--> Skip to main content


[CERBUNG] Magician of Feliz (Bab 6)

BAB 6: DATANG DAN PERGI

Baca cerita sebelumnya di:

baca cerbung online magician of feliz bab 2
   

Beberapa hari yang lalu di negeri feliz..

Berlatar di kamar raja Alberto, ayah putri Pevita yang sedang terbaring sakit di atas kasurnya..

Di ruangan raja yang berukuran lumayan besar itu terdapat 2 pengawal di depan pintu, 1 orang tabib istana, putri Pevita, Raline sang magician ‘initial R’, serta panglima negeri yang bernama Carlos. Terjadi perbincangan mengenai masa depan negeri feliz yang kini terancam akan dikuasai oleh ratu Eden.

“Apakah perlu kita serang saja dark of feliz  itu?!” Carlos memulai diskusi. Pria berumur 28 tahun itu memang terkenal tak kenal takut terhadap apapun dan siapapun.

“Demi Neptunus, sebaiknya jangan! Di sana pasti banyak jebakan dari penghianat itu,” sahut raja Alberto dengan suara pelan. Beliau hanya bisa berbicara sambil terbaring lemah di atas kasurnya.

“Tapi Yang Mulia, aku memiliki pedang terkuat peninggalan almarhum muridku, Ezhar Al sang magician ‘initial E’. Mungkin dengan pedang ini aku bisa menghabisi si penghianat, Eden.” Carlos berusaha meyakinkan sang Raja sambil menunjukkan pedang bergagang putih yang terbungkus sarung berwarna putih yang kini ada di pinggangnya.

Pedang bernama elemento espada itu adalah merupakan pedang peninggalan mendiang Ezhar Al, sang magician ‘initial E’. Ezhar Al adalah magician muda yang usianya masih 17 tahun namun sudah mendapatkan gelar magician ‘initial E’ yang merupakan gelar untuk magician terkuat saat ini. Dia adalah keturunan langsung dari Ernst Al dan Elena yang juga merupakan magician ‘initial E’. Sehingga bakatnya sudah ada sejak lahir walaupun tanpa harus berlatih dengan keras. Pedang elemento espada adalah peninggalan ayah dari Ezhar Al yang kini sudah tiada. Begitu juga ibunya yang bernama Elena juga sudah tewas dalam sebuah pertempuran. Mereka berdua gugur bersama-sama dalam rangka mempertahankan negeri feliz  dari serangan musuh.

Sama halnya dengan Ezhar Al yang baru saja gugur dalam penyerangan ke istana ratu Eden. Dia mengorbankan nyawanya demi orang yang dicintainya yaitu putri Pevita yang kala itu diculik oleh ratu Eden dan pasukannya yang bernama pasukan oscured. Selain menyelamatkan nyawa putri Pevita, Ezhar Al juga berhasil membebaskan Raline sang magician ‘initial R’ yang dulu dibawah pengaruh jahat Ratu Eden. Dahulu magician ‘initial R’ yang berada di bawah kekuasaan ratu Eden ada 4 orang. Namun sekarang tinggal 3 orang, yakni Rafael, Ryana dan Raven. Kini Raline sudah kembali berpihak kepada negeri feliz dan menjadi pengawal bagi putri Pevita, sesuai dengan amanat mendiang Ezhar Al. Selain mengamanatkan keselamatan putri Pevita, Ezhar Al juga menitipkan elemento espada kepada guru pedangnya yaitu  Carlos.

Sedangkan  Carlos adalah orang yang melatih Ezhar Al dalam kemampuan menggunakan pedang.  Carlos sendiri tidak memiliki kekuatan magic seperti para magician. Dia hanyalah manusia biasa yang pandai memainkan pedang, terlatih dalam pertempuran serta pakar dalam strategi perang. Sehingga bukanlah hal aneh kalau dia ditunjuk raja Alberto sebagai panglima pasukan di negeri feliz. Walaupun usianya masih terbilang muda.

Akan tetapi, meskipun Carlos adalah ahli pedang, dia masih tidak bisa menggunakan kekuatan asli dari elemento espada yang merupakan pedang dengan kekuatan 4 elemen, yaitu air, tanah, api dan udara. Hanya magician terkuat yang berjuluk ‘initial E’ yang bisa menggunakan kekuatan asli dari pedang terkuat itu, salah satunya yaitu mendiang Ezhar Al.

“Situasi kita saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan penyerangan. Mereka terlalu kuat, ada pasukan oscured  dipihak mereka serta 3 orang magician kuat berjuluk ‘initial R’. Sedangkan kita Cuma punya 1 orang magician ‘initial R’,” raja Alberto meneruskan penjelasannya. Orang yang dimaksudnya adalah Raline yang merupakan satu-satunya magician  yang tersisa di negeri feliz.

“Bagaimana kalau kita meminta bantuan kepada Neptunus, sang pemimpin benua Atlantis?” Carlos mencoba memberikan solusi kepada raja Alberto.

“Tidak! Demi sebuah harga diri, aku tidak akan meminta bantuan Neptunus maupun negeri lain yang ada di Atlantis ini. Kita bisa menyelesaikan perang ini dengan kekuatan kita sendiri. Kalau kita meminta bantuan mereka, maka Negeri kita akan dianggap lemah dan dipandang sebelah mata oleh negeri-negeri lain.” Raja Albert menolak keras usulan dari Carlos. Wajahnya tampak sangat marah ketika mendengar usulan itu.

“Dari dulu leluhur kita menjunjung tinggi prinsip untuk tidak bergantung dengan negeri lain. Kita harus berdiri dengan kaki kita sendiri. Tidak mengherankan sampai sekarang negeri kita sangat disegani oleh negeri-negeri lain di benua ini. “ raja Albert memberikan alasannya.

“Seandainya saja ada Ezhar,” sahut putri Pevita lirih. Tangannya memegangi liontin putih yang ada dilehernya. Liontin putih bertuliskan feliz de que lo yang merupakan peninggalan dari mendiang Ezhar Al. Liontin itu memiliki kekuatan magic yang dahsyat  sebagai perisai yang menyelubungi negeri dan mampu menahan serangan dari musuh. Saat ini hanya kekuatan liontin itulah yang mampu menjaga negeri supaya tidak jatuh ketangan musuh. Namun, sampai kapan kekuatan liontin itu akan bertahan, kata putri Pevita dalam hati

Wajah putri Pevita semakin menunjukkan raut sedih. Dia menyesalkan kematian Ezhar Al yang sangat dia cintai. Dia hanya bisa pasrah karena salah satu dari 2 magician terkuat yang juga kekasihnya, sudah meninggal dan hanya Ezhar Al lah yang memiliki kekuatan setara dengan ratu Eden. Hanya dia yang bisa menandingi kekuatan maha dahsyat dari magician penghianat itu.

Suasana di kamar raja Alberto menjadi senyap. Mereka yang ada diruangan, masing-masing memikirkan cara yang ampuh untuk mengalahkan kekuatan ratu Eden. Keempatnya berfikir keras untuk menemukan cara jitu supaya bisa mengakhiri peperangan dengan kemenangan. Namun sepertinya sesuatu yang mereka cari tidak akan ditemukan. Hampir mustahil bisa mengalahkan kekuatan ratu Eden sang magician ‘initial E’ yang dibantu oleh pasukan kegelapan yang bernama oscured. Selain itu, dia juga dibantu oleh orang-orang terkuat yaitu magician ‘initial R’ yang berjumlah 3 orang. Ketiganya memiliki kemampuan istimewa yang berbeda-beda. Walaupun kekuatan mereka setingkat di bawah ratu Eden yang termasuk ‘initial R’, tapi tetap saja mereka tidak mudah untuk dikalahkan. Satu orang magician ‘initial R’ mampu mengalahkan 100 orang pasukan sekaligus. Sebegitu dahsyatnya kekuatan mereka sehingga membuat gentar pihak negeri feliz. Tidak mungkin 1 orang magician ‘initial R’ dipihak negeri yaitu Raline, mampu mengalahkan 3 orang magician ‘initial R’ dipihak lawan. Belum lagi kalau sampai ratu Eden turun tangan dan ikut bertarung. Maka kekuatan maha dahsyat nya pasti akan menghancurkan negeri feliz dan akan mengakhiri peperangan dimana pemenangnya ada di pihak dark of feliz  yang dipimpin oleh ratu Eden. Sungguh tidak mungkin menaruh sebuah harapan besar di tangan Raline, satu-satunya magician kuat berjuluk ‘initial R’ yang saat ini memiliki kekuatan paling hebat di pihak negeri feliz. 

Carlos sekalipun tidak mampu menandingi kekuatan Raline, meskipun dia seorang panglima hebat pemimpin pasukan di negeri feliz. Karena itu adalah perbedaan yang mendasar, dimana seorang magician  adalah  orang yang terpilih dan memiliki ‘kemampuan istimewa’ dibandingkan manusia biasa. Sedangkan  Carlos hanyalah manusia biasa yang menjadi pemimpin dari pasukan negeri feliz yang kesemuanya juga manusia biasa, namun pandai bertempur dan pandai menggunakan persenjataan dalam berperang. Mereka sudah terlatih dalam berperang, namun tetap saja mereka hanya manusia biasa yang tidak dianugerahi ‘kemampuan istimewa’ layaknya seorang magician seperti Raline.

Begitu keras keempat orang itu memikirkan cara untuk memenangkan perang yang sepertinya menemui jalan buntu. Suasana di ruangan raja Alberto yang sedang terbaring sakit, semakin senyap. Semuanya larut dalam pikirannya masing-masing.

