--> Skip to main content


[CERBUNG] Magician of Feliz (Bab 5)

 BAB 5: NABILAH DAN ALIANDO (PART 2)

Baca cerita sebelumnya di:

baca cerbung online magician of feliz bab 2
        

      Suasana pagi yang dingin dan berkabut menjadi saksi kehadiran sosok lelaki misterius yang kini muncul untuk kedua kalinya dihadapan Nabilah. Sosok tersebut terlihat samar-samar karena tertutup kabut. Dari kejauhan, sorot matanya terlihat sangat tajam menatap Nabilah. Membuat Nabilah semakin takut dan tegang.
      Seketika itu juga Nabilah kemudian mendatangi Aliando yang berjalan beberapa meter di depan Nabilah. Dengan cepat dia meraih bahu Aliando yang dari tadi tidak menyadari kepanikan yang dialami Nabilah. Lelaki bertubuh kurus itu pun kemudian menoleh kearah Nabilah.
      “Ada apa Nabilah?” tanya Aliando sambil menoleh ke arah Nabilah yang ada di belakangnya. “Kenapa kamu panik?” tanyanya lagi.
      “Aku sangat takut. Tadi sepertinya ada yang mengikuti kita dari belakang. Tadi dia ada disana,” kata Nabilah dengan wajah tegangnya, seraya menunjuk ke arah belakang tempat sosok lelaki misterius tadi berdiri. Dengan cepat Aliando menoleh ke arah yang dimaksud Nabilah.
“Disana tidak terlihat apapun. Cuma terlihat kabut saja, selebihnya tidak ada lagi,” dengan raut wajah bingung Aliando berucap kepada Nabilah. Matanya terus menelurusi ke arah yang dimaksud Nabilah untuk meyakinkan pandangannya.
Nabilah kemudian terhenyak setelah melihat ke arah belakangnya yang memang tidak ada seorang pun. Padahal tadi dia sangat yakin kalau sosok lelaki itu memang ada berdiri beberapa meter dari posisinya.
      “Padahal aku yakin tadi ada orang di sana. Dia seperti mengikuti kita,” gumam Nabilah dengan lirih. Terlihat raut wajahnya sangat yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.
      “Ya sudah. Mungkin itu tadi perasaan kamu saja. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Hari semakin siang kalau kita terus berlama-lama di sini,” Aliando mencoba menenangkan Nabilah.
Kemudian dia dengan cepat berjalan ke depan untuk mendatangi tempat yang ingin mereka tuju. Nabilah pun mengangguk dan juga ikut berjalan mengiringi Aliando. Dalam hatinya sangat  yakin dengan apa yang dilihatnya, sehingga dia tetap waspada dan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka. Hatinya masih belum bisa tenang karena sosok itu adalah sosok yang sama yang pernah dilihatnya sewaktu di padang rumput. Tidak mungkin semua itu hanya sekedar halusinasi. Pasti orang itu akan muncul lagi dan lagi pikir Nabilah. Namun satu hal yang membuat Nabilah bingung. Kenapa sosok itu mengikuti Nabilah, padahal yang diincarnya adalah liontin putih yang kini tersimpan di rumah Nabilah. Mungkinkah dia juga mengincar nyawa Nabilah, batin Nabilah terus bergumam ketakutan.
     
      Hari semakin terang tatkala Nabilah dan Aliando berjalan di jalanan pedesaan. Jam di arloji Nabilah sudah menunjukkan pukul 07.30.  Kabut yang dari tadi menyelubungi pandangan, perlahan semakin menghilang. Suhu dingin yang dari tadi menyelimuti tubuh mereka, perlahan semakin berkurang. Begitu juga rasa takut yang dari tadi melingkupi hati Nabilah perlahan mulai terlupakan. Semua ketakutan akan sosok misterius yang muncul beberapa menit yang lalu sudah sedikit dikesampingkan karena obrolan sepanjang jalan yang terus dilakukan oleh Aliando dan Nabilah. Obrolan yang santai sambil refreshing menikmati hari libur mereka berdua. Sekaligus sebagai first date, pikir Nabilah. Lagipula perjalanan yang ditempuh kali ini jaraknya lebih jauh ketimbang jalan-jalan sore yang biasa dilakukan Nabilah.  Dan rute yang ditempuh juga berlawanan dengan rute yang biasa dilalui Nabilah ketika berjalan-jalan ke padang rumput. Perbukitan yang ingin mereka tuju saat ini berada di sebelah barat, sedangkan padang rumput berada di sebelah timur.
      Pemandangan terlihat indah di sepanjang jalan menuju ke perbukitan. Hamparan sawah terlihat lebih luas dan banyak terdapat pepohonan yang berjejer di kiri dan kanannya. Terlihat dikejauhan barisan perbukitan yang diatasnya terdapat banyak pepohonan dan perkebunan kelapa sawit. Terlihat pula ada beberapa rumah yang berdiri di atas lereng bukit.
     
