangan sekolah. Sebagian sudah siap berbaris.
Ya, hari itu adalah hari senin. Biasanya hari senin pagi selalu diisi dengan upacara bendera sebelum jam belajar di mulai. Seluruh siswa harus rela berbaris di tengah teriknya matahari pagi.
Lapangan sekolah yang luas mulai terisi penuh. Upacara pun dimulai. Oke , saatnya berjemur gumam Nabilah dalam hati.


45 menit berlalu dan upacara pun selesai. Semua siswa berbondong-bondong menuju kelasnya masing-masing. Cuaca semakin panas dan mempercepat bubarnya para siswa untuk menuju  ke ruangan kelas.

Lumayan banyak ruangan kelas di SMU Negeri 1 Ciburial. Ada sekitar 30 ruangan banyaknya. Terdiri dari, 10 ruangan untuk kelas 1, 10 lagi untuk kelas 2 dan 10nya lagi untuk kelas 3. Terbagi rata untuk setiap tingkatan kelas.

Nabilah saat ini masih duduk di kelas 1. Dia tergabung dalam kelas 1F. Ruangan kelas 1F terletak bersebelahan dengan kantor Guru. Hal itu membuat kelas 1F jauh dari keributan alias sangat sepi. Sedikit saja suara gaduh terdengar, maka akan langsung didatangi oleh para guru di samping kelas. Terutama oleh pak Alex, guru mata pelajaran Matematika. Beliau terkenal paling galak di sekolah itu. Dan beliau sangat membenci yang namanya kegaduhan.
Jumlah siswa dan siswi di kelas 1F sebanyak 39 orang. Dari 39 orang itu Nabilah adalah siswi yang paling baru. Tidak heran jika dia masih belum punya banyak teman.
Jumlah teman Nabilah masih bisa dihitung dengan jari. Yeah, bisa dibilang Cuma ada 3 orang yang berteman dengannya. Ada febby, teman sebangkunya, yang merupakan teman dekat Nabilah. Orang nya memiliki sifat lebih dewasa ketimbang Nabilah.
Kemudian Stella, si cewek jahil yang duduk di belakang Nabilah.
Dan terakhir Dhini, cewek manis namun pendiam. Dia adalah teman sebangku Stella.
“Hei Nabilah tunggu aku dong,” terdengar suara seseorang memanggil Nabilah dari belakang. Sosok gadis manis dengan perawakan sepantaran Nabilah serta dengan tahi lalat di dagunya.
“Hei febby,” Nabilah membalas sapaan dari gadis yang ternyata adalah teman sebangkunya.
“Harinya panas banget. Makanya aku mau cepat-cepat masuk kelas,” lanjut Nabilah sambil memandang ke atas langit yang  terik.
“Barengan aja kita semua,” tiba- tiba terdengar suara ceplas ceplos Stella yang berdiri tidak jauh dari mereka. Gadis jangkung itu sedang berjalan mendekati Nabilah dan Febby. Dan dia diikuti oleh teman sebangkunya, Dhini.
“Oke oke,” Febby mengangguk setuju.
Mereka kemudian bersama-sama menuju kelas mereka yang letaknya di pojok kanan sekolah itu.
Sesampainya di dalam ruangan kelas, mereka kemudian duduk rapi di bangkunya masing-masing. Bersama dengan 35 siswa lainnya yang juga duduk dengan tertib.
Jumlah siswa hari itu lengkap, tidak ada yang absen. Maklum saja kelas 1F merupakan salah satu kelas unggulan. Dimana siswa siswi di dalamnya memiliki banyak prestasi, baik akademis maupun non akademis. Jarang sekali mereka absen karena tidak mau ketinggalan pelajaran.