“Sepertinya ada 1 cara yang terlewatkan olehku,” tiba-tiba raja Alberto memecah keheningan di ruangannya yang dari tadi senyap tanpa suara. Dengan kondisi tubuh lemah dan terbaring di atas kasurnya, raja Alberto mulai menjelaskan cara yang dimaksudkannya kepada 3 orang yang berada dihadapannya.

“Beberapa puluh tahun yang lalu sewaktu aku masih anak-anak, aku mendengarkan cerita dari kakekku,” raja Alberto mulai menjelaskan. Terlihat raut wajahnya seperti sambil mengingat-ingat sesuatu yang sudah sangat lama terjadi.

“Waktu itu kakekku menceritakan mengenai sebuah cerita atau lebih tepatnya sebuah legenda,” raja Alberto mulai bercerita. Sementara  Carlos, putri Pevita dan juga Raline dengan seksama mendengarkan cerita masa lalu sang rajanya itu.

“Cerita yang disampaikan kakekku waktu itu adalah tentang legenda bunga ajaib bernama flores de la felicidad atau bunga kebahagiaan,” kata raja Alberto seraya menghela nafas. Raut wajahnya seperti mengingat-ingat sesuatu yang sudah sangat lama terlupakan.

“Apa itu flores de la felicidad ayah?” tanya putri Pevita kepada raja Alberto yang tengah bercerita.

“Mungkin kalian semua tidak akan percaya dan akan menganggapnya mustahil. Tapi aku juga tidak begitu percaya dan yakin dengan apa yang dikatakan mendiang kakekku tentang legenda flores de la felicidad  itu,” raja Alberto kembali menjelaskan. Kali ini raut wajahnya sangat serius menatap ketiga orang yang berada di hadapannya.

“Iya, apa itu ayah?? Tolong jelaskan. Jangan berbelit-berbelit seperti ini,” putri Pevita kembali memotong penjelasan ayahnya yang terlihat seperti tidak yakin dengan perkataannya sendiri.

“Flores de la felicidad  adalah bunga ajaib yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati..” raja Alberto  mengakhiri penjelasannya. Tatapan seriusnya kepada  Carlos, putri Pevita dan Raline membuktikan akan kebenaran ucapannya itu. Carlos, putri Pevita dan Raline langsung takjub dan seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang raja. Mana mungkin orang yang mati bisa dihidupkan kembali? Pikiran mereka bertiga dihantui oleh tanda tanya besar..


***


Angin semakin kencang berhembus membuat daun dari pepohonan berterbangan. Petir menyambar silih berganti satu sama lain diiringi awan gelap yang semakin banyak, membuat suasana di tebing tempat Nabilah dengan pria misterius itu sekarang berada. Sementara Aliando baru saja terjatuh dari tebing karena di dorong oleh si pria misterius. Kini tinggal Nabilah yang berhadapan satu lawan satu dengan pria misterius yang ternyata adalah sosok yang selama ini membuntuti Nabilah. Sosok yang kemungkinan besar mengincar liontin putih dari Nabilah. Bisa saja dia juga akan menghabisi nyawa Nabilah demi merebut liontin putih yang kini disimpan oleh Nabilah.

Suara auman black hole semakin nyaring terdengar. Ukurannya pun semakin lama semakin besar terlihat jelas dari tebing tempat Nabilah dan si pria misterius berada. Black hole itu seperti menghisap udara dan benda-benda kecil yang berterbangan di sekitarnya.

Si pria misterius kemudian berjalan mendekati Nabilah yang tengah terduduk karena terpeleset saat mau lari. Dia seolah tidak memperdulikan angin kencang yang menerpa tubuh tinggi nya. Pria berjaket hitam itu berjalan semakin dekat mendekati Nabilah

“Ayo ikut aku!!” seru si pria misterius sembari mengulurkan tangannya ke arah Nabilah. Semakin jelas terlihat raut wajahnya yang putih dengan hidung mancung dan bermata agak sipit dengan menunjukkan raut wajah tegang seperti sebelum-sebelumnya.

“Tidak!! Si-siapa kau?!” bentak Nabilah kepada pria misterius itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi tegang. Tubuhnya yang terduduk di tanah berusaha berjalan mundur dengan bantuan kedua tangannya. Dia berusaha lari dari pria misterius yang sudah mendorong jatuh kekasih tercinta Nabilah.

“A-ayo cepat, ikuti saja perintahku!” paksa si pria misterius itu sambil memegang pergelangan tangan Nabilah. Dia seperti berusaha membawa paksa Nabilah dari tempat yang mencekam dan gelap itu. Tangannya begitu keras memegang pergelangan tangan Nabilah membuat Nabilah meronta kesakitan. Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman kuat pria itu namun tetap tidak bisa. Cengkraman itu terlalu kuat untuk seukuran manusia biasa.

Ditengah derasnya tiupan angin dan petir yang bersahutan, pria itu menarik paksa Nabilah supaya mengikuti dia untuk pergi dari tebing itu. Sangat sulit untuk melepaskan cengkraman itu bagi Nabilah, sampai akhirnya dia  melihat ada batu seukuran genggaman tangannya tepat berada di samping kakinya. Dengan cepat Nabilah mengambil batu itu dan langsung menghantamkannya ke lengan si pria misterius. Sekali hantam, dua kali, tiga kali, sampai berkali-kali Nabilah menghantamkan batu itu ke lengan si pria, sehingga membuat cengkramannya lepas dari pergelangan tangan Nabilah. Pria itu memegangi tangannya yang membiru karena hantaman batu dari Nabilah. Dia mundur selangkah sambil meringis kesakitan. Tatapan matanya semakin tajam menatap ke arah Nabilah yang kini berada beberapa langkah dari hadapannya.

Ditengah tiupan angin kencang dan suasana hari yang semakin gelap ditambah lagi tatapan mengerikan si pria misterius, membuat Nabilah semakin ketakutan. Dia kemudian berjalan mundur beberapa langkah untuk menjauhi pria berbahaya itu.

Ditengah situasi yang terdesak, Nabilah kemudian melemparkan batu yang tadi dihantamkan ke tangan pria itu. Lemparan itu berhasil dihindari si pria, sehingga membuat Nabilah panik. Dia kemudian mengambil lebih banyak batu yang ada disekitar tempat kakinya berpijak. Dengan cepat Nabilah melemparkan batu itu satu persatu ke arah pria berbahaya itu. Beberapa berhasil dihindari si pria, namun ada juga yang mengenai kepala, lengan, maupun tubuh pria itu. Dengan agak terdesak pria itu berusaha melindungi wajahnya dari batu yang dilempar oleh Nabilah.

Bertubi-tubi lemparan batu yang dilakukan Nabilah kepada si pria misterius, sehingga membuat si pria melangkah mundur dan terus mundur sampai akhirnya semakin menjauh dari posisi Nabilah berada saat itu. Saking terdesaknya si pria, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau posisinya sekarang berada di pinggir  tebing. Lemparan batu yang terus menerus dilakukan Nabilah, membuat si pria kehilangan keseimbangan tubuhnya. Karena posisinya yang berada di pinggiran tebing membuat dia kemudian terpeleset dari tebing. Pria itu pun jatuh dari tebing yang tingginya 50 meter itu.

“Rasakan itu!!” teriak Nabilah. Dia merasa puas karena berhasil menjatuhkan pria itu. Namun sepertinya rasa puas itu hanya berlangsung beberapa detik, karena dari kejauhan terlihat telapak tangan si pria berpegangan dengan bebatuan kecil di atas tebing supaya tidak terjatuh. Dengan sekuat tenaga pria itu berusaha naik kembali ke atas tebing, namun tidak berhasil. Namun dia tetap berpegangan di bebatuan itu supaya tidak terjatuh. Tapi setidaknya pria itu tidak akan bisa mendatangi Nabilah karena dia terlihat sangat kesulitan untuk kembali menaiki tebing karena tidak ada yang menolong atau mengulurkan tangan. Terlihat sedikit kelegaan di raut wajah Nabilah.

“Tolong akuu!!!” tiba-tiba terdengar suara seseorang meminta tolong. Suara itu berasal dari tempat jatuhnya Aliando, kekasih Nabilah yang di dorong oleh si pria misterius. Dengan cepat Nabilah kemudian berlari ke arah datangnya suara itu. Dia berlari sekuat tenaga di tengah tiupan angin kencang dan suasana gelap yang semakin mencekam.

Sesampainya di tepi tebing, terlihat sebuah tangan yang memegangi batu di pinggir tebing itu. Nabilah kemudian menengok ke bawahnya dan benar saja, ada sang kekasih yang ternyata belum jatuh karena tangannya masih sempat berpegangan di bebatuan di tebing itu. Wajahnya tampak senang karena ada Nabilah yang datang untuk menolongnya.

“Syukurlah kau tidak apa-apa! Kupikir kau sudah jatuh tadi. Bikin aku berdebar saja!” gerutu Nabilah. Tampak kelegaan di wajahnya karena sang kekasih yang dicintainya masih selamat dari dorongan pria jahat itu. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk menolong Aliando yang bergelantungan di tepi tebing itu. Di bawahnya mengalir sungai yang berasal dari air terjun yang tadi berhenti mengalir karena munculnya black hole misterius dengan bunyi yang mengerikan.

Nabilah kemudian berhasil memegangi tangan Aliando. Dia sekuat tenaga berusaha mengangkat badan kekasihnya namun tidak bisa. Sementara itu tiupan angin semakin kencang dan daya hisap black hole semakin kuat. Daya hisap itu membuat badan Nabilah seperti mau terbawa ke dalam black hole yang letaknya 100 meter dari tebing tempatnya berada.

