Skip to main content

[CERBUNG] Magician of Feliz (Bab 3)

BAB 3: EZHAR AL DAN RATU EDEN
(INITIAL E)

Baca cerita sebelumnya di:

baca cerbung online magician of feliz bab 2



      “Apa kau masih ingat dengan kami,” tanya salah satu wanita berbaju putih yang berdiri di hadapan Nabilah. Badannya sedikit lebih tinggi daripada Nabilah. Wanita itu mengenakan gaun putih ala Eropa abad pertengahan.
      “Kalian yang waktu itu kan?! Kalian siapa?!” dengan agak gugup Nabilah menjawab. Dia teringat dengan sosok dua wanita berbaju putih di dalam mimpinya sewaktu di padang rumput.  Air mukanya semakin menunjukkan ketegangan.
      “Kau tak usah takut. Kami bukanlah orang jahat. Kami justru ingin meminta pertolongan mu,” wanita itu berusaha menenangkan Nabilah.
      “Ya, kami di sini tidak ada maksud untuk menyakitimu,” wanita yang satunya meyakinkan Nabilah.
      Kedua wanita itu kemudian berjalan mendekati Nabilah.
      “Perkenalkan, namaku adalah Pevita. Dan di sampingku ini bernama Raline,” terang wanita yang bertubuh lebih kecil sambil melirik ke arah wanita yang satunya yang sedikit lebih tinggi daripada dia.
      “Namaku Raline. Aku adalah pengawal puteri Pevita dan sebagai magician pelindung negeri Feliz,” tambah si wanita yang bernama Raline. Tubuhnya lebih tinggi daripada wanita yang bernama Pevita.
 Kemudian puteri Pevita mengarahkan pandangannya kepada Nabilah. “Siapa namamu?” Sorot mata tajamnya namun diiringi dengan senyuman yang manis ke arah Nabilah.
       “Tu-tunggu dulu. Aku masih bingung,” jawab Nabilah dengan wajah tegang . “Apa itu negeri Feliz?! Apa itu magician?! Kenapa aku bisa berada disini?” Nabilah masih tidak yakin dengan kedua wanita itu.
      Sambil mendekati Nabilah, putri Pevita kemudian berkata, “Sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu, aku ingin bertanya satu hal. Masih ingatkah dengan liontin putih yang kutitipkan padamu?”
      Rupanya perkataan putri Pevita membuat Nabilah teringat dengan liontin putih misterius yang di temukannya di padang rumput. Semakin yakinlah dia kalau ada sesuatu yang tidak beres pada liontin itu. Liontin itu sepertinya menyimpan banyak rahasia. Dan hal itu berhubungan dengan mimpi anehnya sewaktu di padang rumput. Saat ini liontin itu tersimpan aman di laci kamarnya.
      “Liontin putih itu kan? Ya aku masih ingat,” jawab Nabilah dengan wajah tak yakin. Rupanya dia masih menyimpan was-was di hatinya. Masih belum percaya dengan apa yang sedang dialaminya. “Memangnya  kenapa dengan  liontin itu? Jawab juga semua pertanyaanku tadi!” Nabilah berusaha memberanikan dirinya untuk kembali bertanya.
      “Hmm.. baiklah,” gumam putri Pevita. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu satu persatu,”
      “Lihatlah istana yang ada di belakangku ini,” terang putri Pevita sambil menunjuk ke arah istana putih di belakangnya. Terlihat istana megah berwarna putih. Dikelilingi oleh tembok besar dan tinggi, yang juga berwarna putih.
Istana megah itu memiliki 4 pilar. Masing-masing pilar memiliki satu menara. Posisi ke 4 pilar itu seperti mewakili 4 arah mata angin. Dan di tengah-tengahnya berdiri kokoh satu menara tinggi dan besar.
      “Ini adalah istana negeriku, negeri yang bernama Feliz,” putri Pevita memulai penjelasannya. “Negeri Feliz merupakan salah satu negeri yang ada di Atlantis,” sambungnya lagi
Terlihat wajah Nabilah yang seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Padahal beberapa jam yang lalu dia sudah terlelap di kamarnya. Tahu-tahu setelah terbangun malah berada di dekat istana megah seperti dalam dongeng.
“Aku tidak mengerti! Apa itu Neptunus? Apa itu benua Atlantis?  Apa itu negeri feliz? Dimana aku sekarang?!” Nabilah melontarkan pertanyaan dengan nada histeris. Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal bagi dirinya.
“Baiklah. Akan ku jelaskan,” jawab putri Pevita. “Neptunus adalah penguasa dari Benua Atlantis yang merupakan dunia kami. Benua Atlantis adalah benua yang ‘hilang’ dari dunia kalian ribuan tahun yang lalu. Sekarang Benua Atlantis tetap ada, namun adanya di ‘dunia lain’ yaitu dunia kami,” jelas putri Pevita.
“Mungkin kau tidak akan tahu kalau tidak membaca buku sejarah dari dunia mu, kalau negeri Atlantis itu dulunya berada di duniamu. Dahulu kala Benua Atlantis ini berpusat di sebuah pulau di negaramu. Pulau itu bernama Sunda Island. Akan tetapi bencana alam besar memusnahkan banyak manusia ribuan tahun yang lalu. Hal itu membuat kami semua eksodus ke ‘dunia lain’ yang lebih aman. Kami memulai kembali semua peradaban Atlantis dari nol lagi. Dan sampai sekarang, penduduk dari benua Atlantis tetap hidup di ‘dunia lain’ itu.”