Sambil menunggu kedatangan guru di kelasnya, Nabilah kemudian mengobrol santai dengan ketiga temannya. Kebetulan tempat duduk mereka berdekatan.
“Eh teman-teman tau gak? Hari ini bakalan ada siswa baru di sekolah kita,” si jangkung Stella memulai obrolan.
“Siswa baru ya? Hmm.. Cowok apa cewek?” Febby balik bertanya.
“Katanya sih cowok,” jawab Stella dengan meyakinkan.
“Tau darimana kamu  Stel?” tanya Febby lagi.
“Tadi pagi pas di pos depan aku di kasih tau sama wali kelas kita, Ibu Cynthia. Kata beliau, nanti akan ada siswa pindahan dari luar kota yang mau masuk di sekolah kita ini. Kebetulan dia akan gabung di kelas kita ini, kelas 1F. Soalnya cuma kelas kita kan yang jumlah siswanya kurang 1. Kalau kelas lain pas 40 orang,” Stella meyakinkan Feby dengan panjang lebar. Wajahnya penuh dengan antusias.
“Jadi penasaran nih. Siapa tau orang nya ganteng,” tambah Stella sambil tersenyum sendiri. Tampak wajah senang dari cewek jangkung yang senang mengoceh ini.
“Wiih moga aja cowok ganteeng...” tiba-tiba si pendiam dhini ikut menimpali. “Jadi semangat donk sekolah kalau ada cowok ganteng. Asyik asyik asyik..” lanjutnya lagi sambil tertawa-tawa sendiri. Tidak tampak imej pendiam yang selama ini disematkan kepada dirinya. Dhini yang berusia paling muda memang terlihat pendiam, namun sebenarnya dia agak cerewet juga kalau sudah ngobrol dengan orang yang akrab dengannya.
“Waduh kalian ini kok senengnya gak ngajak-ngajak. Jahat deeh..” Nabilah juga tak kalah ikut mengoceh dengan agak manja. Ocehan itu kemudian Di balas dengan tawa kecil ketiga temannya itu.
Saat itu Senyum ceria seperti terlihat kembali di wajah Nabilah. Senyum yang sudah lama hilang pasca musibah yang menimpa kedua orang tuanya 3 bulan yang lalu.  Serta mimpi aneh kemarin siang, sepertinya sudah dia lupakan. Semua berkat orang-orang di sekitarnya yang selalu menyayanginya. Mereka selalu ada untuk Nabilah.
Suasana hening seketika tatkala Ibu Cynthia masuk ke dalam kelas. Terlihat seorang guru berbadan sedang dengan perawakan kurus dan terlihat masih muda berjalan masuk ke dalam kelas. Beliau senantiasa tersenyum kepada semua orang. Namun dibalik senyumannya itu, terdapat sifat tegas dan berwibawa. Ketegasan itulah salah satu alasan yang membuat beliau dipercaya menjadi wali kelas di kelas unggulan, yaitu kelas 1F.
Selain sebagai wali kelas, Ibu Cynthia  juga merangkap sebagai guru bahasa asing. Ada sekiranya 5 bahasa Negara yang dikuasainya. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Bahasa Perancis dan Bahasa Spanyol. Sangat hebat untuk ukuran guru yang usianya masih muda dengan penguasaan 5 bahasa internasional.
Sambil berdiri di depan papan tulis, Bu Cynthia kemudian berbicara kepada seluruh murid di kelasnya.
“Selamat pagi anak- anak!” beliau mengawali pembicaraan dengan salam.
“SELAMAT PAGI BU GURUU!!” jawab anak muridnya serentak.
“Hari ini kita akan kedatangan murid baru. Murid pindahan dari luar kota,” Bu Cynthia memulai topik pembicaraan.