“Sepertinya tubuhku tertarik benda hitam menyeramkan itu!!” teriak Nabilah kepada Aliando. Tangan kirinya memegangi tangan kekasihnya yang hampir terjatuh, sementara tangan kanannya memegangi lantai tebing untuk menahan daya hisap dari black hole.

“Lepaskan saja tanganku!!” teriak Aliando. “Kalau kau terus memegangi tanganku, maka kau tidak akan mampu menahan daya hisap benda hitam itu! Biarkan saja aku terjatuh!” sambungnya lagi.

“Tidak!! Tak akan kulepaskan tanganmu! Apapun yang terjadi aku tak akan melepaskan tangan orang yang kucintai! Saat ini nyawamu sama berharganya dengan nyawaku,” teriak Nabilah kepada kekasihnya. Dia begitu menyayangi kekasih tercintanya itu dan tidak mau kehilangan orang tercintanya untuk kedua kalinya setelah kedua orang tuanya terkena musibah pesawat yang hilang. Tanpa disadari Nabilah, air matanya mengucur membasahi pipinya karena dia terbayang kalau seandainya dirinya kehilangan kekasihnya. Dia akan sangat sedih dan hancur kalau hal itu benar-benar terjadi.

Mendengar perkataan Nabilah itu, Aliando langsung terdiam dan terhenyak. Dia benar-benar terharu mendengar ucapan Nabilah yang sangat mengharukan. Apalagi ketika dia menganggap nyawanya sama berharganya dengan nyawa Aliando. Kata-kata yang tidak pernah didengar Aliando dan kata-kata itu baru saja keluar dari mulut gadis yang kini memegang tangannya sangat erat, walaupun nyawa gadis itu terancam oleh daya hisap yang sangat kuat dari benda hitam misterius yang berada tidak jauh dari tebing. Perkataan yang membuat Aliando terdiam, termenung serta membeku dalam perasaan yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata.

“Terima kasih Tuhan. Kau telah mempertemukanku dengan seseorang yang luar biasa mencintaiku,” bisik Aliando kepada dirinya sendiri. “Kini aku mengerti dengan arti dari cinta sejati,” matanya berkaca-kaca.

Kegelapan semakin pekat karena matahari sudah tertutup awan hitam. Suara-suara petir dan suara yang dihasilkan oleh black hole membuat suasana menjadi semakin mencekam. Kekuatan daya hisap black hole yang semakin menjadi-jadi membuat pegangan tangan kanan Nabilah ke bebatuan di lantai tebing mulai goyah. Namun pegangan tangannya ke tangan kekasihnya yang bergelantungan di sisi tebing tetap kuat dan tak pernah goyah. Biar bagaimanapun dia takkan pernah melepaskan pegangan tangannya kepada kekasihnya itu.

Semakin kuat saja kekuatan daya hisap dari black hole yang kini menghisap benda-benda disekitarnya. Daun-daun, bebatuan kecil serta udara mulai terhisap kedalamnya. Begitu juga dengan tubuh Nabilah yang tiba-tiba terangkat dan pegangan tangan kanannya ke lantai tebing mulai terlepas.

“Sepertinya aku tidak kuat lagi menahan daya hisap benda itu!” teriak Nabilah. Dari perkataannya dia seperti tidak punya tenaga lagi untuk bertahan dari daya hisap black hole. Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau dia sudah mulai menyerah.

“Tunggu!” Aliando yang dari tadi terdiam tiba-tiba berteriak kepada Nabilah. “Pada akhirnya aku harus menggunakan cara ini,” gumamnya pelan.

Aliando yang tengah bergelantungan di tepi tebing kemudian merogoh saku celananya. Dia mengambil sebuah benda yang ada di dalam sakunya yang ternyata adalah sebuah benda bulat berwarna hitam. Ukuran benda bulat atau bisa dibilang bola itu adalah seperti ukuran bola tenis.

Aliando kemudian melemparkan bola hitam itu ke atas tebing. Bola itu kemudian jatuh dan terkait di atas bebatuan yang ada diatas tebing. Dari tangan Aliando menuju bola itu seperti dihubungkan dengan benang hitam yang tipis dan panjang. Dia kemudian memantulkan kakinya di bawah tebing, berancang-ancang untuk melompat jauh. Dia pun kemudian melesat sangat tinggi dan Nabilah yang tangannya dari tadi memegangi tangan Aliando, ikut terbawa melompat lumayan tinggi. Kemudian keduanya terjatuh di atas tebing dengan posisi kaki tepat di atas lantai tebing, sementara tangan Aliando yang memegangi tali menuju bola hitamnya tadi terus menerus menarik tubuh Aliando dan Nabilah menuju posisi bola yang terkait di atas bebatuan yang jaraknya sekitar 10 meter dari posisi mereka berdiri. Namun sekali lagi, daya hisap black hole  yang begitu kuat membuat tubuh mereka tertarik olehnya.

Aliando berusaha terus mempertahankan posisinya dari daya hisap black hole yang semakin kuat. Namun dengan sekuat tenaga dia berhasil menarik dirinya dengan tali yang berpangkal di bola hitam yang kini terikat kuat di bebatuan yang tak jauh dari posisinya berdiri. Semakin kuat dia menarik tali itu sampai pada akhirnya berhasil meraih bola hitam yang tadi dilemparkannya itu. Dia kemudian menyimpan bola hitam yang kini sudah ada digenggamannya. Berkat benda itu dirinya dan Nabilah  berhasil menjauh dari black hole mengerikan yang terus menerus menghisap benda-benda di sekitarnya.

“Benda apa itu?!” tanya Nabilah kepada Aliando yang tadi menggunakan bola hitam untuk menyelamatkan diri.

“Nanti saja kujelaskan! Sekarang kita harus bergegas pergi dari tempat mengerikan ini!” jawab Aliando. “Angin disini semakin kencang. Ayo naik ke punggungku, seperti kita naik bukit tadi.” Dia kemudian memberi isyarat agar Nabilah naik ke punggungnya, karena dia tau kalau Nabilah tak mungkin sanggup untuk berlari di tengah angin yang semakin kencang.

“Ta-tapi bagaimana dengan pria itu?” tunjuk Nabilah ke arah tepi tebing tempat si pria misterius berpegangan ketika hampir terjatuh. Namun raut wajah Nabilah tiba-tiba berubah ketika menyadari kalau pria itu sudah tidak ada lagi. “Padahal tadi dia ada di situ? Tapi sekarang kemana dia?!” wajahnya semakin bingung.

“Ayo tidak ada waktu lagi memikirkan pria itu. Mungkin saja dia jatuh ke bawah sana,” sergah Aliando. Dia kemudian mengisyarakatkan agar Nabilah segera menaiki punggungnya dan dengan cepat Nabilah menuruti keinginan kekasihnya itu. Keduanya kemudian langsung pergi meninggalkan tebing. Di tengah hembusan angin yang semakin kencang dan kegelapan yang semakin pekat, Aliando yang sedang menggendong Nabilah berlari dengan sangat cepat melewati jalan yang tadi mereka lalui saat hendak menuju ke tebing. Semakin cepat kekasih Nabilah itu berlari tanpa mengenal rasa lelah, membuat Nabilah semakin heran dengan kekasihnya itu. Sangat kuat sekali pria yang kini menggendongnya, seperti bukan manusia saja pikir Nabilah. Yang lebih mengherankan lagi adalah bola hitam yang tadi dilemparkan kekasihnya itu, benda apakah itu? Tanda tanya semakin besar melingkupi pikiran Nabilah.

Semakin jauh Aliando berlari bersama Nabilah yang digendongnya di punggung. Kini mereka sedang menuruni jala dari perbukitan menuju ke bawah. Suara menyeramkan black hole perlahan menghilang. Namun angin kencang dan hari yg semakin gelap membuat rasa takut Nabilah tetap terjaga.

“Sepertinya hari mau hujan,” kata Aliando. “Ayo berpegangan lebih erat lagi, aku akan mempercepat lariku,” sambungnya lagi. Perkataan Aliando itu dibalas dengan anggukan Nabilah. Dia tidak berkata apa-apa lagi saat ini. Terlalu banyak keanehan yang kini dilihatnya, terutama pada sang kekasih. Bahkan saat ini dia merasa kalau kekasihnya itu menyimpan banyak rahasia. Sangat jelas kalau pria yang kini berlari sambil menggendongnya itu memiliki kekuatan melebihi manusia biasa. Larinya pun sangat cepat dan sedikitpun dia tidak merasakan kekalahan. Siapa dia ini sebenarnya? Pikir Nabilah kala itu.

Jalan semakin menurun dan terjal. Jalan yang tadi pagi dilalui Nabilah dan Aliando ketika menuju ke perbukitan. Kali ini keduanya harus menuruni jalan terjal itu. Semakin cepat lari Aliando yang menggendong Nabilah menyusuri jalan itu. Di kiri dan kanannya hanya ada pepohonan yang daunnya beterbangan tertiup angin kencang. Sementara petir-petir bersahutan di bawah awan hitam pertanda akan hujan. Langkah kaki tak kenal lelah dari Aliando berusaha sekuat tenaga untuk menuruni bukit sebelum hujan turun. Dia seperti berlomba dengan awan hitam yang sudah bersiap untuk menumpahkan air yang ada di dalamnya. Dia seperti tidak rela kalau kekasih yang sedang digendongnya harus diguyur oleh hujan.