Nabilah hanya bisa terdiam dan bingung mendengar penjelasan dari putri Pevita. Seperti mustahil saja ada dunia yang bernama Atlantis itu pikir Nabilah. Apalagi wanita dihadapannya itu menyebut-nyebut nama Sunda, benar-benar aneh pikir Nabilah. Dalam benaknya berharap ini semua hanyalah mimpi belaka dan semua yang dilihatnya hanyalah ilusi saja.
“Sekarang akan aku jelaskan mengenai negeri feliz,” kembali putri Pevita memulai penjelasannya yang panjang lebar. “Benua Atlantis itu sama dengan benua di dunia kalian, yaitu terdiri dari banyak negara. Benua Atlantis terdiri dari 5 negara dengan berbagai rumpun dan kebudayaan yang beragam. Negeriku, yaitu feliz de que lo adalah salah satu negeri yang berada di Benua Atlantis. Di sini aku tidak akan menjelaskan tentang negeri-negeri yang lain, hanya negeri feliz saja yang akan ku jelaskan kepadamu.”
“Negeri feliz adalah negeri di benua atlantis yang memiliki kultur, kalau di duniamu itu seperti di Andalusia (Spanyol). Negeri ini sedang mengalami perang saudara, namun tak diketahui oleh Neptunus. Ada pihak yang ingin mengkudeta kepemimpinan ayahku di negeri kami itu.”
Mendengar penjelasan itu, Nabilah semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Apalagi tentang peperangan yang dimaksud putri pevita, semakin membuat Nabilah bertanya-tanya. Namun di sisi lain, pemandangan yang dia lihat di sekelilingnya yaitu istana negeri dan pepohonan di sekitarnya yang seperti ada di dunia fantasi. Atau lebih tepatnya di dunia mimpi pikir Nabilah.
      “Saat ini kau masih tertidur dan berada dalam mimpimu. Yang kau lihat sekarang ini hanyalah gambarannya saja. Jadi kau hanya bisa melihat, tapi tak bisa menyentuh istana ini,” putri Pevita melanjutkan penjelasannya. “Untuk sementara, hanya lewat mimpilah kita bisa berkomunikasi seperti ini. Kami semua butuh pertolonganmu.”
      Nabilah semakin tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut putri Pevita. Beberapa kali dia menghela nafas untuk menenangkan batinnya. Sesekali dia menatap ke arah mata putri Pevita untuk meyakinkan apa yang didengarnya dari putri Pevita.
      Putri Pevita kemudian melanjutkan penjelasannya.
      “Saat ini negeri Feliz yang ada di negeri kami sedang mengalami peperangan dengan pasukan oscured.  Mereka adalah pasukan kegelapan yang dibangkitkan oleh Ratu Eden, magician terkuat saat ini.”
      “Magician? Apa itu?” Nabilah memotong penjelasan Putri Pevita. Dia kembali bingung untuk kesekian kalinya setelah mendengar istilah-istilah yang kurang familiar di telinganya.
      Dengan cepat Putri Pevita kemudian menjawab pertanyaan itu. “Magician adalah sosok ksatria yang memiliki kekuatan magic. Hampir mirip dengan penyihir, namun mereka bukan penyihir melainkan tingkatan di bawah penyihir. Penyihir di negeri Feliz sudah punah ratusan tahun yang lalu, karena menentang Neptunus. Sekarang yang ada adalah magician yang tunduk kepada Neptunus serta kepada raja di negeriku,”
“Para Magician itu berbeda dengan orang biasa. Perbedaan itu terletak pada ‘kemampuan istimewa’ mereka yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.  Tugas para magician adalah untuk melindungi  negeri Feliz dan rakyatnya. Mereka terikat sumpah setia kepada negeri, seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya,” putri Pevita menjelaskan.
      “Kenapa peperangan bisa terjadi? Bukankah seseorang yang bernama Ratu Eden tadi juga seorang magician. Kenapa dia malah melawan negerimu. Bukankah dia sudah bersumpah setia untuk melindungi negerimu?!” Nabilah kembali bertanya kepada putri Pevita. Kali ini dia sedikit demi sedikit mulai terbawa dengan kisah yang diceritakan oleh sang putri.
      “Ceritanya sangat panjang,” jawab putri Pevita sambil menunduk sedih. “Banyak hal yang terjadi di sini. Hal yang diluar perkiraan kami. Semua karena  rasa cinta seseorang yang terlampau kuat. Cinta bisa menyebabkan kekecewaan yang menimbulkan Kebencian, pengkhianatan dan balas dendam. Namun disisi lain, cinta yang kuat juga bisa membuat seseorang mengorbankan nyawanya demi orang yang di cintainya,” suara putri Pevita semakin pelan dan lirih. Tampak raut sedih di wajah cantiknya .