Suasana di jalan pedesaan menuju perbukitan yang di tempuh Nabilah dan Aliando kali ini tidak se sepi di komplek perumahan mereka. Terlihat ada beberapa orang petani dan orang-orang desa lainnya lalu lalang di jalan, walau tidak seramai hari biasa.
      Nabilah kemudian mengajak Aliando untuk berhenti sebentar karena merasa capek. Maklum, perjalanan kali ini lumayan jauh dari biasanya dilakukan Nabilah.
Keduanya kemudian berjalan ke pinggir jalan untuk berhenti sejenak. Sambil memandang ke arah persawahan dan perbukitan yang membentang disekelilingnya -- Nabilah kemudian meraih ransel dipunggungnya dan mengambil air mineral yang ada di dalamnya. Dengan cepat dia menghabiskan sepertiga dari air mineral yang di bawanya. Rupanya dia sangat kehausan karena perjalanannya yang lumayan jauh.
      “Kamu mau minum juga?” tanya Nabilah kepada lelaki berbadan kurus yang berada di sampingnya.
      “Tidak usah. Aku belum haus. Lagipula aku juga bawa air mineral sendiri,” kata Aliando sambil menunjuk ke dalam tas ransel yang dari tadi di bawanya.
      Sambil duduk santai di bawah pohon rindang dipinggir jalan, Nabilah dan Aliando memandang ke arah lereng perbukitan yang nampak sangat indah.
      “Di sana lah tempat tujuan kita nanti. Aku ingin mengajakmu ke air terjun yang ada di belakang bukit itu,” kata Aliando sambil menunjuk ke arah bukit yang ada di kejauhan. Hal itu membuat Nabilah semakin antusias dan bergairah, pasalnya dia baru tahu kalau di daerah sana ada air terjun. Pasti sangat menyenangkan pikirnya.
Tidak lama kemudian keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
      “Oh iya Aliando, kamu kemarin mau memberitahu letak rumahmu kan?” tiba-tiba Nabilah teringat akan janji Aliando beberapa hari yang lalu. Namun sepertinya sudah terlambat untuk menagih janji itu, karena mereka berdua sudah jauh meninggalkan komplek perumahan CLUSTER GARDEN yang merupakan tempat tinggal Aliando dan Nabilah.
      “Astaga. Aku juga baru ingat,” sesal Aliando sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi, pertanda menyesali sesuatu yang terlupakan.
      “Mungkin nanti pas kita sudah pulang saja. Kita mampir sebentar di rumahku. Gimana?” tanya Aliando kepada Nabilah.
      “Yeah. Terserah saja. Yang penting sekarang kita jalan-jalan dulu. Menikmati liburan” Nabilah berkata dengan santai. Diiringi dengan senyum yang tersungging di wajah manisnya.
      Aliando dan Nabilah terus berjalan menyusuri jalanan pedesaan sambil terus bercakap-cakap dengan penuh keakraban. Sampai pada akhirnya mereka tiba di depan jalan setapak di sebelah kiri jalan pedesaan. Jalan setapak itu semakin ke dalam semakin menanjak, karena jalan itu merupakan jalan menuju ke atas perbukitan. Dengan perlahan Aliando berjalan lebih dulu di jalan setapak itu, diikuti oleh Nabilah.
      Jam di arloji Nabilah sudah menunjukkan pukul 08.45 tatkala dia dan Aliando mulai menyusuri jalan setapak menanjak menuju ke atas bukit. Suasana pagi yang mulai terang dan matahari yang mulai memancarkan terik panasnya seolah menjadi penyemangat bagi Nabilah. Dia sudah tidak sabar lagi untuk menggapai puncak bukit dan melihat pemandangan pedesaan dari atas bukit itu. Selain itu dia juga sangat antusias untuk melihat air terjun yang kata Aliando berada di balik perbukitan.
      Dengan perlahan dan sedikit mengeluarkan tenaga Nabilah dan Aliando berjalan mendaki lereng bukit itu. Jalan setapak yang mereka lalui itu di kiri-kanannya banyak sekali pohon berjejer. Bisa dibilang hampir menyerupai hutan karena saking banyaknya pepohonan. Di sebelah kiri mereka terlihat kebun kelapa sawit yang sangat luas, yang jaraknya ratusan meter dari posisi Nabilah dan Aliando berada. Banyak sekali pohon kelapa sawit siap panen yang berjejer di kebun itu. Sangat teratur barisan pohon kelapa sawit itu yang semakin memperindah pemandangan di perbukitan tempat tujuan Nabilah dan Aliando.
      Suasana pagi semakin cerah dan warna langit sangat biru membentang di angkasa, tatkala Nabilah menoleh ke atas. Burung-burung beterbangan di langit seolah meramaikan suasana di perbukitan itu. Pemandangan indah serta sekelompok burung yang terbang merupakan ciptaan Tuhan yang membuat Nabilah terkagum-kagum. Disertai dengan udara sejuk dan tenang di pedesaan membuat pikiran menjadi segar dan perasaan menjadi baik. Apalagi di sampingnya ada seorang lelaki kurus namun tampan yang akhir-akhir ini selalu mengisi hari- hari Nabilah. Sosok yang menjadi penghibur ditengah sedih dan sepi Nabilah. Sosok yang sepertinya mulai mengisi kekosongan di hati Nabilah, yaitu Aliando. Nabilah pun terus menatap Aliando yang tengah berjalan di depannya. Sesekali Nabilah seperti tersenyum sendiri karena rasa senang di hatinya.