***


Hujan semakin deras mengguyur. Awan hitam membuat suasana hari semakin gelap. Padahal jam dinding di kamar Nabilah baru menunjukkan pukul 03.00 sore. Saat ini Nabilah tengah duduk termenung bersandar di kasur  di dalam kamarnya sambil memandangi air hujan dari jendela kamar. Angannya terbawa pada kejadian beberapa jam sebelumnya, dimana banyak hal-hal yang sangat menegangkan dan mencekam terjadi menimpa dirinya. Apalagi membayangkan black hole misterius dengan bunyi sangat aneh disertai daya hisap yang kuat, kejadian yang hanya ada di film dan buku fiksi terlihat langsung di depan mata Nabilah. Semua seperti dalam mimpi saja pikirnya.


 Nabilah juga teringat dengan sosok pria misterius yang hampir saja membunuh Aliando, pria yang sangat dicintai Nabilah. Beruntung kekasihnya itu masih bisa selamat. Namun banyak kejanggalan yang ada pada diri kekasihnya itu yang membuat Nabilah semakin bingung. Bola hitam yang dihubungkan dengan tali yang dimiliki oleh kekasihnya, serta kekuatan sang kekasih yang sangat kuat melebihi manusia biasa. Larinya juga sangat cepat dan tak kenal lelah walaupun harus menggendong tubuh Nabilah yang lumayan beratnya. Semua membuat Nabilah semakin heran dan curiga akan sang kekasih yang sepertinya menyimpan banyak rahasia.

Nabilah kemudian duduk di atas kasurnya dengan posisi lututnya menyentuh dagu dan kedua tangannya memeluk kedua kakinya. Dia berusaha menghangatkan tubuhnya  yang terbungkus oleh sweater berwarna biru tua karena hari yang semakin dingin. Sesekali Nabilah memandangi ke arah luar melalui jendela kamarnya. Air hujan yang mengalir deras dari atas langit  seolah menjadi teman di kala pikiran Nabilah tengah berkelana mencari jawaban atas segala pertanyaannya.

Nabilah kemudian teringat akan perjalanan pulangnya dari ‘kencan pertama’ bersama kekasihnya, Aliando. Aliando yang tak kenal lelah menggendong Nabilah sambil menuruni jalan perbukitan, sampai melewati jalan pedesaan yang panjang ditengah cuaca mendung dan angin yang lumayan kencang. Dia kemudian langsung pergi setelah mengantarkan Nabilah sampai di depan komplek CLUSTER GARDEN.  Dia beralasan karena ada urusan yang ingin diselesaikan secepatnya, sehingga dia bergegas meninggalkan Nabilah di depan komplek perumahan itu. Belum sempat Nabilah berkata sesuatu, sang kekasih langsung pergi menjauh meninggalkan Nabilah di tengah cuaca mendung itu. Dia pergi ke arah perbukitan yang tadi didatangi mereka berdua, untuk menyelesaikan urusan yang dimaksudnya. Urusan apapun itu, jelas sangat membingungkan Nabilah tatkala itu. Karena sang kekasih justru pergi ke tempat yang berbahaya, tempat dimana kejadian yang menegangkan dan kemunculan benda-benda aneh seperti di dalam cerita fantasi. Kejadian yang membuat Nabilah bertanya-tanya dalam hatinya, apakah hal itu nyata atau hanya mimpi. Namun yang ternyata terjadi memang bukan mimpi. Dan kala itu sang kekasih justru berbeda dari biasanya. Ketika dalam perjalanan pulang, dia lebih banyak diam dan melamun. Tidak seperti biasanya selalu mengajak Nabilah ngobrol dan bercanda. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Aliando? Tanda tanya di pikiran Nabilah semakin bertambah, yang memang sudah penuh dengan tanda tanya karena terlalu banyak kejadian aneh yang akhir-akhir ini dialaminya.

Hal-hal aneh dan kejadian-kejadian seperti cerita fantasi yang dialami Nabilah itu, mengingatkannya akan semua kejadian-kejadian aneh sebelumnya yang pernah di alami Nabilah. Kejadian ketika bermimpi aneh sewaktu berada di bawah pohon besar di padang rumput. Ketika itu dirinya bermimpi bertemu dengan penyihir hitam, atau mungkin ratu Eden namanya, yang menculik kedua orang tua Nabilah. Dalam mimpi itu ada lagi 2 orang wanita berbaju putih yang sepertinya berada di pihak Nabilah, yang mungkin keduanya adalah putri Pevita dan Raline yang salah satunya mengenakan liontin putih. Kala itu setelah bermimpi aneh, Nabilah kemudian terbangun dari tidurnya dan menemukan liontin putih misterius bertuliskan feliz de que lo. Liontin itu yang di pakai oleh salah satu wanita berbaju putih di dalam mimpinya. Lebih tepatnya, benda dari dalam mimpi yang muncul ke dunia nyata. Nabilah kemudian turun dari atas kasurnya, kemudian dia membuka laci yang ada di samping kasurnya. Dengan perasaan lega dia melihat liontin yang masih utuh berada di dalam laci itu. Dia langsung mengambil liontin itu dan menatapnya dengan seksama sambil mengingat dengan detail semua kejadian-kejadian aneh yang dialaminya. Sementara hujan masih menghiasi suasana sore itu.

Berikutnya adalah ingatan tentang mimpi kedua, ketika Nabilah terlelap di malam hari ketika berada di atas kasur di kamarnya. Dalam mimpi kali ini Nabilah bertemu dengan dua sosok wanita berbaju putih yang pernah ditemuinya di mimpi sebelumnya. Wanita yang pertama menyebut dirinya seorang putri dari negeri, dia bernama Pevita. Sedangkan wanita kedua yang berpostur lebih tinggi bernama Raline. Dia adalah seseorang yang mempunyai kemampuan khusus, kalau tidak salah istilah yang mereka sebut adalah magician. Wanita yang bernama Pevita memberikan pesan untuk menjaga baik-baik liontin putih yang dititipkannya kepada Nabilah. Nabilah pun berusaha sekuat tenaga untuk menjaga liontin itu. Hal itu dilakukannya tidak hanya untuk menuruti permintaan dari sang putri, melainkan juga untuk mencari petunjuk keberadaan kedua orang tuanya yang mungkin ada hubungannya dengan liontin itu. Nabilah sangat yakin akan hal itu, karena di mimpinya yang pertama dia melihat kedua orang tuanya yang diculik. Namun, sangat kecil harapan itu karena hanya bermodalkan penglihatan dalam mimpi saja. Tapi tetap saja Nabilah tidak akan putus asa untuk mencari petunjuk keberadaan kedua orang tuanya, meski petunjuk itu sangat tidak jelas dan kecil harapannya untuk bisa menemukan keberadaan kedua orang tuanya yang sebelumnya terkena musibah pesawat yang hilang.

Nabilah terus memadangi liontin putih yang kini ada di tangannya. Matanya tertuju pada tulisan yang ada pada liontin itu. Tulisan feliz de que lo yang terlihat sangat kecil. Tulisan itu membangkitkan rasa penasaran Nabilah untuk mengetahui makna dari tulisan itu.

Nabilah kemudian berjalan menuju lemari yang berada tidak jauh dari kasur tempatnya berada. Dengan sigap dia mengambil laptop yang tersimpan di dalam lemari itu, kemudian menyalakan laptop berlogo buah apel yang sedikit ada gigitannya itu. Sambil duduk bersila di atas kasurnya dengan posisi memangku laptopnya, Nabilah kemudian membuka situs google translator dari laptop berwarna hitamnya itu. Dengan cepat dia mengetikkan tulisan feliz de que lo di situs itu. Beberapa detik kemudian, muncul ‘deteksi bahasa’ yang menyatakan kalau tulisan itu menggunakan bahasa Spanyol. Setelah itu Nabilah menekan tombol enter untuk menterjemahkan tulisan itu ke dalam bahasa Indonesia. Tidak perlu waktu lama untuk melihat terjemahannya, di layar laptop Nabilah langsung terlihat terjemahan dari tulisan feliz de que lo yaitu bahagia itu seperti apa.

“Bahagia itu seperti apa? Apa maksudnya itu,” gumam Nabilah. Air mukanya menunjukkan raut kebingungan dengan makna dari tulisan di liontin putih itu. Namun dia berusaha menyimpulkan sendiri tentang makna tulisan itu. Mungkin saja liontin itu adalah ‘lambang kebahagian’ di negerinya putri Pevita. Dan memang sesuai dengan kegunaan dari liontin itu yang kekuatannya menjadi prisai di negeri itu. Kekuatan yang luar biasa yang membuat liontin itu menjadi incaran orang jahat seperti ratu Eden.

Nabilah kemudian merinding tatkala teringat sosok pria misterius berbadan tinggi yang selalu mengikuti dirinya. Seperti ketika Nabilah berada di padang rumput, ketika dirinya di buntuti oleh pria itu. Sampai akhirnya Nabilah bertemu langsung dengan sosok itu, namun dia langsung berlari menjauh begitu saja.