Nabilah semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan putri Pevita. Ada apa dengan cinta? Kenapa cinta bisa menyebabkan hal-hal seperti yang dijelaskan oleh sang putri? Nabilah terus bertanya dalam hatinya.
“Maaf tuan putri. Waktu kita tinggal sebentar lagi,” tiba-tiba Raline memotong penjelasan putri Pevita.
“Waktu apa yang habis?” tanya Nabilah dengan wajah bingung.
“Kekuatan lorong penghubung mimpi ini hanya bertahan 1 jam saja. Dan Ini adalah komunikasi terakhir kita di alam mimpi,” jawab Raline dengan raut wajah sedikit panik.
“Ya benar sekali apa yang dikatakan Raline. Sebentar lagi lorong penghubung mimpi ini akan segera berakhir,” putri Pevita memperjelas apa yang dikatakan Raline. “Kesempatan kami untuk berkomunikasi denganmu hanya 2 kali. Masing-masing kesempatan hanya selama 1 jam. Dan ini kesempatan yang terakhir setelah sebelumnya kekuatan ini  kami pergunakan saat kau tertidur di padang rumput.”
“Owh benarkah?!” tanya Nabilah dengan wajah kebingungan. “Lalu apa yang harus kulakukan?” Nabilah terus bertanya untuk menghilangkan kebingungannya.
“Satu hal yang aku minta dari dirimu. Tapi sebelumnya, aku ingin tau siapa namamu?” tanya putri Pevita.
“Hmmm.. namaku Nabilah,” jawab yang punya nama.
“Baiklah Nabilah. Aku ingin agar kau menjaga liontin yang kutitipkan kepadamu. Jagalah baik-baik, karena liontin putih itu sedang diincar oleh ratu Eden. Mungkin akan ada orang yang diutusnya untuk mengambil paksa liontin itu darimu,” kata putri Pevita dengan nada sedikit memohon.
“Memangnya apa yang akan terjadi apabila liontin ini berhasil jatuh ke tangan orang itu?” tanya Nabilah.
“Kalau hal itu terjadi, habislah sudah. Seluruh negeri Feliz akan jatuh ke tangan Ratu Eden,” jelas putri Pevita dengan lirih. “Kekuatan liontin putih itu adalah kekuatan perisai yang menyelubungi negeri. Sehingga untuk saat ini, ratu Eden belum bisa menguasai seluruh negeri kami. “Lagipula...” putri Pevita tidak meneruskan perkataannya.
“Lagipula apa?!” Nabilah semakin penasaran
“La-lagipula liontin itu adalah milik mendiang Ezhar Al, orang yang sangat aku cintai,” pevita menjelaskan dengan ekspresi wajah sedih
“Siapa itu Ezhar Al?!” tanya Nabilah. Raut wajahnya tambah bingung.
Pertanyaan Nabilah dijawab oleh Raline. Dia merasa iba dengan putri Pevita yang terlihat sedih karena teringat sosok orang yang sangat dicintainya.
“Ezhar Al adalah salah satu dari dua magician terkuat di negeri Feliz. Satunya lagi adalah ratu Eden. Mereka adalah magician dengan julukan ‘initial E’, yang merupakan julukan untuk magician terkuat saat ini. Sayangnya dia mati dalam usia sangat muda, karena menyelamatkan tuan putri yang diculik oleh ratu Eden dan pasukannya.  Dia mengorbankan nyawanya dan menyadarkanku dari pengaruh jahat. Dan dia mewariskan kekuatannya ke dalam liontin putih yang kini ada padamu,” jelas Raline kepada Nabilah.
“Aku adalah magician dengan level kekuatan di bawah ‘initial E’. Aku dijuluki ‘initial R’ yang merupakan julukan untuk kekuatan setingkat di bawah ‘initial E’. Di negeri kami hanya ada 4 orang dengan julukan ‘initial R’, termasuk diriku,” Raline menjelaskan lagi. Dia seperti lupa dengan batas waktu kekuatan lorong penghubung mimpi yang hampir habis
“Sepertinya waktu kami sudah hampir habis,” putri Pevita mulai berbicara lagi. “Satu hal lagi yang ku minta darimu. Nanti pada saatnya kau akan kubawa ke dunia kami, Atlantis. Saat portal penghubung dunia kita terbuka pada saat bulan purnama, 2 minggu dari sekarang. Saat itulah kita akan bertemu lagi. Banyak sekali yang akan ku jelaskan kepadamu nanti.”
“Di mana portal itu berada?” tanya Nabilah dengan rasa penasarannya lagi. Kali ini dia mulai percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya dari dua wanita misterius yang ada di hadapannya.
“Di padang rumput  tempat kau menemukan liontin itu. Portal nya terletak tepat di pohon besar tempat kau tertidur dan bermimpi aneh. Di sana lah kita akan bertemu lagi,” jawab putri Pevita
“Selamat tinggal. Ingat jaga baik-baik liontin itu,” pesan terakhir putri Pevita kepada Nabilah.
Tidak berapa lama kemudian putri Pevita dan Raline  menghilang dengan seketika dari hadapan Nabilah. Beserta gambaran istana negeri feliz yang juga ikut lenyap. Meninggalkan Nabilah seorang diri dengan wajah bingungnya. Bingung namun mulai menampakan kejelasan. Kejelasan mengenai situasi aneh yang dialaminya dalam beberapa hari ini yang terjawab di mimpi aneh yang baru saja terjadi.