      Semakin lama jalan menanjak itu semakin membuat Nabilah tersengal-sengal. Padahal belum setengah jalan, tapi karena jarang berolahraga -- jadinya Nabilah mudah sekali kecapekan. Dia berhenti sejenak dan berusaha menormalkan nafasnya yang tersengal-sengal. Kakinya juga seperti pegal-pegal dan sangat sulit untuk melangkah. Melihat hal itu, Aliando kemudian datang menghampirinya.    
      “Kamu kecapekan ya? Sini biar aku gendong saja,” kata Aliando sambil berjongkok dan membelakangi Nabilah. Dia memberi isyarat agar Nabilah naik ke atas punggungnya alias digendong.
      “Hedehh.. Yang benar saja. Masa badan kamu yang kurus itu mau menggedong aku. Badan aku berat loh,” Nabilah meragukan usaha Aliando. Menurutnya Aliando tidak akan sanggup menggendongnya, apalagi harus menyusuri jalan menanjak. Dan jarak yang ditempuh pun masih lumayan jauh untuk menuju ke puncak bukit.
      “Hahaha.. Tenang saja. Biar badanku kurus, tapi tenagaku lumayan kuat loh,” kata Aliando meyakinkan Nabilah. Wajahnya terlihat yakin dan percaya diri.
Kemudian dengan setengah memaksa, Aliando menggendong Nabilah di punggungnya. Dengan sigap dia mengangkat tubuh Nabilah yang lumayan beratnya.
      “Ehh.. tu-tunggu dulu..” Nabilah berusaha mencegah usaha Aliando, namun sudah terlambat. Di punggung Aliando kini ada Nabilah yang digendong secara paksa. Sedangkan ransel yang dari tadi dibawa dipunggungnya, di taruhnya di bagian depan badannya. Aliando pun mulai melangkahkan kakinya ke depan sambil menggendong Nabilah plus ranselnya. Dia mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin jauh  semakin menanjak.
      Aliando berjalan dengan cepat menyusuri jalan menanjak sambil menggendong Nabilah. Tubuh kurus dan kaki kecilnya justru berjalan semakin cepat, walau harus menggendong gadis chubby itu. Hal itu membuat Nabilah sedikit bingung. Bingung karena kagum dengan lelaki kurus yang menggendongnya itu. Tidak sedikitpun terlihat rasa lelah di wajahnya. Lagipula dari tadi dia belum meminum air sedikitpun. Sungguh kuat orang ini pikir Nabilah.
Dia hanya bisa diam terpaku melihat betapa kuatnya Aliando yang tengah menggendong dirinya. Dengan cepat Aliando terus berjalan mendaki ke atas bukit itu walau harus menggendong Nabilah.
      “Kenapa kamu bisa sekuat ini?” Nabilah memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Aliando yang terus berjalan menyusuri jalan setapak di lereng itu.
      Aliando terdiam sejenak, kemudian dia menghela nafas dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis yang sedang digendongnya itu.
      “Aku sudah terbiasa dengan ini. Bagiku badanmu ini terasa ringan, Nabilah,” jawab Aliando sambil terus berjalan ke depan.
      “Wah kamu menghina aku ya,” tanya Nabilah. “Jelas-jelas badanku ini lumayan berat loh. Kan aku banyak makan hahaha,” lanjutnya seraya terbahak. Mendengar perkataan Nabilah itu -- membuat Aliando juga ikut tertawa.
      “Yeah, mungkin perasaanmu saja kalau badanmu berat,” kata Aliando. “Buktinya aku bisa menggendongmu sambil mendaki jalan ini,” tambahnya lagi sambil terus berjalan. Dan Nabilah pun tidak lagi mempermasalahkan perasaan bingungnya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Aliando, kalau berat badannya tidak terlalu berat. Semoga saja benar pikirnya.
      Jalan menuju ke bukit semakin menanjak,  membuat Nabilah harus berpegangan lebih erat di punggung Aliando, supaya dirinya tidak terjatuh. Dia merasa tenang dan nyaman berada di atas punggung lelaki itu. Dan dia merasa semakin dekat dengan Aliando, pikiran dan batinnya terasa semakin tenang. Hal itu membuatnya merasa aneh dan bingung akan apa yang dirasakannya sekarang.
Apakah itu cinta?
Namun yang pasti rasa senang Nabilah kali ini terasa berlipat ganda, pasalnya lelaki yang menggendongnya saat ini rela melakukan itu demi dirinya yang tengah kecapekan. Demi janjinya untuk menunjukkan pemandangan indah di perbukitan dan air terjun kepada Nabilah. Aliando rela melakukan itu semua, tapi demi apa? Nabilah terus bertanya-tanya dalam hatinya.
      Hari semakin siang dan matahari semakin memancarkan sinarnya yang menemani perjalanan Aliando yang tengah menggendong Nabilah menuju ke puncak bukit. Arloji di tangan Nabilah sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi. Lumayan lama juga perjalanan mereka dari muara jalan setapak menuju ke puncak bukit. Aliando yang dari tadi menggendong Nabilah mulai berkeringat karena rasa lelah yang mendera dirinya.