Kemudian tatkala Nabilah bersama kekasihnya Aliando mau berangkat dari rumah Nabilah. Sosok pria itu seperti membuntuti lagi, namun dia bisa bersembunyi dengan lihainya. Namun sosok itu muncul tiba-tiba, saat Nabilah dan Aliando berada di tebing untuk melihat pemandangan air terjun. Yang lebih mengherankan lagi, sosok itu terang-terangan muncul dan langsung mendorong jatuh Aliando disaat situasi berubah mencekam. Saat awan hitam menutupi langit, angin kencang bertiup, petir bersahutan dan terlebih lagi saat itu muncul sebuah benda misterius seperti dalam cerita fantasi luar angkasa. Benda berwujud seperti black hole yang mengeluarkan suara aneh. Black hole itu seperti menghisap benda-benda disekitarnya, termasuk Nabilah. Yeah, sepertinya Nabilah sudah terbiasa dengan hal-hal berbau fantasi yang sudah sangat sering dialaminya. Sudah tidak terlalu aneh lagi bagi dirinya untuk menghadapi kejadian-kejadian berbau fantasi, mistis dan lain sebagainya yang tidak bisa diterima akal sehat. Sebenarnya Nabilah berusaha untuk tidak mempercayai dan menganggap sebagai mimpi tentang apa yang akhir-akhir ini dialaminya. Akan tetapi, hal-hal aneh itu memang nyata terjadi dan mau tidak mau harus bisa diterima sebagai sebuah kenyataan dan bukan khayalan. Mungkin kalau seandainya semua hal aneh ini diceritakan Nabilah kepada Feby, Stella dan Dhini, mereka pasti tidak akan percaya. Mereka pasti menganggap Nabilah gila, kalau dia menceritakan semua hal-hal berbau fantasi yang dialaminya. Alhasil, Nabilah memutuskan untuk merahasiakan semua hal aneh yang dialaminya itu. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menceritakan semua itu kepada teman-teman dan orang terdekatnya, bahkan kepada om Wisnu dan tante Shireen sekalipun. Karena semua hal-hal aneh itu seperti sengaja ditunjukkan kepada dirinya seorang. Dan mungkin saja dirinya adalah ‘orang terpilih’ yang nantinya akan mendapat tugas berat dan lain sebagainya, pikiran Nabilah mencoba berspekulasi dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri. Mungkin saja spekulasi itu benar, entahlah.

Kemudian pikiran Nabilah kembali melayang memikirkan hal aneh lainnya. Setelah tadi dia memikirkan tentang sosok pria misterius yang sepertinya adalah ‘utusan’ dari ratu Eden, kali ini pikirannya tertuju kepada kekasihnya sendiri, yaitu Aliando. Banyak pertanyaan yang kali ini muncul di benak Nabilah pasca hal aneh yang dialami keduanya sewaktu di tebing. Pertanyaan pertama yang mengganggu pikiran Nabilah adalah kenapa sang kekasih di serang kemudian di dorong jatuh oleh si pria misterius. Apa alasan orang itu mendorong jatuh Aliando, apakah dendam? Jelas tidak mungkin, karena keduanya belum pernah bertemu sebelumnya. Alasan kedua, mungkin saja orang itu menganggap  Aliando sebagai ‘penghalang’ tujuannya untuk mengambil liontin putih, karena Aliando yang selalu berada di dekat Nabilah. Alasan ini lebih masuk akal, dan untuk sementara alasan kedua inilah yang menjadi jawaban dari pertanyaan pertama yang membayangi pikirannya.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai kekuatan hebat yang dimiliki oleh Aliando. Terutama fisiknya yang tidak kenal lelah tatkala menggendong Nabilah sewaktu menaiki jalan terjal menuju bukit. Begitu pula pada saat perjalanan pulang menuruni bukit, Aliando seperti tidak kelelahan sewaktu menggendong Nabilah. Bahkan langkah kakinya semakin cepat berlari kala itu. Seperti bukan manusia saja pikir Nabilah yang kemudian juga teringat akan benda atau bisa dibilang senjata yang dipergunakan Aliando.

Senjata itu berwujud bola hitam seukuran bola tenis. Benda itulah yang membantu Aliando bersama Nabilah untuk menjauh dari daya hisap black hole yang mengerikan. Benda apa itu? Sepertinya kali ini Nabilah belum bisa menemukan jawabannya. Sama juga dengan pertanyaan kenapa kekasihnya itu sangat kuat tidak seperti manusia biasa pada umumnya, sepertinya belum ada jawaban yang bisa menjawab kedua pertanyaan itu. Semuanya membuat Nabilah menjadi semakin bingung terhadap kekasihnya sendiri. Apalagi pada saat perjalanan pulang, dia tidak terlalu banyak bicara alias diam saja. Seperti ada sesuatu di dalam hatinya yang disembunyikan dari Nabilah. Nabilah kemudian memutuskan untuk menanyakan semua keganjilan itu kepada kekasihnya saat berada di sekolah besok. Sekaligus mengakhiri petualangan pikirannya akan semua pertanyaan yang terus muncul di dalam benaknya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore dan hujan pun nampak sudah reda. Nabilah kemudian memutuskan untuk berbaring sejenak di atas kasurnya. Rasa lelah karena perjalanan tadi siang membuatnya ingin beristirahat dari semua pikiran-pikiran anehnya. Laptop yang tadi dipangkuannya, diletakkan di atas meja di samping kasurnya. Sedangkan liontin putih yang dari tadi ada di genggamannya ditaruhnya kembali di dalam laci meja itu. Dia pun berusaha memejamkan matanya sambil menghilangkan semua hal aneh yang ada di kepalanya.


***


“Akhirnya selesai juga upacaranya,” kata Stella dengan nada lega.

“Iya. Untung tidak terlalu lama kita berjemur,” sahut Dhini yang tampaknya sudah berkeringat karena panas matahari saat upacara bendera beberapa saat sebelumnya. Raut wajah lega juga terlihat dari wajahnya.

“Hey, Nabilah. Kenapa kau dari tadi diam saja,” tanya feby kepada teman sebangkunya itu. Dia heran melihat Nabilah yang sepertinya murung dan tidak terlalu banyak bicara dari tadi pagi sejak sebelum upacara bendera dimulai. Biasanya dia salah satu yang paling suka ngobrol dengan teman-temannya. Namun kali ini ada yang berbeda dari Nabilah menurut pandangan teman sebangkunya, Febby.

“Sepertinya hari ini aku kurang enak badan,” jawab Nabilah dengan nada pelan. Memang terlihat jelas raut wajahnya yang sedikit pucat.

“Wah kamu sakit ya?” tanya Stella dengan nada khawatir. “Lebih baik kamu pulang saja, nanti biar aku yang minta ijin sama Bu Cynthia,” sambungnya lagi.

“Tidak apa-apa. Aku masih bisa mengikuti pelajaran. Tenang saja,” sahut Nabilah dengan tersenyum. “Ngomong-ngomong, kalian ada gak melihat si Aliando? Dari tadi pagi tidak terlihat batang hidungnya,” tanyanya kepada teman-temannya.

“Iya ya. Dari tadi tidak terlihat si anak baru itu,” Febby memberikan pendapat serupa dengan Nabilah.

“Hmm.. jangan-jangan ini ya penyebab kamu murung dari tadi pagi,” goda Stella kepada Nabilah. “Pantas saja hari ini kamu berbeda dari biasanya ya. Ternyata gelisah mencari sang pujaan hati,” sambungnya dengan nada mengejek. Di lanjutkan dengan tawa kecil oleh ketiga teman Nabilah itu sambil terus menggoda dirinya yang memang tampak gelisah karena Aliando yang sepertinya tidak terlihat pagi ini.

Wajah Nabilah justru semakin murung. Kemudian Febby mencoba menghiburnya.

“Ayo kita bergegas ke dalam kelas. Mungkin saja dia sudah berada di dalam kelas,” Febby mencoba menghibur Nabilah kemudian diiringi anggukan Nabilah tanda setuju. Keduanya kemudian berjalan menuju ruangan kelas 1F, diikuti oleh Stella dan Dhini yang dari tadi terus menerus menggoda Nabilah.

Sesampainya di dalam kelas, mata Nabilah kemudian tertuju kepada kursi yang terletak di depan tempat duduknya. Kursi itu adalah tempat duduk kekasihnya Aliando. Dan kursi itu terlihat kosong. Jelas sudah kalau kekasih Nabilah itu sepertinya tidak masuk hari ini. Terlihat jelas raut wajah Nabilah semakin murung, karena dia ingin sekali bertemu dengan kekasihnya itu.

Stella kemudian mencoba memberikan solusi, “Hey Nabilah. Bagaimana kalau kau telepon saja dia. Kamu punya nomor ponsel nya kan?”

“Tidak. Aku tidak punya nomor ponsel nya,” Nabilah menggelengkan kepala.

“Aneh. Kamu kan dekat dengan dia. Kenapa sampai nomor ponselnya kok kamu tidak punya?” tanya Stella heran.

“Entahlah. Dari awal bertemu sampai dengan sekarang, Dia tidak pernah menyinggung masalah nomor telepon. Bahkan sampai saat ini aku belum pernah melihat dia menggunakan ponsel,” jawab Nabilah. Dalam hatinya heran dengan sang kekasih yang tidak pernah menunjukkan ponselnya di hadapan Nabilah.

“Iya juga ya. Aku juga tidak pernah melihat dia menggunakan ponsel,” Febby sependapat dengan Nabilah.

“Mungkinkah dia tidak memiliki ponsel,” Dhini yang usianya paling muda dari teman-temannya mencoba berspekulasi.

“Ah mustahil sekali orang yang kaya raya seperti dia tidak punya ponsel,” sergah Stella. “Kamu melihat sendiri kan, setiap hari dia dijemput oleh supirnya dengan mengendarai sedan yang sangat mewah. Mana mungkin dia tidak mampu membeli ponsel,” sambung Stella mencoba mementahkan spekulasi dari Dhini.

“Ya sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Ayo kita duduk saja. Sebentar lagi Bu Cynthia mau masuk kelas,” kata Febby mencoba menghentikan obrolan. Dia adalah yang paling dewasa diantara temannya yang lain. Ucapan Febby itu dibalas dengan anggukan dari ketiga temannya yang kemudian langsung menuju tempat duduk masing-masing yang kebetulan memang sangat berdekatan satu sama lain.