“Tapi tunggu sebentar ya. Dia masih di ruang guru. Lagi ada yang dibicarakan dengan kepala sekolah,” Bu Cynthia menjelaskan sambil tersenyum. Senyum lembutnya seakan menutupi sifat tegasnya.
“Tuh bener khaan.. Ada siswa baru yang akan masuk kelas kita,” bisik stella kepada Febby yang duduk di depannya.
“Ssttt.. jangan ribut,” Febby membalas bisikan Stella. Yang kemudian diiringi dengan gerakan Nabilah yang juga mengisyaratkan kepada Stella agar jangan ribut.
Kemudian Dhini ikut berbisik kepada teman sebangkunya, “Eh Stella, kamu tau gak siapa nama siswa baru itu?”
“Hmm.. siapa ya? Kalau gak salah Ilham, atau Ikhsan ya? Tadi di kasih tau sih sama bu Cynthia. Tapi akunya yang lupa...”
“Tapi Sebentar lagi juga tau, kalau tu anak sudah ke kelas kita,” sambung Stella.
Dan memang benar yang dikatakan oleh Stella. Tidak perlu menunggu lama untuk melihat kemunculan siswa baru itu.
Terlihat sosok anak laki-laki berkulit putih berjalan menuju ke dalam kelas. Dia terlihat sangat sopan. Kemudian dia berdiri tepat di samping Ibu Cynthia.
    Sosok siswa baru itu memang berparas tampan. Badannya terlihat kurus dan ceking. Tapi dia lebih tinggi daripada Nabilah. Dia terlihat memakai kawat gigi. Setelan rambutnya yang disisir belah pinggir terlihat cocok dengan parasnya yang kalem dan senyumannya yang manis. Lebih tepatnya, pria dengan paras manis.
    Terlihat wajah Stella dan Dhini yang terlihat seperti terpaku memandangi siswa baru itu. Seperti kagum melihat parasnya yang tampan.
    “Oke anak-anak. Kita dengarkan perkenalan dari siswa baru ini,” kata Bu Cynthia sambil menepuk pundak siswa baru itu. Dibalas dengan anggukan siswa baru itu.
    “Halo semuanya!”Siswa baru itu menyapa seisi kelas.
    “HALOO!!” jawab seisi kelas serentak.
    “Perkenalkan, Nama Saya Aliando,” Siswa baru itu memulai perkenalannya.
    “Saya baru pindah dari Palembang 3 hari yang lalu. Saya ikut dengan ayah karena urusan pekerjaan. Dan sekarang saya tinggal di pedesaan ini, dan rumah saya berada di komplek perumahan bernama CLUSTER GARDEN yang jaraknya tidak jauh dari sini,” Aliando menambahkan.
    “Mulai hari ini Saya akan Belajar di kelas ini. Jadi mohon bantuan dari teman-teman semua,” Aliando mengakhiri perkenalan singkatnya sambil tersenyum ke arah teman-teman sekelasnya.
    “Wah si Aliando itu ternyata rumahnya di CLUSTER GARDEN. Rumahmu di sana juga kan Nabilah?” tiba-tiba Stella berbisik ke arah Nabilah.
    “Ya begitulah. Rumah aku sama om dan tante memang disana,” jawab Nabilah dengan suara pelan.
    “Enak dong. Rumah kamu dekat sama dia. Bisa belajar bersama, kumpul-kumpul bersama, jalan-jalan bersama...” tiba-tiba Dhini ikut menimpali dengan suara pelan. Maksudnya sedikit menggoda Nabilah.
    “Sst.. jangan ribut! Nanti suara kalian kedengaran Bu Guru. Kalian tau sendiri kan kalau dia marah bakalan seperti apa,” lagi-lagi Febby mengisyaratkan agar tidak ngobrol lagi. Dan dibalas dengan anggukan Dhini, Stella dan juga Nabilah.