***

Angin siang berhembus pelan di tengah panasnya terik matahari. Menemani Nabilah yang tengah duduk sendirian di bangku taman di pekarangan sekolah. Tempat yang biasa diisi Nabilah bersama Febby, Stella dan Dhini di saat menunggu kedatangan jemputannya masing-masing. Namun kali ini, dia sendirian ditinggal teman-temannya yang pulang lebih dulu. Biasanya ada saja yang selalu menemani, namun kali ini mereka bergegas pulang lebih dulu karena jemputan Nabilah terbilang agak telat dari biasanya. Yeah, sekitar stengah jam lebih dia menunggu kemunculan sedan hitam milik omnya yang belum kunjung muncul juga.
Kesendirian itu membawa lamunan Nabilah ke dalam ingatan tentang mimpinya tadi malam. Tugas besar diberikan kepadanya untuk menjaga liontin putih yang dititipkan oleh putri Pevita. Liontin yang merupakan warisan dari kekasih sang putri yang rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan sang putri. Sungguh indah pikir Nabilah. Cinta yang diberikan Ezhar Al kepada kekasihnya. Seperti itukah dahsyatnya kekuatan cinta, pikir Nabilah.
Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, Nabilah memang belum mengerti dengan yang namanya cinta sejati. Maklum saja, remaja seusianya biasanya hanya mengenal cinta monyet. Cinta anak muda yang sifatnya hanya buat mengisi masa muda dan bukan sesuatu yang serius. Namun dia bisa sedikit menyimpulkan tentang arti sesungguhnya cinta, setelah mendengar cerita dari putri Pevita tentang pengorbanan sang kekasih. Terkadang dia juga bingung dengan perkataan putri Pevita mengenai penyebab peperangan di negeri feliz yang didalangi oleh Ratu Eden. Semua juga karena cinta yang terlampau besar. Benarkah itu?
“Hay Nabilah,” terdengar suara seseorang yang memecah lamunan Nabilah.
“Boleh aku duduk disini?” sambung orang itu lagi. Terlihat sosok lelaki duduk di samping Nabilah. Senyumannya sangat manis untuk ukuran anak laki-laki. Ya, dia adalah Aliando, siswa yang baru 3 hari pindah sekolah ke sekolahnya Nabilah.
“I-iya. Silahkan saja,” jawab Nabilah setengah terkejut karena tidak menyangka  akan kehadiran Aliando.
“Kenapa kamu belum pulang Nabilah?”, tanya Aliando
“Iya ini lagi nungguin jemputan om aku. Katanya sih telat dikit, tapi kok belum muncul juga ya, hehe,” Nabilah menjawab dengan gaya khasnya. Perasaannya sedikit salah tingkah karena baru pertama kali ngobrol sambil duduk berduaan dengan Aliando.
“Kamu juga, kenapa belum pulang? Apa supir kamu lupa jalan kesini ya?” Nabilah balik tanya dengan gaya konyolnya. Di balas dengan tawa kecil dari Aliando.
“Tuh jemputanku udah datang,” tunjuk Aliando ke arah sedan hitam yang mendekati posisi mereka berdua. “Pulang bareng aku aja yuk,” ajak Aliando kepada Nabilah.
“Waduh.. gimana ya. Nanti om q malah bingung nyariin aku,” Nabilah berusaha menolak secara halus.
“Yahh kamu ini gimana sih. Telepon aja sebentar om kamu itu. Biar dia ga jadi jemput,” Aliando berusaha sedikit memberikan solusinya. “Siapa tau om kamu sangat sibuk dan dia masih lama baru jemput kamu. Kasian kamunya kelamaan nunggu,” Aliando menunjukkan kepeduliannya. Dan hal itu sedikit membuat Nabilah jd senang karena ada seseorang yang baru kenal, tapi sudah sangat peduli.
“Hmm.. okedeh. Aku barengan kamu aja. Tunggu bentar ya aku nelpon om ku dulu,” kata Nabilah sambil membuka tasnya untuk mengambil handphonenya. Kemudian dia menelpon omnya supaya tidak usah menjemput pulang karena dia mau pulang bareng temannya.
Dan kebetulan sekali omnya Nabilah memang sangat sibuk,  ada sedikit masalah yang terjadi di perusahaannya. Padahal dia bisa saja menyempatkan dirinya untuk menjemput Nabilah, karena sudah menjadi rutinitas. Namun Nabilah keburu menelpon supaya tidak usah dijemput. Dan omnya  pun setuju untuk tidak jadi menjemput keponakan tercintanya itu.
Selesai menelpon, Nabilah kemudian diarahkan Aliando supaya masuk ke dalam mobil dan duduk di jok bagian belakang. Bak seorang putri raja, Nabilah dibukakan pintu mobilnya oleh Aliando. Nabilah pun geleng-geleng sambil tersenyum simpul. Setelah pintu di samping tempat duduk Nabilah ditutup, Aliando kemudian berjalan menuju ke pintu mobil sebelahnya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Nabilah.
“Gak ngerepotin niih?” tiba-tiba Nabilah memulai obrolan ketika mobil tengah melaju.
“Iya gak apa-apa kok. Rumah kamu kan dekat sama rumahku,” kata Aliando sambil menyeringai.
“Loh? Tau darimana kalau rumah aku dekat sama rumahmu?” Nabilah sedikit bingung karena selama ini dia tidak pernah memberi tahu rumahnya kepada Aliando.
“Yaa.. Cuma nebak aja hahaha,” jawab Aliando sambil tertawa. “Yeah, sebenarnya aku  pernah melihat kamu pas jalan-jalan di komplek perumahan CLUSTER GARDEN, dan  kebetulan rumah aku juga di komplek itu kan. Jadinya ya dekat deh sama rumah mu,” sambungnya dengan enteng.
“Hmm.. dasar sok tau kamu ini,” gumam Nabilah sambil geleng-geleng kepala. Namun di hatinya berkata lain. Hatinya sebenarnya merasa  sedikit senang karena selama ini Aliando memperhatikan dirinya, tahu dengan rumahnya dan bahkan sekarang mengajak pulang bersama.  Padahal cowok itu idola baru di sekolah.
Mobil yang dikendarai Nabilah, Aliando dan supirnya Aliando terus melaju. Mereka mulai melewati jalanan pedesaan yang di sekelilingnya ada sawah dan juga padang rumput yang terlihat di kejauhan. Padang rumput tempat dimulainya semua kejadian aneh yang menimpa Nabilah dalam beberapa hari ini. Sejenak pikirannya mulai melayang lagi tentang semua kejadian itu. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena Aliando yang duduk di sampingnya memulai obrolan kembali.