Tidak berapa lama kemudian, Ibu Cynthia masuk ke dalam kelas. Beliau dengan cepat menuju ke depan para murid sambil mengucapkan salam.

“SELAMAT PAGI ANAK-ANAK!” sapa ibu guru muda itu kepada para muridnya.

“PAGI BU GURU!” jawab seisi kelas serentak.

Kemudian mata Ibu Cynthia memandang seisi kelas, memastikan seluruh bangku kelas terisi penuh. Namun kali ini tatapan matanya berhenti di bangku kosong yang ada di depan Nabilah.

“Sepertinya ada yang tidak hadir hari ini,” seru ibu Cynthia. “Hmm. Sepertinya Aliando yang tidak masuk ya,” tanya beliau lagi. Beliau sepertinya hafal dengan nama semua siswanya dan juga posisi duduknya masing-masing.

“Ozan. Kamu tahu kenapa Aliando tidak masuk?” tanya Bu Cynthia kepada Ozan, teman sebangku Aliando.

“Tidak tahu bu. Dia tidak menitipkan pesan apapun kepada saya,” jawab Ozan dengan polos.

“Ya sudah,” jawab Bu Cynthia. “YANG LAIN ADA YANG TAHU KENAPA ALIANDO TIDAK MASUK?” tanya Bu Cynthia kepada seisi kelas. Beliau ingin memastikan alasan kenapa salah satu muridnya itu tidak masuk kelas.

Seisi kelas nampak hening. Tidak ada satu murid pun yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bu Cynthia. Beliau pun akhirnya menyimpulkan kalau Aliando tidak masuk kelas ‘tanpa keterangan’. Dan itu merupakan salah satu hal yang tidak disukai oleh Bu Cynthia yang terkenal perfeksionis dalam hal kedisiplinan dan absensi di kelasnya. Tidak heran kelas 1F yang dipimpinnya merupakan kelas terbaik karena siswa nya nyaris tak pernah absen masuk kelas. Namun kali ini hal itu ‘dirusak’ oleh salah ketidak hadiran salah satu murid di kelas 1F yang termasuk dalam kategori murid baru. Hal itu pasti akan mendapat  penilaian tersendiri dari sang guru terhadap murid yang bersangkutan.  Dan Aliando mungkin salah satu murid yang mendapat penilaian ‘negatif’ dari sang wali kelas dalam hal kedisiplinan.

 Setelah menyadari kalau Aliando tidak hadir dan tanpa keterangan, membuat Nabilah menjadi semakin murung. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan kekasihnya itu, karena banyak hal yang ingin dikatakannya kepada lelaki berwajah tampan itu. Namun sedianya hal itu tidak bisa dilakukan karena sang kekasih yang tidak masuk hari ini. Tapi masih ada hari esok pikir Nabilah. Mungkin saja hari ini Aliando tidak masuk karena dia sakit tapi tak sempat memberitahu yang lain. Semoga dia besok bisa masuk ke sekolah lagi, doa Nabilah di dalam hati.
       

“Baiklah kalau begitu. Kita mulai pelajaran hari ini,” kata Bu Cynthia kepada seluruh siswanya. Dan pelajaran pun dimulai. Mata pelajaran yang diajarkan beliau adalah bahasa asing, dan hari ini adalah khusus untuk pelajaran bahasa Spanyol. Baru kali ini beliau mengulas tentang pelajaran bahasa Spanyol. Bahasa yang mengingatkan Nabilah kepada tulisan aneh pada liontin putih yang dijaga olehnya. Tulisannya adalah feliz de que lo.

“Kenapa kamu hari ini Nabilah? Kok banyak melamun?” tiba-tiba om Wisnu bertanya kepada Nabilah yang hari ini terlihat muram. Beliau yang sedang menyetir mobilnya terlihat heran dengan keponakan cantiknya yang tidak seperti biasanya. Biasanya Nabilah selalu bersemangat dan ceria, namun kali ini seperti sedih dan tidak bersemangat. Dia terlihat lebih banyak melamun dan tidak terlalu menghiraukan keberadaan omnya yang sedang duduk di sampingnya.

“Hari ini aku lg kurang enak badan om,” jawab Nabilah pelan. Wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi lesu di depan omnya.

“Ya sudah. Nanti sampai di rumah langsung istirahat saja, ok?” kata om Wisnu sambil tersenyum ke arah Nabilah.

“Iya Om,” angguk Nabilah masih dengan ekspresi lesunya. Terlihat jelas dia masih memikirkan kekasihnya yang tidak ada kabar sama sekali. Sementara mobil yang ditumpangi keduanya melaju di jalanan pedesaan menuju ke rumah mereka yang ada di komplek bernama CLUSTER GARDEN.

Sore hari di rumah, Nabilah menghabiskan waktunya bersama laptop di kamarnya.   Kali ini dia mau mengobati rasa penasarannya akan suatu hal. Sesuatu hal yang bernama magician, istilah yang pernah didengarnya sewaktu mimpi bertemu Raline dan putri Pevita. Kali ini Nabilah memanfaatkan waktu sore dikamarnya untuk mengetahui lebih detail tentang magician, mengingat penjelasan putri Pevita tentang sosok magician yang kuat dan memiliki ‘kemampuan khusus’. Entah karena apa tapi kali ini Nabilah mulai berspekulasi tentang kekasihnya, Aliando yang memiliki kekuatan tidak seperti orang kebanyakan. Selain kekuatan, Aliando juga memiliki senjata berbentuk bola hitam yang unik namun menyimpan banyak misteri. Yang lebih mengherankan lagi, sang kekasih tidak pernah menggunakan ponsel atau bahkan tidak memiliki benda yang sangat penting itu. Selama berteman dekat sampai dengan ‘kencan pertama’ di perbukitan, dia sekalipun tidak pernah menggunakan ponsel. Bukankah itu hal aneh untuk anak muda jaman sekarang, apalagi seperti Aliando yang kaya raya. Pastilah dia sanggup untuk membeli ponsel walau yang paling mahal sekalipun. Hal inilah yang terlihat sangat janggal dari dirinya yang tidak seperti orang kebanyakan. Mungkinkah dia bukan berasal dari dunia nyata, melainkan dari ‘dunia lain’ yaitu Atlantis? Mungkinkah kekasihnya itu adalah seorang magician? Kali ini spekulasi Nabilah tergolong tidak masuk akal alias mustahil.

Nabilah kemudian membuka mesin pencari, google dari laptopnya. Kemudian dia mengetikkan tulisan magician di halaman awal mesin pencari itu. Tidak perlu waktu lama untuk melihat ‘hasil’ dari pencarian tentang informasi mengenai magician.  Begitu banyak definisNi dari kata kunci tersebut, kalau di indonesia istilah magician itu berarti ‘pesulap’.

Dari layar laptop Nabilah terlihat definisi lengkap mengenai ilmu magic yang digunakan oleh para magician.  Ternyata sejarah dari ilmu magic itu dimulai dari zaman mesir kuno. Awalnya magic digunakan orang mesir kuno untuk pertunjukan hiburan kepada para raja di mesir. Merupakan suatu kehormatan bagi mereka yang punya kemampuan magic untuk melakukan pertunjukan dan menghibur keluarga negeri, yang merupakan tugas utama mereka kala itu. Dengan seksama Nabilah membaca sejarah dari lahirnya magician  di masa lalu yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh putri Pevita. Menurut putri Pevita, magician di ‘dunia’ mereka adalah manusia dengan ‘kemampuan khusus’ yang bertugas melindungi negeri dari ancaman musuh. Bisa dibilang tugas mereka adalah bertarung demi negeri mereka itu.

Nabilah kemudian melanjutkan membaca tentang sejarah dari magician melalui laptop yang ada dipangkuannya. Disitu tertulis bahwa magic semakin berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya tidak hanya di dalam negara Mesir saja, melainkan juga ke benua Eropa. Di negara Inggris, perkembangan magic semakin pesat dengan berbagai varian atau tipe dari ilmu magic. Contohnya seperti, mentalism, tricks, mathemagic, escapetology, illusion, telekinesis, hypnotis, faqir dan lain sebagainya. Masing-masing varian itu memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda. Dan semua itu masih diperuntukan untuk keperluan hiburan dan pertunjukan. Tujuannya tidak hanya untuk menghibur keluarga negeri, para bangsawan dan pejabat. Tetapi juga untuk semua orang dari berbagai kalangan. Bahkan ada juga tipe magician yang bernama street magician, biasanya menghibur orang-orang dengan turun langsung ke jalanan. Orang-orang dapat melihat langsung dan dengan lebih dekat atraksi-atraksi magic  yang sangat mengagumkan. Terkadang para magician itu juga melakukan atraksi magic dengan melibatkan orang untuk menjadi sukarelawan dalam menjalankan atraksinya. Sehingga setiap pertunjukan magic itu terlihat lebih interaktiv dan nyata dihadapan para masyarakat yang menontonnya secara langsung di jalanan.