      “Kita sudah sampai !” seru Aliando dengan tiba-tiba yang membuat Nabilah terkejut dan tersadar dari lamunannya. Aliando kemudian dengan perlahan menurunkan Nabilah dari gendongannya. Dengan cekatan Nabilah pun turun dari gendongan Aliando.
Rasa pegal di kaki Nabilah sewaktu diperjalanan tadi berangsur mulai hilang. Kali ini dia sudah bisa melanjutkan perjalanan tanpa di gendong lagi. Dan kini keduanya bersiap menyusuri indahnya pemandangan di puncak bukit itu.
      Nabilah seperti tertegun melihat hamparan tanah luas di atas bukit. Di atasnya banyak sekali terdapat pepohonan rindang. Di sekelilingnya hanya terlihat pohon dan pohon. Namun kalau berdiri ke tepi sedikit, akan terlihat pemandangan indah persawahan dan juga rumah-rumah penduduk yang terbentang jauh di bawah bukit. Dari jauh sana juga terlihat komplek perumahan CLUSTER GARDEN yang nampak sangat kecil.
Kalau memandang ke bawah lagi akan sangat menyeramkan pikir Nabilah. Walaupun dia bukan pengidap phobia ketinggian, namun tetap saja ketinggian itu membuatnya sedikit merinding. Bayangkan saja kalau terjatuh dari atas bukit itu, tentu akan langsung mati pikir Nabilah.
      Angin sepoi berhembus di atas bukit yang kini ditempati Nabilah dan Aliando. Angin yang sangat sejuk di dataran yang lumayan tinggi seakan melengkapi pemandangan indah di atas bukit itu. Begitu juga dengan terik matahari pagi yang cahayanya sedikit tertutup oleh daun dari  dari pepohonan seolah menambah nyaman ketika berada di atas bukit itu.
      Aliando kemudian mengajak Nabilah untuk berteduh di pohon besar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka berdiri. Pohon itu terletak di sisi bukit. Di bawahnya tersusun bebatuan besar dan sangat cocok buat tempat duduk dan bersandar. Lagipula pohon besar itu letaknya di sisi bukit, sehingga pemandangan di depannya sangat amat indah. Pemandangan persawahan dan perumahan penduduk yang terletak jauh di bawah sana. Keduanya kemudian sudah berada di bawah pohon besar yang dimaksud oleh Aliando.
      Aliando kemudian membuka ranselnya, di dalamnya dia membawa tikar kecil yang terlipat menjadi lebih kecil dan muat di dalam ranselnya. Tikar itu kemudian dibentangkannya di atas bebatuan di bawah pohon besar tempat mereka duduk santai. Dia sengaja membawa tikar kecil itu supaya bisa bersantai seperti orang rekreasi pada umumnya. Aliando kemudian mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam ransel besarnya. Air mineral, susu kotak 2 buah, cemilan, wafer cokelat serta roti yang kini memenuhi tikar yang tadi dibentangkan Aliando. Ada hal yang unik dari makanan dan minuman yang di bawa Aliando. Semuanya sepertinya bukan produk buatan dalam negeri, melainkan buatan luar negeri alias produk impor. Mungkin dia tidak suka makanan buatan dalam negeri pikir Nabilah.
      Langsung saja Aliando melahap roti yang baru saja dikeluarkan dari dalam ranselnya, ditemani susu kotak yang juga dibawanya bersama roti itu. Nabilah kemudian juga mengeluarkan cemilan dari dalam ranselnya. Cemilan berupa wafer cokelat kesukaanya. Keduanya kemudian duduk santai di atas bukit itu untuk menikmati sarapannya masing-masing sambil memandang pemandangan indah di bawah sana.
      “Bagaimana pemandangan dari sini? Indah bukan?” tanya Aliando kepada Nabilah yang duduk di sampingnya.
      “Iya. Indah sekali. Hamparan sawahnya sangat hijau. Begitu juga dengan pepohonannya,” jawab Nabilah sambil terus memandangi pemandangan di bawah bukit. Raut wajahnya sedikit takjub karena keindahan alam di pedesaan yang dapat langsung dilihatnya dari atas bukit.
      “Ini belum seberapa. Masih ada pemandangan yang lebih indah lagi,” kata Aliando. “Di sebelah sana ada air terjun yang sangat indah. Dijamin kamu pasti suka,” tambahnya sambil menunjuk ke arah kiri dari posisi mereka duduk. Dengan nada meyakinkan Aliando menjelaskan tentang keindahan air terjun itu, sehingga membuat Nabilah menjadi semakin antusias dan tidak sabar untuk segera pergi ke tempat yang dimaksud oleh Aliando.
      “Wah jadi tak sabar ingin melihat air terjun itu,” gumam Nabilah. Matanya seperti memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar pada air terjun itu.
      “Haha. Nanti kita juga kesana. Tapi kita santai-santai disini dulu sambil menikmati cemilan dan pemandangan indah yang terlihat dari sini,” kata Aliando sambil terus melahap cemilan yang lumayan banyak dibawanya. Nabilah pun setuju untuk tetap berada disana agak lebih lama sebelum pergi ke air terjun yang dimaksudkan Aliando.