“Oh iya Nabilah, aku bingung kok selama ini kamu di jemput sama om kamu? Kenapa bukan ayahmu?” Aliando memulai percakapan kembali.
Mendengar pertanyaan Aliando, wajah Nabilah seketika berubah. Raut wajahnya perlahan menjadi sedih. Namun dia berusaha memaklumi hal itu karena lelaki di sampingnya itu tidak bermaksud mengungkit tentang keberadaan orang tuanya yang telah tiada. Mungkin dia hanya bermaksud ingin tahu saja pikir Nabilah.
“Ayahku sudah tiada. Begitu juga dengan ibuku. Dan sekarang aku tinggal bersama om dan tanteku,” jawab Nabilah dengan nada lirih. Hatinya sedikit terluka tatkala mengingat kedua orang tuanya.
Mendengar hal itu Aliando pun terkejut. Raut wajahnya menunjukan rasa iba karena pertanyaannya tadi tidak seharusnya ditanyakan. Namun apa boleh dikata, semua tak bisa diulang lagi. Semua sudah terlanjur terucapkan dan membuat cewek di sampingnya menjadi sedih.
“Maaf ya Nabilah, sudah bertanya tentang hal itu,” kata Aliando lirih. Dia merasa menyesal karena menanyakan tentang keberadaan orang tua Nabilah yang kini telah tiada.
“Yeah, it’s okey. Gak apa-apa,” kata Nabilah sambil tersenyum ke arah Aliando. Senyuman nya sangat sayu. Senyuman yang mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. Pesona senyuman Nabilah lain dari biasanya. Senyuman dengan wajah sayu sangat disukai oleh Aliando. Manis sekali senyum cewek ini pikirnya.
Mereka berdua terus mengobrol dan terkadang saling bercanda. Nabilah mulai menyadari, sosok Aliando yang selama ini terlihat cool, perlahan menunjukkan karakter aslinya yang asyik kalau di ajak ngobrol. Apalagi ngobrolnya dengan Nabilah yang memang suka bicara alias tidak pendiam. Perlahan keakraban mulai terjalin diantara keduanya.
Keasyikan ngobrol, tidak terasa mobil yang membawa mereka sudah hampir sampai. Nabilah lalu meminta untuk berhenti beberapa meter lagi dari posisi mereka sekarang. Setelah sampai di depan pagar rumahnya, Nabilah lalu turun kemudian berpamitan dengan Aliando dan supirnya. Tidak lupa pula dia mengucapkan terima kasih yang di balas dengan lambayan tangan Aliando.
Mobil yang ditumpangi Aliando kemudian berlalu dari hadapan Nabilah  Terlihat mobil itu semakin melaju ke dalam komplek perumahan CLUSTER GARDEN. Pandangan Nabilah terus tertuju ke arah mobil yang semakin jauh melaju. Sepertinya dia ingin tahu posisi mobil berhenti, alias letak rumah Aliando. Namun mobil semakin menjauh dan kemudian berbelok, yang artinya tidak bisa dijangkau lagi oleh pandangan mata Nabilah. Tapi setidaknya dia merasa senang karena rumah mereka berada dalam satu komplek. Kapan-kapan bisa berkunjung dan silaturahmi pikir Nabilah. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Sore harinya ketika panas matahari semakin berkurang dan jam di tangan Nabilah menunjukkan pukul 04.30 sore, dia berjalan-jalan santai di pedesaan di dekat komplek perumahannya. Dengan setelan baju kaos lengan pendek berwarna putih dan celana jeans panjangnya dia berjalan santai menyusuri jalanan pedesaan yang dikelilingi oleh persawahan. Tidak lupa pula dia membawa  ransel hitam berisi air mineral dan cemilan untuk menemani waktu santainya. Dia sudah berencana untuk pergi sampai matahari tenggelam dan sudah diizinkan oleh om dan tantenya.
Suasana di pedesaan sore itu lebih sepi dari pagi harinya. Jumlah orang yang lalu lalang lebih sedikit. Para petani hanya ada beberapa yang masih bekerja di sawahnya.  Anak-anak yang biasa bermain layang-layang juga tidak terlihat hari itu.
Sambil terus berjalan, Nabilah lalu merogoh sakunya. Dia mengambil sesuatu benda disakunya. Benda kecil berwarna putih yang tadi di ambilnya dari laci kamarnya. Benda misterius yang bertuliskan feliz de que lo. Ya, benda itu adalah liontin misterius yang selama ini membuat Nabilah jadi terlibat dalam hal-hal aneh. Hal-hal aneh yang terjadi dalam mimpi. Dua kali sudah dia mengalami mimpi aneh yang dimaksud.  Untuk perjalanannya kali ini dia bermaksud untuk membawa serta Liontin putih itu, sebab tujuannya kali ini adalah padang rumput luas tempat dia menemukan liontin itu pertama kali.
Sambil terus berjalan ingatan Nabilah kembali terbuka, ingatan saat dia mengalami mimpi keduanya.  Mengenai pesan dari wanita yang menamakan dirinya Putri Pevita agar menjaga baik-baik Liontin berharga itu. Putri Pevita juga menjanjikan akan bertemu langsung dengan Nabilah pada saat malam bulan purnama  di pintu gerbang menuju negerinya. Dan pintu gerbang itu terletak di pohon besar di padang rumput yang saat ini akan di tuju oleh Nabilah. Walaupun waktu pertemuan itu masih beberapa hari lagi dari yang dijanjikan putri Pevita, namun Nabilah ingin pergi ke pohon itu terus tertidur disana dan bermimpi lagi. Dia ingin bermimpi seperti mimpi aneh pertama, yakni mimpi yang di dalamnya ada kedua orang tuanya. Beserta juga penyihir hitam dan pasukan jahatnya ikut serta di dalam mimpi itu. Nabilah ingin mengulang momen itu terjadi lagi. Momen dimana dia bisa bertemu kedua orang tuanya, menyentuh dan memeluk mereka lagi. Karena dia yakin semua keanehan ini juga berhubungan dengan kedua orang tuanya. Itulah yang menjadi alasannya ketika bersedia membantu putri Pevita untuk menjaga liontin itu dari incaran penyihir jahat. Dan dia juga yakin bahwasanya liontin itu bisa membantunya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Yeah, setidaknya di dalam mimpi pun juga tidak apa-apa pikir Nabilah.