Wajah Nabilah semakin antusias ketika membaca sejarah dan definisi dari magician. Namun kali ini air mukanya berubah tatkala membaca halaman terakhir di layar laptopnya. Disitu tertulis tentang perkembangan magician akhir-akhir ini yang semakin diidentikkan dengan ilmu sihir, cenayang, roh halus, jin dan lain sebagainya. Ilmu magic yang akhir-akhir ini memiliki kemampuan seperti membaca masa depan, membaca pikiran orang, menggerakkan benda dengan pikiran, serta mampu meramalkan sesuatu terlihat sedikit berbau mistis. Kemampuan bidang-bidang magician itu tidak hanya untuk pertunjukan saja, melainkan juga dipakai orang lain untuk tujuan-tujuan negatif. Contohnya seperti guna-guna, meramal nasib, menghipnotis orang lain untuk kejahatan seperti penipuan dan lain sebagainya. Semua itu adalah beberapa kemampuan dari magician yang sedikit berbelok arah seiring dengan perkembangan zaman. Kali ini Nabilah sedikit merinding tatkala membaca halaman terakhir situs google yang menjelaskan tentang definisi serta perkembangan ilmu magic dari waktu ke waktu yang cenderung mengarah ke hal-hal yang negatif dan bertentangan dengan tujuan awal keberadaan ilmu magic di zaman Mesir kuno. Isi dari halaman terakhir yang berbau mistis itu seakan menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan definisi magician sesuai dengan penjelasan putri Pevita. Sejalan juga dengan apa yang dialami Nabilah dalam beberapa hari ini. Semuanya tidak bisa diterima dan logika, bisa di bilang seperti dalam dunia fantasi namun berbau mistis. Semua hal yang membuat Nabilah merasa hidup di dalam mimpi dan bukan di alam nyata.

Nabilah kemudian menyimpan kembali laptopnya ke dalam lemarinya. Terlihat raut wajahnya masih sedikit murung karena informasi yang di dapatnya masih belum cukup memuaskan baginya. Semua definisi tentang magician yang di dapatnya di internet belum bisa dihubungkan dengan sosok kekasihnya, Aliando. Namun informasi itu sedikit banyak berhubungan dengan cerita putri Pevita tentang ‘dunia lain’ tempat tinggalnya yang sedang dilanda peperangan melawan musuh yang berbau mistis. Mistis dalam penggunaan ilmu magic yang akhir-akhir ini digunakan di dunia nyata seperti serupa dengan yang digunakan di ‘dunia lain’. Tapi lagi-lagi ini semua hanya kesimpulan singkat alias spekulasi sepihak dari pikiran Nabilah yang keabsahannya belum tentu terjamin. Titik temu yang dicarinya masih belum didapatkannya, mengenai semua hal-hal aneh yang beberapa hari ini menimpanya. Termasuk pula keanehan dari sosok kekasihnya yang hingga kini belum ada kabarnya.


***


“SELAMAT PAGI ANAK-ANAK!” Ibu Cynthia memulai salam kepada seluruh muridnya di kelas. Kali ini wali kelas dari kelas 1F itu masuk di jam pelajaran kedua.

“PAGI BU GURU!” jawab seluruh muridnya serentak.

Kali ini mata Bu Cynthia kembali tertuju kepada bangku kosong yang ditempati oleh Aliando. Air mukanya sedikit menunjukkan rasa marah.

“ADA YANG TAHU KENAPA ALIANDO TIDAK MASUK HARI INI?” tanya Bu Cynthia kepada seisi kelas. Matanya menatap tajam ke arah semua muridnya yang di balas oleh suasana hening dan tidak ada jawaban dari para murid kelas 1F itu.

“Baiklah kalau begitu,” gumam Bu Cynthia. “Ini kali kedua si Aliando tidak hadir dan tanpa keterangan,” sambungnya dengan nada geram. Beliau sangat tidak menyukai dengan yang namanya ketidak disiplinan. Begitulah karakter Bu Cynthia, wali kelas 1F yang menomor satukan disiplin dalam aturan di kelasnya itu.

Nabilah tidak dapat menyembunyikan wajah murungnya sejak dari tadi pagi, ketika dia menyadari ketidak hadiran Aliando yang mulai membuatnya cemas. Pikirannya mulai berspekulasi tentang kondisi kekasihnya yang mungkin saja sakit parah.

“Jangan sedih donk Nabilah,” bisik Stella yang duduk di belakang Nabilah. Dia bersuara sangat pelan karena Bu Cynthia sedang menjelaskan pelajaran sambil menulis di papan tulis.

“Yang sabar ya Nabilah. Mungkin dia lagi sakit dan tidak sempat memberitahumu,” Febby turut menghibur teman sebangkunya yang terlihat galau. Suaranya juga agak berbisik seperti halnya Stella yang tadi memulai percakapan.

“Bagaimana kalau kamu hari ini kerumahnya saja,” Bisik Dhini yang kemudian ikut mengobrol.

“Yeah, seandainya aku tahu letak rumahnya pasti kulakukan itu,” jawab Nabilah sambil menghela nafas panjang.

“Apa?! Jadi selama ini kamu tidak tahu rumahnya?!” Tanya Stella dengan sedikit heran. Kali ini suaranya terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Namun sepertinya tetap tidak terdengar oleh Bu Cynthia yang sedang menulis di papan tulis tentang pelajaran Bahasa Inggris yang hari ini diajarkannya.

“Yeah, begitulah.” Jawab Nabilah lirih. Dia teringat akan janji sang kekasih yang berjanji akan menunjukkan letak rumahnya sepulangnya dari ‘kencan pertama’ di perbukitan. ‘Kencan pertama’ yang penuh dengan kejadian-kejadian aneh yang menegangkan dan berbau mistis. Namun janji itu sepertinya terlupakan oleh Aliando. Pada saat pulang dari ‘kencan pertama’, dia justru pergi meninggalkan Nabilah dengan dalih mau menyelesaikan ‘urusan yang sangat penting’. ‘Urusan’ apa yang kira-kira sangat penting bagi lelaki berparas tampan itu? Seberapa pentingnya 'uru‘an' itu dibandingkan dengan dirinya? Pikiran Nabilah terus dipenuhi dengan tanda tanya besar mengenai gelagat aneh yang diperlihatkan kekasihnya tatkala pulang dari ‘kencan pertama’ di perbukitan. Gelagat aneh yang membuat Nabilah ingin segera bertemu dan ingin menanyakan banyak hal kepada sang kekasih. Namun, sudah dua hari Aliando tidak menunjukkan batang hidungnya dan tanpa adanya keterangan. Nabilah pun semakin cemas memikirkan kondisi dari orang yang dicintainya. Pikirannya menjadi tidak fokus akan materi pelajaran yang sedang dijelaskan oleh Bu Cynthia. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, yaitu Aliando. Beserta dengan keanehan-keanehan yang menyertai sang kekasih tercintanya itu.

Hari-hari berikutnya di SMU Negeri 1 Ciburial lagi-lagi tanpa kehadiran Aliando. Hari itu hari jumat, total sudah 5 hari siswa itu tidak hadir di sekolah. Bahkan tak ada keterangan atau alasan kenapa dia tidak masuk sekolah. Hal itu kontan saja membuat Nabilah menjadi semakin cemas. Sudah 5 hari dia tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Tidak ada kabar yang bisa diketahui karena tidak ada seorang pun yang tahu alamat rumahnya dan juga nomor telepon atau ponsel pribadinya. Terlihat jelas wajah Nabilah yang tampak tidak sehat. Matanya terlihat pucat dan ada kantung mata yang menandakan kalau dia kurang tidur. Akhir-akhir ini memang dia sangat sulit untuk memejamkan mata , karena setiap malam  pikirannya selalu dihantui oleh rasa cemas akan keadaan kekasih tercintanya itu. Semua rasa penasaran akan segala keanehan yang melekat pada sang kekasih tertutupi oleh rasa khawatir yang semakin menjadi-jadi. Karena bagi seorang pasangan, sehari saja tidak bertemu atau paling tidak memberikan kabar pasti akan merasa khawatir. Apalagi yang sekarang dialami oleh Nabilah, sudah 5 hari tidak bertemu dengan Aliando dan tanpa kabar pula. Sejak acara ‘kencan pertama’ hari minggu yang dipenuhi dengan hal-hal aneh, mencekam dan berbau mistis. Sejak saat itulah sang kekasih seperti ‘menghilang’ dari kehidupan Nabilah, tanpa sebab dan tanpa kabar.

“Kamu sakit ya Nabilah?” tanya Febby kepada Nabilah yang terlihat pucat ketika mereka berada di kantin bersama Stella dan Dhini. Saat itu sedang jam istirahat sekolah.

“Iya nih. Tidak biasanya kamu sepucat ini. Lagi mikirin si Aliando ya?” Stella ikut menimpali namun nada menggoda.

“Yeah begitulah. Aku lagi kurang enak badan,” jawab Nabilah singkat. Dalam hatinya memang mengiyakan apa yang dikatakan oleh Stella. Saat ini dia sangat mencemaskan kondisi Aliando.

 “Sepertinya kamu memang memikirkan si Aliando. Tenang saja dia pasti baik-baik saja,” Febby mencoba menenangkan hati Nabilah.

 “Bagaimana kalau kamu pergi ke rumahnya saja!” seru Dhini tiba-tiba. Gadis yang paling muda diantara yang lainnya itu mencoba untuk memberikan usulan.

 “Seandainya aku tahu letak rumahnya, tanpa dikasih tahu pun aku pasti langsung kesana. Dia itu tidak pernah memberitahukan dimana rumahnya kepadaku,” Nabilah memberikan penjelasan. Wajahnya terlihat semakin murung.

 “Kalau aku sih pasti aku cari sampai dapat. Rumah kalian satu komplek kan? Kalau bingung ya tanya sama orang-orang sekitar,” Stella memberikan usulannya. Kali ini gadis yang terkenal paling suka ceplas-ceplos itu agak lebih serius daripada biasanya.