      Sambil menikmati pemandangan di bukit itu, Aliando dan Nabilah kemudian memulai percakapan yang sedikit lebih serius dari sebelumnya. Kali ini percakapan mereka adalah tentang kedua orang tua masing-masing. Dan hal itu adalah hal yang sedikit mengingat akan kesedihan di hati Nabilah, karena dia sudah kehilangan kedua otang tercintanya itu.
      Dengan ditemani hembusan angin sepoi dan cahaya matahari yang sedikit tertutup oleh daun pepohonan, Nabilah kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Dengan raut wajah sedih Nabilah bercerita kepada Aliando mengenai tragedi pesawat yang hilang beberapa bulan yang lalu. Dia menceritakan mengenai pesawat yang membawa serta kedua orang tua Nabilah beserta 200 penumpang lain dalam perjalanan menuju ke negara Hongkong.
“Belum sampai ke tempat tujuan, pesawat tersebut tiba-tiba hilang dari radar bandara. Keberadaannya juga tak bisa dilacak sampai sekarang. Bahkan dengan bantuan banyak Negara dan dengan peralatan super canggih, masih belum mampu juga melacak keberadaan bangkai pesawat. Hingga pada akhirnya pihak bandara memutuskan untuk berhenti melakukan pencarian. Mereka seperti menyerah dan menganggap seluruh korban sudah tewas,” dengan raut wajah sedih Nabilah menceritakan kronologi kejadian hilangnya pesawat sehingga mengakibatkan dirinya kehilangan kedua orang tercintanya itu. Suaranya terdengar sangat lirih dan tidak lama kemudian dia menangis karena teringat akan kejadian tragis itu.
Aliando yang merasa iba melihat Nabilah, kemudian menghibur Nabilah dengan mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Kali ini Aliando menceritakan mengenai dirinya dan juga tentang orang tuanya. Dia bercerita mengenai alasan kenapa dia pindah rumah dan juga tentu sekolahnya, semua karena orang tuanya yang dipindah tugaskan. Dan mau tidak mau seluruh anggota keluarga juga harus ikut serta, termasuk Aliando yang terpaksa harus pindah sekolah.
“Tapi aku sangat bersyukur dengan kepindahanku ini. Sebab dengan pindah ke sekolah baru, aku akhirnya bisa bertemu denganmu. Bisa berkenalan, kemudian berteman sangat dekat denganmu,” tutur Aliando dengan tersenyum ke arah gadis yang duduk di sampingnya itu.
“Jujur aku sangat senang bisa berada di dekatmu saat ini Nabilah. Aku sepertinya merasakan ada seseorang yang mengisi kekosongan di dalam hatiku. Menjadi teman di dalam sepiku,” kata Aliando dengan sangat romantis. Tidak biasanya Aliando berkata dengan gaya seperti ini pikir Nabilah.  Bola matanya terus menatap ke arah mata Aliando yang dari tadi juga terus menatap dirinya.
Mendengar penuturan Aliando itu, hati Nabilah menjadi berbunga-bunga. Dia mulai berfikir sepertinya Aliando mempunyai rasa yang sama dengan apa yang dirasakannya. Karena hal itu terlihat jelas dari cerita Aliando yang sangat bersyukur bisa dekat dengan dirinya. Serta ungkapan dari dalam hati Aliando yang terlihat sangat jelas menyiratkan sesuatu kepada Nabilah. Sesuatu yang meartikan kalau dirinya sangat berharga di mata Aliando. Entah karena apa tapi yang pasti dia merasa kalau Aliando merasakan hal yang sama dengan dirinya, setidaknya itulah sekarang yang dipikirkan Nabilah.
“Kamu terlihat sangat cantik hari ini, Nabilah,” tutur Aliando kepada Nabilah dengan tiba-tiba. Mendengar hal itu, hati Nabilah sontak sangat senang sampai-sampai dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aliando kemudian semakin mendekatkan wajahnya kepada Nabilah. Matanya terus menatap ke arah Nabilah yang juga tidak berhenti menatap mata Aliando.
Wajah keduanya semakin mendekat dan terus mendekat..
Hingga akhirnya bibir mereka saling bertemu satu sama lain. Bibir Aliando mengecup bibir Nabilah dengan sangat lembut. Begitu juga Nabilah yang terasa menikmati kecupan dari bibir Aliando. Dia kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Aliando untuk semakin menegaskan ciumannya. Keduanya terlihat menikmati ciuman itu terutama Nabilah yang merasa kalau itu adalah ciuman pertama bagi dirinya. Ciuman dari seorang pria tampan yang disukainya.
Kejadian itu tidak berlangsung terlalu lama, sampai akhirnya Aliando mengakhiri ciuman mesranya kepada Nabilah. Diikuti oleh Nabilah yang juga melepaskan pelukannya dari leher Aliando. Keduanya kemudian terdiam sejenak. Nabilah terlihat menundukkan kepalanya, raut wajahnya merah merona karena kejadian barusan baru pertama kali dilakukannya. Pengalaman berciuman mesra dengan seorang pria yang disukainya, membuatnya sangat senang dan kejadian itu tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Sebuah momen yang dia harap bisa terulang kembali. Momen penuh cinta layaknya Romeo dan Juliet -- dan juga bagaikan Edward dan Bella pikir Nabilah.
 “Bagaimana perasaanmu Nabilah?” tanya Aliando sambil menatap Nabilah yang dari tadi tertunduk. Kemudian wajahnya kembali menatap ke arah Aliando.
“Aku merasa sangat bahagia,” jawab Nabilah sambil tersenyum. Tiba-tiba dia memeluk Aliando dan membuat Aliando sedikit terkejut. Aliando kemudian membalas pelukan Nabilah dengan pelukan yang menyiratkan rasa sayangnya kepada Nabilah. Terlihat Nabilah begitu bahagia saat itu
“Aku sangat mencintaimu. Aku takut kehilangan dirimu,” bisik Nabilah ke telinga Aliando sambil terus memeluk lelaki kurus namun berparas tampan itu.
“Aku juga,” sahut Aliando lirih sambil mendekap erat sang pujaan hati yang kini ada dihadapannya. Keduanya menikmati momen indah kebersamaan yang penuh cinta ditemani dengan pemandangan indah di perbukitan dan hijaunya pepohonan di sekitar mereka. Dan sinar matahari pagi menjelang menjadi saksi akan cinta kedua insan yang tengah berbahagia itu.