Nabilah pun semakin erat menggenggam liontin putih itu. Menjaganya baik-baik dan jangan sampai hilang. Karena putri Pevita juga pernah berkata kalau si magician jahat bisa saja mengirim utusannya ke dunia nyata untuk merebut liontin putih itu. Jadi walau bagaimanapun, dia harus terus waspada dan hati-hati. Karena mungkin saja liontin itu juga ada sangkut pautnya dengan keberadaan ayah dan ibunya. Kalau sampai liontin itu hilang, maka hilang pula harapan Nabilah untuk mengetahui petunjuk tentang kedua orang tuanya. Dapat disimpulkan kalau liontin itu ada dua kegunaanya. Selain sebagai perisai pelindung negeri Feliz, juga bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui keberadaan orang tua Nabilah.
Nabilah terus berjalan melewati jalanan pedesaan yang dikelilingi persawahan. Tinggal beberapa puluh meter lagi menuju ke padang rumput tempat tujuan Nabilah.  Dari kejauhan sudah terlihat padang rumput luas itu yang berada beberapa puluh meter dari persawahan yang dihubungkan oleh jalan setapak. Terlihat pula beberapa pohon di setiap sisi padang rumput itu, dan tentunya satu pohon yang paling besar  yang mengingatkan Nabilah dengan mimpi pertamanya.  Dia terus menatap ke arah pohon besar misterius itu dari kejauhan. Sesekali dia juga terus menatap liontin putih yang ada digenggamannya sambil terus mengingat mimpi anehnya.  Namun Dia tidak lupa juga untuk selalu waspada kalau-kalau ada orang yang mau megincar  liontin misterius itu.
Terik panas semakin berkurang saat Nabilah mulai menyusuri jalan setapak yang menghubungkan antara jalanan dan padang rumput. Jalan setapak itu dikelilingi sawah yang waktu itu terlihat sepi. Nabilah terus menerus menyusuri jalan itu sambil terus menatap ke arah padang rumput yang letaknya beberapa meter dari posisinya sekarang.
Perasaan aneh mulai menghinggapi Nabilah. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Seperti terdengar langkah kaki di belakang dirinya. Seperti ada bunyi seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak. Semua perasaan was-was itu terus mengganggunya.  Namun ketika dia menengok ke belakang tak ada seorang pun di sana. Yang ada hanyalah hembusan angin yang tidak terlalu kencang. Nabilah pun terus melanjutkan perjalanannya yang hanya tinggal beberapa puluh meter saja.
Tidak berapa lama kemudian, sampailah Nabilah di padang rumput luas yang ingin ditujunya. Hamparan hijau padang rumput yang tertiup angin seakan menyambut kedatangannya. Begitu juga dengan deretan pohon yang berjejer di setiap sisi padang rumput, seakan berdiri tegak menyambut dirinya. Sejauh mata memandang, tak ada seorang pun yang berada di padang rumput itu selain dirinya.
Tatapan mata Nabilah kembali tertuju ke pohon besar yang jaraknya sekitar 45 meter dari tempatnya berdiri. Langsung saja dia berjalan mendekati pohon besar misterius itu. Langkah demi langkah membawanya semakin dekat dengan pohon yang ingin ditujunya. Semakin dekat dan semakin dekatlah dia dengan pohon yang tinggi besar itu.
Nabilah terus mengamati sekeliling pohon besar itu, ketika dia sudah berada tepat di depannya. Tinggi pohon itu sekitar 4 meter lebih, dengan dedaunan yang sangat rimbun di atasnya. Jenis pohon itu tidak begitu diketahui Nabilah karena dia memang tidak menguasai ilmu tentang jenis-jenis pepohonan. Yang pasti pohon itu sangat rindang dan sangat sejuk kalau kita berada di bawahnya.
Beberapa menit lamanya Nabilah mengamati pohon itu dari ujung daun sampai ke pangkal akarnya. Namun sedikit pun tidak terlihat keanehan maupun kejanggalan dari pohon misterius itu. Dari wujudnya sama saja dengan pepohonan yang lain yang ada di padang rumput itu. Cuma tingginya saja yang berbeda, karena pohon misterius itu menjulang lebih tinggi dari pohon yang lainnya. Lagi pula letaknya di barisan tengah dari deretan pepohonan lainnya sehingga terlihat mencolok di tengah-tengah.
Nabilah kemudian mulai meneruskan misinya untuk tidur bersandar di pohon besar yang ada di hadapannya. Tujuannya supaya dia bisa kembali ke dalam mimpi dan bertemu dengan kedua orang tuanya seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Dia mulai duduk dan meletakkan ranselnya di samping tubuhnya. Liontin putih yang dari tadi digenggamnya kemudian dia masukkan ke dalam sakunya supaya kalau dia tertidur liontin itu tidak akan jatuh atau hilang. Dia menatap arlojinya yang sekarang menunjukkan jam 05.00 sore, masih sempat pikirnya.
Nabilah pun mulai bersandar di pohon besar itu. Perlahan-lahan dia mulai memejamkan matanya dan mengosongkan pikirannya. Seluruh tubuhnya dibuatnya se rileks mungkin agar dia cepat terlelap. Dan akhirnya setelah beberapa menit berlalu, dia pun mulai terlelap. Pergi dari dunia nyata menuju ke alam mimpi ditemani hembusan angin sore yang menghujam lembut ke kulitnya. Diikuti dengan kekuatan tekad untuk menemukan petunjuk mengenai keberadaan kedua orang tuanya.
Nabilah pun mulai tertidur dengan sangat pulas. Menuju ke alam mimpi yang jauh lebih dalam dan semakin jauh lagi....