    Setelah selesai perkenalan, Ibu Cynthia kemudian menyuruh Aliando untuk menempati kursi kosong yang ada di paling depan. Kursi itu berada di sebelah Ozan, yang letaknya tepat di depan Nabilah dan Febby. Dengan sigap Aliando langsung menuju tempat yang sudah ditunjuk oleh Ibu Cynthia.  Sesaat dia menatap ke arah Nabilah sambil tersenyum. Senyuman manisnya membuat Nabilah sedikit tertegun. Begitu manis senyum cowok ini pikir Nabilah.

    Setelah perkenalan singkat itu selesai,  pelajaran pun segera  dimulai. Pelajaran pertama yaitu Bahasa Inggris yang merupakan mata pelajaran yang diajarkan oleh Ibu Cynthia. Pelajaran bahasa inggris merupakan pelajaran kesukaan Feby. Tapi sebaliknya, sangat tak disukai oleh Stella.

***

    Jam dinding kelas sudah menunjukkan pukul 14.00. Bel tanda pulang sekolah pun  berbunyi. Kelas dibubarkan dan para siswa langsung bersiap untuk pulang.
    “ Yeahh.. Akhirnya pulang juga,” gumam Stella dengan perasaan lega.
    “Iya bener. Seneng banget rasanya,” seru Dhini yang juga ikut lega. Maklum pelajaran terakhir waktu itu adalah pelajaran Matematika. Pelajaran paling menyeramkan di mata Dhini dan Stella. Sehingga rasa lega pun tak dapat disembunyikan setelah bel pulang berbunyi. Bel penyelamat gumam mereka dalam hati.
    Semua siswa mulai bergegas untuk keluar ruangan kelas. Terlihat juga si siswa baru, Aliando, yang tengah bersiap untuk pulang lebih dulu dari yang lainnya. Dengan ransel biru di punggungnya, dia mulai berjalan ke luar ruangan kelas.
    “Tuh si Aliando mau pulang,” Stella berucap kepada ketiga temannya. Tatapan mereka langsung tertuju kepada siswa baru itu.
“Kamu gak mau pulang barengan sama dia, Nabilah” tiba-tiba Dhini mencoba menggoda Nabilah lagi. Candaan itu dilanjutkan dengan tawa kecil Stella dan Febby.
    “Hahaha malesss,” canda Nabilah sambil tertawa. Mereka kemudian bergegas menuju keluar kelas.
    Sesampainya di pekarangan sekolah, mata Nabilah dan teman-temannya tertuju kepada Aliando yang sudah keluar ruangan lebih dulu. Dari jauh terlihat kalau siswa baru itu sudah ditunggu oleh jemputannya. Sebuah mobil sedan dengan merk mercedes berwarna hitam. Di dalamnya ada seorang pria tua yang mengemudikan mobil itu. Sepertinya orang itu adalah sopirnya Aliando.
    Tidak berapa lama kemudian, Aliando masuk ke dalam mobil mewah itu. Dan mobil itupun langsung berangkat meninggalkan sekolah. Membawa pulang Aliando menuju ke rumahnya.
    “Ternyata si Aliando beneran anak orang kaya,” Febby berbicara kearah Stella.
    “Yeah begitulah. Memang kelihatan banget kalau si Aliando itu sangatlah kaya,” jawab Stella. “Sama juga kayak om dan tantenya Nabilah, ya kan Nabilah?” tanya Stella kemudian sambil melirik Nabilah dengan sok tau.
    “Enggak koq. Om dan tante biasa aja. Kita semua sama saja kok,” Nabilah berusaha merendah. Walau tak dapat dipungkiri kalau Om dan Tante Nabilah memang terbilang orang kaya. Hal itu dapat dilihat dari tempat tinggal Nabilah bersama om dan tantenya, yaitu CLUSTER GARDEN. Semua penghuni di perumahan CLUSTER GARDEN termasuk Nabilah dan Aliando adalah tergolong kalangan atas. Dan beberapa diantaranya adalah warga pendatang, seperti Aliando.
    “Waktunya pulang. Aku duluan ya teman-teman,” Nabilah berpamitan kepada ketiga temannya karena mau pulang lebih dulu. Sedan hitam yang dikendarai Om Wisnu baru saja datang untuk menjemput Nabilah.
    “Hati-hati di jalan ya Nabilah,” kata febby
    “Bye-bye...” seru Stella dan Dhini yang kemudian dijawab dengan lambayan tangan Nabilah yang bergegas masuk ke dalam mobil.
   
Sedan hitam itu pun berlalu dihadapan Febby, Stella dan Dhini.  Meninggalkan ketiganya yang masih berdiri di pekarangan sekolah. Mereka bertiga pulang agak belakangan. Febby menunggu taxi, sedangkan Stella dan Dhini pulang berjalan kaki. Kebetulan rumah keduanya lumayan dekat. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari sekolah. Namun mereka pulang belakangan karena mau menemani Febby yang sendirian menanti kedatangan taxi.


Malam harinya di rumah Nabilah..


Selesai makan malam, Nabilah langsung menuju ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar, langsung saja dia berbaring di atas kasurnya. Pikirannya menghayal.
Sesekali dia teringat dengan tatapan dan senyuman murid baru yang bernama Aliando itu. Senyuman dan tatapannya membuat Nabilah menjadi tersenyum sendiri.  Perasaan damai muncul di hatinya tiap kali mengingat sosok cowok itu.

Ah sudahlah, pikir Nabilah. Tak ada hentinya kalau memikirkan sosok lelaki berparas tampan itu. Rasa kantuk sudah mulai menyerangnya. Dia pun berusaha untuk memejamkan matanya dan langsung tertidur. Tidur lelap seperti malam-malam sebelumnya.

***

“Kita bertemu lagi,” terdengar suara lembut seorang wanita yang kemudian membangunkan Nabilah.
Mata Nabilah seketika terbuka karena terkejut oleh suara misterius itu. Air mukanya langsung berubah, tatkala melihat keadaan di sekelilingnya yang terasa aneh. Serta kemunculan dua wanita berbaju putih yang berdiri di hadapannya. Dengan latar sebuah istana putih megah yang dikelilingi oleh taman bunga yang indah. Dihantui perasaan takut, bingung dan rasa tak percaya yang bercampur menjadi satu, Nabilah bersiap untuk bertemu dengan keanehan selanjutnya.

(To be continued...)


Ditulis oleh: Jack Neptune



Baca Juga