***

“Masih jauh ya?” tanya Nabilah dengan raut wajah kelelahan.
“Sebentar lagi sampai kok,” jawab Aliando yang berjalan lebih dulu dari Nabilah. Keduanya saat ini sedang berjalan menyusuri perbukitan untuk menuju ke air terjun indah yang ingin diperlihatkan Aliando kepada Nabilah.
Matahari yang semakin terik dan angin sepoi yang terkadang berhembus menemani Aliando dan Nabilah yang tengah berjalan menuju ke lokasi air terjun yang berada di balik perbukitan. Kali ini jalan yang mereka lalui sedikit lebih sulit daripada perjalanan menuju ke bukit. Mereka harus berjalan menuruni lereng bukit yang lumayan terjal. Jalan yang dilalui juga penuh dengan semak-semak dan bebatuan yang lumayan sulit untuk dilewati.
Dengan perlahan Nabilah dan Aliando berjalan melewati medan yang sulit itu. Aliando yang berjalan lebih dulu dengan hati-hati menyusuri jalan terjal penuh bebatuan yang terus menurun. Tangannya memegangi tangan Nabilah yang berjalan di belakangnya. Nabilah seringkali hampir terpeleset karena keseimbangan badannya tak sebaik Aliando. Begitu pula dengan kegesitan dan kelincahannya yang tak sebagus dari lelaki yang berjalan di depannya.
“Itu air terjunnya sudah terlihat!” seru Aliando tiba-tiba. Tangannya menunjuk ke sebelah kanan dari posisi mereka berjalan. Air terjun yang dimaksud oleh Aliando mulai terlihat dari kejauhan, walaupun cuma terlihat sedikit karena pandangan Nabilah dan Aliando yang tertutup oleh pepohonan yang ada di depan keduanya. Desiran air terjun terdengar jelas di telinga mereka. Mereka pun berjalan semakin cepat menuju ke lokasi air terjun tersebut berada.
Aliando dan Nabilah kemudian sampai di sebuah tebing batu yang merupakan ujung dari jalanan curam penuh dengan pepohonan dan bebatuan. Di atas tebing itu tidak terdapat pepohonan atau semak-semak. Hanya ada bebatuan saja yang ukurannya besar-besar. Tebing itu berada di ketinggian sekitar 50 meter dari atas sungai yang merupakan terusan dari air terjun. Sedangkan air terjun itu berada sekitar 100 meter dari tebing tempat Nabilah dan Aliando berdiri.
Dari tebing itu terlihat derasnya air terjun yang lumayan tinggi menjulang dan terlihat sangat indah sekali. Aliran airnya yang deras mengalir cepat ke arah sungai yang ada di bawah tebing tempat Nabilah dan Aliando berdiri. Sungai itu arusnya sangat deras dan penuh dengan batu kali. Ukurannya lumayan lebar, sangat cocok untuk olahraga arung jeram. Aliran sungai itu lumayan panjang, bermuara dari air terjun, dan terus mengalir menuju ke pedesaan.
Dari raut wajah Nabilah, terlihat dia sangat mengagumi pemandangan indah air terjun itu. Walaupun dia sekarang berada jauh dari posisi air terjun itu, tapi dia tetap tak bisa mengalihkan pandangan dan kekagumannya atas keindahan panorama yang sekarang ada dihadapannya. Sungguh luar biasa, pikir Nabilah yang kini berada di atas tebing. Saat ini dia belum bisa melihat lebih dekat dengan air terjun yang deras itu karena jalan menuju ke sungai yang merupakan aliran air terjun, medannya semakin terjal dan cukup sulit untuk dilalui. Sesuai saran Aliando, mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di tebing tempat mereka berada sekarang.
“Bagaimana menurutmu dengan pemandangan air terjun ini?” tanya Aliando sambil tersenyum ke arah wanita yang dicintainya itu.
“Luar biasa! Aku tidak menyangka di desa ini ada air terjun sebesar ini. Pemandangan yang sangat indah sekali!” jawab Nabilah dengan nada kagum. Pandangannya terus menerus memandangi air terjun yang mengalir deras itu.
“Tapi pemandangan ini masih kalah indah dengan pemandangan wajahmu yang cantik, hehehe.” Aliando mencoba menggoda Nabilah sambil tertawa sendiri.
“Wah iya donk. Tentu saja itu sudah tidak diragukan lagi kalau aku ini memang sangat cantik hahaha” Nabilah membalas godaan Aliando dengan pengakuan penuh percaya diri. Dia pun ikut tetawa konyol bersama Aliando yang berdiri di sampingnya.
Nabilah dan Aliando kemudian duduk santai di atas tebing itu. Ransel milik mereka masing-masing diletakkan disamping posisi duduk mereka. Ditemani dengan angin sepoi dan suara derasnya aliran air terjun, keduanya terus menikmati keindahan pemandangan disana sambil ngobrol satu sama lain.
Nabilah menceritakan semua tentang hidupnya kepada Aliando, namun dia tidak menceritakan mengenai mimpi anehnya dalam beberapa hari ini. Mimpi yang mempertemukan dia kembali kepada orang tuanya, mimpi yang memunculkan sebuah liontin misterius ke dunia nyata, serta mimpi bertemu dengan Putri Pevita dan Raline, sang magician yang memberikan amanat untuk menjaga Liontin putih yang kini tersimpan aman di kamarnya. Semua mimpi dan kejadian aneh seperti di dalam dunia fantasi itu adalah rahasia besar yang takkan pernah diceritakan Nabilah kepada siapapun, termasuk Aliando. Dia memilih untuk menyimpan rapat-rapat semua misteri yang dialaminya. Sehingga yang diceritakan Nabilah kepada Aliando hanyalah mengenai orang tuanya, om dan tantenya serta teman-teman akrabnya di sekolah. Intinya semua cerita yang ada di alam nyata dan bukan di alam mimpi.
      Sedangkan Aliando tidak terlalu banyak bercerita tentang dirinya dan juga kehidupannya. Dia cenderung mengalihkan pembicaraannya ke topik yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah. Namun terkadang dia juga bercerita tentang isi hatinya serta perasaannya yang begitu mengagumi Nabilah. Tidak hanya mengagumi kecantikan Nabilah, dia juga sangat mengagumi ketegaran Nabilah menjalani hidup tanpa kedua orang tuanya -- yang masih bisa tertawa ceria di balik luka dan kesedihan yang sangat dalam.
      Seperti halnya Aliando, Nabilah juga sangat mengagumi sosok lelaki yang kini mengisi relung hatinya yang kosong. Lelaki yang selalu menemaninya dalam beberapa hari ini. Sosok lelaki yang sangat menyenangkan di mata Nabilah dan tentunya juga memiliki paras yang sangat tampan.
Keduanya memang sangat cocok, si cantik dan juga si tampan serta si konyol dan juga si jahil. Hari minggu yang indah menjadi hari dimana keduanya saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Pemandangan indah di perbukitan dan eloknya panorama di air terjun  menjadi saksi akan dua insan yang saling jatuh cinta. Angin sepoi di pegunungan dan terik matahari yang sedikit tertutup daun pepohonan -- menjadi teman di kala kebersamaan indah dua sejoli yang kini dimabuk asmara.
Sungguh indah sekali kebersamaan mereka berdua. Dunia terasa milik berdua, ketika dua hati menjadi satu dalam untaian cinta sejati yang kini menyelimuti keduanya.