***

Visualisasi yang terjadi tidak sesuai yang diharapkan Nabilah.  Tidak ada gambaran tentang kedua orang tuanya saat ini. Sesuatu yang diharapkannya sebelum pergi ke padang rumput, namun kenyataannya tidak terjadi sama sekali.  Yang ada hanyalah dia sekarang sedang berdiri di sebuah tempat yang luas dan gelap, karena sedang malam hari. Tempat itu bernuansa sangat angker dan menyeramkan. Saat ini dia berdiri seorang diri di sebuah taman pemakaman.  Ada puluhan bahkan ratusan makam yang mengelilinginya saat ini. Semua tampak nyata dan membuat Nabilah merinding ketakutan. Wajahnya sangat tegang diiringi dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Bagaimana rasanya seorang diri di tengah pemakaman yang luas dan hari sudah tengah malam? Seperti itulah yang sekarang dirasakan oleh Nabilah.

Pada dasarnya setiap orang pasti tidak sadar dengan apa yang dialaminya antara mimpi atau kenyataan -- ketika dia berada di alam mimpi. Semua tampak nyata kalau kita sedang bermimpi. Bahkan dalam mimpi pun kita bisa terluka dan mati, namun kalau sudah terbangun kita baru sadar bahwa kita baru saja bermimpi. Dan pastinya kita merasa sangat lega ketika menyadari bahwa mimpi buruk kita itu hanyalah sebatas mimpi belaka.
Kembali ke alam mimpi yang kini di alami Nabilah. Ketakutan dan kegelisahan masih melingkupi batinnya. Saat ini dia sangat ketakutan karena berada di tengah-tengah pemakaman luas yang penuh dengan makam yang terlihat menyeramkan. Makam tersebut tampak seperti di film-film horror yang sering ditonton Nabilah. Di belakang posisi Nabilah berada, berdiri sebuah pohon besar yang bentuk dan ukurannya sama persis dengan pohon yang ada di padang rumput, tempat di mana Nabilah saat ini terlelap dalam tidurnya di alam nyata. Tampak jelas ketegangan dan kebingungan semakin melingkupi Nabilah. Raut wajahnya sangat tegang dan dipenuhi dengan ketakutan. Dia bingung harus pergi ke arah mana, karena sejauh mata memandang hanya ada makam dan makam.
Suasana semakin mencekam ketika lolongan suara serigala terdengar di kejauhan. Lolongan itu saling bersahutan satu sama lain, seakan-akan para serigala itu sedang kelaparan dan  sedang ingin mengincar mangsanya. Ditambah lagi dengan hembusan angin malam yang sangat dingin menusuk ke kulit, menambah suasana horror dan makin menambah ekspresi takut di wajah Nabilah.
Rasa takut itu semakin bertambah berkali-kali lipat tatkala terdengar suara-suara mengerikan seperti raungan orang mati yang sedang kesakitan. Suara raungan itu makin lama makin banyak terdengar sampai-sampai suara itu membahana di seluruh area pemakaman. Suara menyeramkan itu membuat Nabilah mundur selangkah karena terkejut. Sehingga posisinya saat ini berdiri bersandar di pohon besar yang berada di tengah-tengah pemakaman. Jantungnya berdegup kencang, ekspresi wajahnya seperti mau menangis tapi tak bisa karena rasa takut yang melebihi keinginannya untuk mengalirkan air mata.
Tiba-tiba saja makam-makam yang mengelilingi Nabilah seperti bergerak. Tanah di permukaan makam-makam itu seperti terbuka dengan sendirinya, sehingga terdapat celah di permukaan masing-masing makam itu. Dari celah itu tiba-tiba keluar telapak tangan makhluk yang ada di bawah nya. Tangan itu berusaha meraih pijakan supaya tubuh mereka bisa naik ke atas permukaan. Satu-persatu makhluk-makhluk itu kemudian berhasil naik ke permukaan tanah, alias keluar dari tempat kuburnya. Semakin lama jumlah mereka semakin banyak, sampai akhirnya seluruh makhluk yang ada di makam itu berhasil naik ke atas permukaan. 
Wujud mereka sangat menyeramkan dan bisa dibilang seperti Zombie kalau di film-film horror yang sering ditonton Nabilah. Menatap mereka saja Nabilah tak sanggup, apalagi kalau harus melawan. Ingin lari dari sana, tapi tak bisa. Tempat Nabilah berdiri sudah dikelilingi oleh para zombie itu.  Dan yang sekarang bisa dilakukan Nabilah hanyalah berpegangan erat kepada pohon besar yang ada di belakangnya sambil menunduk dan berdoa, dengan perasaan super takut dan super tegang serta rasa ingin menangis.
Tiba-tiba ada cahaya putih berkelap-kelip dari dalam saku jeans Nabilah. Ternyata cahaya itu berasal dari benda yang ada di dalam sakunya itu. Ya, benda yang berkelip itu adalah liontin putih yang selama ini tersimpan di dalam saku Nabilah. Dia kemudian dengan cepat mengeluarkan liontin itu dari dalam sakunya, kemudian mengangkatnya dengan tinggi-tinggi. Dia berharap liontin yang menyala itu bisa menolongnya untuk lari dari tempat mengerikan itu. Atau paling tidak, bisa mengeluarkan perisai seperti halnya yang dilakukan oleh Raline, magician pengawal putri Pevita.
Liontin putih itu semakin tinggi diangkat oleh Nabilah. Sampai-sampai kakinya harus berjinjit supaya liontin itu bisa mengeluarkan kekuatannya. Terus-menerus Nabilah mencoba supaya liontin itu bisa mengeluarkan kekuatannya, namun usahanya ternyata sia-sia saja. Liontin itu hanya menyala dan tidak mengeluarkan kekuatan perisai yang selama ini dimiliki oleh benda itu. Justru cahaya liontin itu memancing para makhluk zombie yang ratusan jumlahnya, untuk semakin mendekat ke arah Nabilah. Dari gerak-geriknya, mereka seperti berlomba-lomba untuk mendapatkan liontin putih itu. Mereka saling sikut satu sama lain untuk berusaha lebih dulu merebut liontin itu dari tangan Nabilah. Kini mereka semakin dekat berjalan ke arah Nabilah yang hanya bisa berpegangan erat dengan pohon di belakangnya.
Para zombie itu kini sudah berada mengelilingi Nabilah. Mereka kemudian mendekat dan langsung mengepung tubuh Nabilah. Mereka bermaksud mengambil liontin putih yang kini digenggam erat oleh Nabilah. Dia tidak mau melepaskan liontin itu begitu saja, karena itu petunjuk satu-satunya yang bisa memberitahu keberadaan kedua orang tuanya. Dia tetap terus melawan sekuat tenaga meskipun yang dihadapinya adalah makhluk menyeramkan yang jumlahnya sangat banyak.
Walau dengan sekuat tenaga Nabilah mempertahankan liontin itu, pada akhirnya liontin itu bisa direbut oleh salah satu zombie itu. Liontin yang merupakan kunci dari keselamatan negeri feliz dan juga petunjuk keberadaan orang tua Nabilah. Kontan saja hal itu menimbulkan teriakan keras yang keluar dari mulut Nabilah.
“TIDAAAAKKK!!!!” teriak Nabilah memecah suasana mencekam waktu itu.