*** 

Kebersamaan indah antara Aliando dan Nabilah mulai sedikit terganggu.  Langit yang tadinya cerah tiba-tiba mulai gelap. Awan hitam sedikit demi sedikit menggerogoti birunya langit. Mereka bergerak perlahan menutupi sinar terang matahari. Begitu pula dengan hembusan angin yang tadinya sepoi-sepoi perlahan mulai semakin kencang. Burung-burung di pepohonan di sekitar air terjun terbang berhamburan ke satu arah tanpa barisan yang teratur. Mereka seolah menyadari akan terjadinya sesuatu di sana. Daun-daun di pepohonan berterbangan dan berjatuhan tertiup angin yang semakin kencang. Cuaca yang tadinya cerah berangsur-angsur mulai mendung -- yang tadinya terang perlahan-lahan mulai gelap. Seperti pertanda akan turun hujan di sana.
Di tengah cuaca yang seketika berubah, Nabilah dan Aliando yang berada di tebing seketika takjub melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Air terjun yang tadinya mengalir dengan deras, tiba-tiba berhenti mengalir. Air terjun itu seperti sudah habis turun dari atas gunung, sehingga menyebabkan gua besar yang ada di balik air terjun itu terlihat dengan sangat jelas.
Pemandangan yang sangat aneh dan mencengangkan pikir Nabilah. Raut wajah tegang terlihat jelas dari wajahnya.
Angin berhembus semakin kencang diiringi oleh petir dan kilat yang saling bersahutan. Daun-daun beterbangan diiringi suara kicauan burung yang bersahutan seperti memberikan semacam peringatan. Kegelapan semakin menyelimuti daerah itu, membuat suasana semakin terasa mencekam.
“Ada apa ini?!! Kenapa semua jadi seperti ini?!” teriak Nabilah dengan histeris. “Kenapa air terjun itu tiba-tiba berhenti??! Kenapa?!” raut wajahnya semakin menunjukkan ketakutan.
Aliando yang dari tadi berada di samping Nabilah diam saja. Dia seperti kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara angin semakin kencang sehingga membuat ransel Nabilah tertiup dan jatuh dari tebing. Ransel itu kemudian jatuh ke sungai yang ada di bawah tebing tempat Nabilah dan Aliando berada, tanpa sempat diselamatkan oleh Nabilah
“Oh tidaak... Ranselkuu..!” seru Nabilah sambil menatap ranselnya yang jatuh kemudian terbawa arus sungai yang deras. Dia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Aliando yang dari tadi membeku dan tidak berbuat apa-apa. Lelaki itu sepertinya ragu-ragu untuk melakukan tindakan di saat yang sangat genting itu.
Tiba-tiba saja terdengar suara seperti bunyi mesin pesawat yang mengejutkan Nabilah. Suara itu sepertinya berasal dari gua yang tadi tertutupi air terjun. Suara yang tadinya samar-samar perlahan semakin nyaring terdengar.
Pemandangan aneh mewarnai pandangan Nabilah yang semakin membuatnya takut dan tegang. Terlihat jelas dari tempatnya berdiri, ada sesuatu yang muncul dari gua tempat suara itu berasal. Jarak antara gua dan tebing tempat Nabilah berdiri sekitar 100 meter, namun sesuatu yang muncul itu nampak jelas berwarna hitam dan besar. Benda itu berbentuk lingkaran dan berputar seperti sebuah portal besar.
Melihat benda itu, Nabilah kemudian teringat dengan pelajaran antariksa tentang ilmu luar angkasa. Benda itu seperti black hole atau lubang hitam yang berfungsi sebagai  pintu menuju dimensi lain. Nabilah seketika bergidik tatkala membayangkan kalau benda yang terlihat dihadapannya itu sama seperti apa yang di pelajarinya tentang antariksa .
Sementara angin semakin kencang bertiup mengiringi kedatangan benda seperti black holeitu. Lama kelamaan ukuran benda itu semakin membesar dan suara yang dihasilkannya juga semakin nyaring.
Hari yang semakin gelap dan petir menyambar bersahutan membuat suasana hati Nabilah menjadi semakin tak menentu. Dia sepertinya tidak tahu harus berbuat apa dan harus kemana.
Aliando yang dari tadi menunduk dan diam saja, tiba-tiba bergerak mendekati Nabilah kemudian dia menarik tangan Nabilah. Dengan sigap tangan kanannya mencengkram pergelangan tangan Nabilah, sementara tangan kirinya meraih ranselnya yang dari tadi berada di tanah. Di tengah angin kencang dan suasana yang semakin mencekam -- ia bergegas mengajak Nabilah untuk pergi dari tempat itu.
“Ayo kita pergi dari sini! Di sini sangat berbahaya!” seru Aliando sambil memegangi tangan Nabilah. Raut wajahnya yang biasanya sangat santai kali ini terlihat sangat serius. Tidak seperti biasanya raut wajah Aliando seperti itu dan kini tatapan matanya sangat tajam menatap mata Nabilah. Dia seperti sudah tau tentang apa yang sedang terjadi di tebing tempat mereka berdua sekarang berada.
“Ayo cepat!” Seru Aliando lagi seraya memegang tangan Nabilah untuk segera pergi dari tempat itu.
“I-iya. Ayo kita pergi,” Dengan cepat Nabilah mengikuti perintah kekasihnya itu. Kemudian keduanya berbalik arah dengan cepat menuju jalan pulang ke atas bukit diwarnai dengan derasnya angin dan kegelapan pekat. Sementara di belakang mereka black hole misterius itu semakin membesar dan terus membesar. Dengan bunyi yang semakin membesar dan tentunya sangat mencekam.
Dengan setengah berlari, Nabilah dan Aliando berbalik arah untuk menjauhi gua dan benda hitam di dalamnya. Baru beberapa langkah mereka berlari, tiba-tiba saja dihadapan mereka ada sosok lelaki berbadan tinggi yang kemudian mencengkram kerah baju Aliando. Dengan tanpa ampun sosok lelaki itu menampar wajah Aliando dan membuat Aliando terjatuh ke tanah.
“Enyah saja kau dari sini!!” Hardik pria misterius itu kepada Aliando. Belum sempat Aliando bangkit dari jatuhnya, pria itu kemudian kembali mendekatinya dan mencengkram kerah baju Aliando. Dengan paksa dia menggiring Aliando ke tepi tebing kemudian mendorong jatuh kekasih Nabilah itu.
“TIDAAKK!!” teriak Nabilah dengan histeris setelah melihat kekasih tercintanya didorong jatuh dari tebing. Dengan cepat dia menuju tepi tebing untuk melihat keadaan kekasihnya yang jatuh dari ketinggian 50 meter. Belum sempat dia menuju ke tepi, tiba-tiba pria misterius yang tadi mendorong jatuh Aliando langsung menghadang Nabilah.
Angin berhembus semakin kencang dan suasana gelap yang semakin mencekam membuat Nabilah semakin tegang. Belum lagi suara mengerikan black hole di mulut gua yang terus memberikan efek ketegangan yang semakin menjadi. Apalagi kali ini pria misterius yang sudah mendorong jatuh kekasih Nabilah semakin mendekat ke arah Nabilah. Semua hal itu membuat Nabilah menjadi sangat ketakutan. Suasana santai dan penuh kebersamaan dan nuansa tenang bersama Aliando beberapa jam yang lalu -- dengan seketika lenyap akibat kemunculan hal-hal aneh yang kini dialami Nabilah.
Pria misterius itu berjalan mendekati Nabilah. Nabilah pun perlahan mundur karena ketakutan akan sosok berbadan tinggi itu. Semakin lama semakin cepat Nabilah melangkah mundur, sampai akhirnya dia terpeleset dan terduduk di tanah. Daun-daun yang tertiup angin -- berguguran ke arah tubuhnya yang terduduk. Sementara pria misterius itu berjalan semakin mendekat ke arah Nabilah -- dalam suasana hari yang semakin gelap. Nabilah tidak bisa fokus menatap wajah pria itu karena gelap dan kencangnya angin.
Dengan sekuat tenaga Nabilah berusaha untuk bangkit dari jatuhnya namun tidak bisa. Kakinya terkilir karena terpeleset tadi. Dia kemudian melempari pria misterius itu dengan batu-batu kecil yang ada di sekitarnya. Namun lemparan batu itu hanya dianggap angin lalu saja bagi sang pria. Dia terus berjalan semakin dekat dan terus mendekat. Hingga pada akhirnya pria misterius itu berada tepat di hadapan Nabilah. Sangat terlihat jelas wajah sang pria misterius itu. Sorot matanya, bentuk wajahnya dan postur tubuhnya sangat jelas dan familiar bagi Nabilah.
Ya, pria itu adalah pria yang sama yang membuntuti Nabilah di padang rumput. Kemudian, pria itu itu yang tadi pagi juga terlihat membuntuti Nabilah dan Aliando ketika mau berangkat.
Sosok dengan sorot mata tajam dan perawakan tinggi. Sosok yang kemungkinan besar di utus oleh ratu Eden. Sosok yang tidak segan-segan menghabisi nyawa Nabilah demi mencapai tujuan yang diinginkannya, yaitu merebut Liontin Putih dari Nabilah.
Angin kencang, petir yang bersahutan, serta suara black hole yang menyeramkan seakan menjadi penonton saat suasana mencekam tengah mendera Nabilah. Nyawanya pun terancam oleh pria misterius yang kini berada dihadapannya.



(To be continued...)


Ditulis oleh: Jack Neptune

Baca Juga