***

Hembusan angin malam menerpa Nabilah yang masih berusaha membuka kedua matanya. Angin Malam yang menerpa padang rumput tempat Nabilah sekarang berada. Perlahan-lahan Nabilah mulai tersadar dari tidurnya, walaupun matanya masih belum terbuka sepenuhnya. Dia bisa merasakan keringat dingin yang mengucur dari dahi menuju pipinya. Keringat dingin yang timbul karena rasa takut dan tegang ketika berada di dalam mimpi yang sangat menyeramkan. Mimpi yang terlihat begitu nyata.
Dengan setengah sadar dan posisi tubuh masih bersandar di pohon, Nabilah lalu merogoh saku jeansnya. Dia berusaha memastikan keberadaan liontin yang ada di dalam sakunya itu. Nafas lega pun berhembus dari hidungnya setelah tahu kalau liontin itu masih ada. Dengan sigap Nabilah kemudian mencoba bangkit dari persandarannya di pohon sambil meraih ransel di sampingnya.
Dengan agak berat Nabilah membuka kedua matanya kemudian dia melihat arlojinya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, tidak terasa sudah 2 jam tertidur pikirnya. Namun raut wajahnya agak kecewa karena mimpinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terkadang dia merinding sendiri tatkala mengingat ratusan makhluk menyeramkan alias zombie yang mengepung dirinya. Gigi-gigi yang nampak tajam dan tatapan mata kosong dengan tubuh luka-luka terus menghantui pikiran Nabilah. Namun dia sangat bersyukur itu hanyalah mimpi dan bukan kenyataan.  Dia berharap semoga tidak akan memimpikan hal itu lagi, semoga saja pikir Nabilah.
Nabilah kemudian bersiap untuk pulang ke rumahnya. Pandangannya pun mengarah ke arah jalan pulang yang ada di depannya. Namun tiba-tiba saja ekspresinya langsumg berubah menjadi tegang. Air mukanya yang sebelumnya lega sehabis bermimpi buruk, kini kembali berubah kembali menjadi sangat takut. Keringat dingin kembali mengucur dari dahinya.
Dari kejauhan yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat Nabilah berada, ada sosok seseorang laki-laki berdiri di sana. Sosok itu berbadan sedang namun tinggi dan mengenakan jaket berwarna hitam. Sorot matanya tertuju ke arah Nabilah. Namun ekspresi wajahnya juga sangat tegang, sama seperti Nabilah.
Nabilah terus bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa orang itu? Apakah dia sudah lama berdiri di sana?

Yang terpenting adalah, apakah dia utusan yang di kirim oleh orang yang bernama ratu Eden? Dan disuruh untuk merebut liontin putih yang kini berada di saku Nabilah?? 

(To be continued...)


Ditulis oleh: Jack Neptune



Baca Juga
> Jual eBook bisnis online kekinian Rp25.000, bisa bayar via pulsa [LIHAT]