 “Hmm.. ide yang bagus. Baiklah nanti sore aku coba mencari rumah dia,” Nabilah menyetujui usulan dari Stella. Walau begitu, di dalam hatinya masih agak ragu apakah akan bisa menemukan rumah kekasihnya itu. Komplek CLUSTER GARDEN yang ditinggalinya lumayan luas dan perumahan di dalamnya berjumlah banyak. Apalagi Nabilah jarang menelusuri komplek perumahannya itu, dia lebih sering menulusuri jalanan pedesaan di luar dari komplek perumahan mewah itu. Sehingga dia tidak terlalu familiar dengan komplek maupun para penghuni komplek perumahan yang ditinggalinya itu

 “Mau aku temani mencari alamat itu nanti sore?” Febby menawarkan diri untuk membantu teman sebangkunya itu. Dia melihat wajah Nabilah yang sedikit ragu dan kurang semangat.

 “Tidak usah. Aku sendiri saja nanti. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Nabilah sambil tersenyum kepada Febby.

 “Ya sudahlah kalau begitu,” Febby menuruti apa yang dikatakan oleh Nabilah.

Tidak lama kemudian bel tanda berakhirnya jam istirahat telah berbunyi. Nabilah, Febby, Stella dan Dhini langsung bergegas menuju ke ruangan kelas mereka. Di sana sudah menunggu jam pelajaran kelima, yaitu Fisika.
       
Sore harinya Nabilah langsung melaksanakan apa yang diusulkan oleh Stella. Dengan mengenakan baju kaos putih dan jaket pink serta celana jeans birunya, Nabilah berjalan-jalan santai memutari kompleknya. Raut wajahnya terlihat lebih segar karena sepulang sekolah dia langsung tertidur sampai terbangun di sore harinya. Jam di tangan Nabilah menunjukkan pukul 04.30 sore, Nabilah mulai berjalan menyusuri Komplek bernama CLUSTER GARDEN itu.

Perjalanan Nabilah dimulai dari arah rumahnya menuju ke arah dalam komplek CLUSTER GARDEN. Dia teringat dengan arah mobil yang ditumpangi Aliando bersama supirnya setelah mengantar pulang Nabilah. Dia kemudian mengikuti arah yang diingatnya itu, yakni masuk ke arah dalam komplek kemudian berbelok ke arah kanan.

Nabilah menyusuri jalan di komplek perumahan mewah itu, yang ukurannya lumayan lebar. Di kiri dan kanannya hanya ada rumah dengan bentuk dan ukuran nyaris serupa. Hanya ada sedikit perbedaan seperti warna cat dan pagar rumah yang tidak sama. Di sepanjang jalan tidak terlalu ramai, hanya sesekali saja ada mobil yang lewat di komplek itu. Begitu juga dengan suasana tiap-tiap rumah yang terlihat lengang seperti tidak berpenghuni atau mungkin saja orangnya sedang tidak berada di rumahnya. Namun ada juga beberapa orang yang terlihat duduk di teras rumahnya. Mereka seperti sedang bersantai sambil mengobrol satu sama lain.

Nabilah kemudian berjalan mengikuti arah belokan sebelah kanan seperti yang pernah dilihatnya sewaktu mobil Aliando dan supirnya yang waktu itu berbelok di belokan itu. Setelah mengikuti arah itu, Nabilah kemudian terus berjalan-jalan sambil melihat-lihat dengan seksama ke arah tiap-tiap rumah di sekitar situ. Dia berharap melihat mobil sedan hitam yang biasa membawa Aliando berangkat dan pulang sekolah, terparkir di salah satu rumah di perumahan itu. Nabilah semakin jauh berjalan menuju ke dalam komplek itu, dengan mata yang terus melihat dengan seksama ke arah kiri dan kanan. Banyak sekali rumah dengan mobil yang terparkir di pekarangannya, namun tidak ada mobil yang biasa mengantar kekasihnya ke sekolah.

Semakin jauh Nabilah berjalan dan terus melihat dengan seksama ke tiap-tiap rumah, namun mobil yang dicari tidak ada di pekarangan masing-masing rumah itu. Terkadang Nabilah juga bertanya kepada orang-orang yang kebetulan lewat di dalam komplek itu. Apakah mereka tahu di mana rumah seseorang yang bernama Aliando? Jawabannya tidak ada satupun yang tahu dan kenal dengan lelaki bernama Aliando itu.

Hampir satu jam Nabilah mencari dan berkeliling mencari rumah sang kekasih. Seluruh komplek sudah dikelilinginya dengan jalan kaki, sampai dia berkeringat karena kelelahan. Hampir semua orang yang sedang lewat maupun yang sedang berada di pekarangan rumah tidak luput dari pertanyaan Nabilah. Namun hasilnya tak ada satupun yang kenal dengan Aliando. Mereka bahkan mengaku tidak pernah melihat mobil sedan mercedes hitam berkeliaran di jalanan komplek yang bernama CLUSTER GARDEN itu. Dengan sedikit kecewa Nabilah mulai menghentikan pencariannya. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 05.30 sore. Alhasil, Nabilah pun memilih untuk pulang dengan tangan hampa.

Malam harinya, sehabis makan malam Nabilah langsung beranjak ke kamar tidurnya. Terlihat wajahnya yang semakin lesu dan tidak terlalu bersemangat dalam beberapa hari ini. Melihat hal itu tante Shireen dan om Wisnu jadi sedih melihat hal itu. Mereka terus menatap Nabilah yang dengan lesu berjalan menuju ke kamarnya.


“PAGI ANAK-ANAK!” Seperti biasa, sapaan Bu Cynthia terdengar sangat nyaring di depan kelas.

“PAGI BU GURU!” seisi kelas menjawab dengan suara yang tak kalah nyaring pula. Seisi kelas sangat bersemangat karena hari ini adalah hari sabtu, yang berarti besoknya adalah hari minggu. Seluruh siswa terlihat amat bersemangat belajar kalau hari besoknya adalah hari minggu.

“Hari ini ada pengumuman penting yang ingin ibu sampaikan kepada kalian semua,” Bu Cynthia memulai penjelasannya. Kali ini raut wajahnya nampak sangat serius.

“Mulai hari ini, Aliando diberhentikan dari sekolah ini. Sudah 5 hari dia tidak masuk sekolah dan tanpa keterangan,” jelas Bu Cynthia. Terlihat nada ucapannya sangat tegas dan lugas. Mendengar hal itu, tiba-tiba Nabilah langsung berdiri dan memotong pembicaraan sang wali kelas di kelas 1F itu.

“Kenapa bisa begitu?? Siapa tahu dia sedang sakit keras dan tidak sempat memberitahu sekolah mengenai sakit yang dialaminya?!” dengan wajah hampir menangis, Nabilah membela kekasihnya. Tanpa disadarinya dia sedikit membentak sang guru yang terkenal tidak kenal toleransi kepada muridnya. Melihat hal itu, seisi kelas terlihat bingung melihat Nabilah yang seperti ‘mati-matian’ membela Aliando. Bahkan Febby, Stella dan Dhini terlihat terkejut dan sedikit khawatir kalau-kalau Bu Cynthia marah melihat kelakuan anak muridnya itu.

Kali ini wajah Bu Cynthia tetap tenang. Dia melanjutkan penjelasannya kepada Nabilah dan seluruh muridnya.

“Maaf sebelumnya Nabilah. Kalau memang dia sakit keras, kan masih bisa meminta orang tuanya untuk datang kesini untuk memberitahu, tapi nyatanya hal itu tidak dilakukan. Lagipula pihak sekolah sudah menghubungi ke nomor telepon yang diberikannya sewaktu hari pertama masuk ketika di berada ruang guru. Ternyata nomor itu tidak aktif. Meski begitu, kami tetap berusaha mencari tahu. Kami mencoba mendatangi alamat rumah yang diberikannya sewaktu mendaftar di sini. Kami menelusuri alamat rumahnya yang ada di CLUSTER GARDEN. Setelah kami dapat menemukan rumahnya yang sesuai dengan alamat itu, ternyata penghuni rumah itu bukan Aliando dan keluarganya. Penghuni rumah tersebut mengaku itu adalah rumah mereka bukan rumah orang lain. Lagipula penghuni rumah itu juga tidak mengenal siapa itu Aliando. Setahu mereka tidak ada anak lelaki bernama Aliando yang tinggal di komplek perumahan itu,” dengan panjang lebar Bu Cynthia memberikan penjelasannya kepada Nabilah dan murid yang lainnya. Kebenaran akan informasi palsu yang diberikan Aliando mengenai nomor telepon dan alamat rumahnya

Mendengar penjelasan itu, wajah Nabilah langsung menunduk. Dia menyadari kalau memang yang dilakukan oleh Aliando itu salah di mata sekolahnya. Apalagi dari penjelasan Bu Cynthia tadi yang mengatakan kalau nomor teleponnya yang ternyata tidak aktip  dan alamat yang diberikannya itu seratus persen palsu. Semuanya membuat Nabilah semakin pusing, kecewa, kesal dan malu. Malu karena berusaha membela sang kekasih dengan ucapan yang sedikit membentak. Beruntung saat itu Bu Cynthia tidak marah kepada Nabilah. Terlepas dari semua itu, pada akhirnya hati Nabilah perlahan mulai menemukan sebuah jawaban. Jawaban mengenai sosok Aliando yang selama ini dikenalnya ternyata menyimpan banyak rahasia serta kebohongan. Kebohongan yang membuat Nabilah menjadi sedikit ragu mengenai semua yang dinilainya dari Aliando yang selama ini membuatnya kagum dan jatuh cinta. Sosok yang sekarang seakan sudah menghilang dari Nabilah dan bahkan dari dunia ini.

Malam harinya di rumah Nabilah. Setelah selesai mengerjakan PR dari sekolahnya, dia bersiap untuk tidur. Walaupun semua pertanyaan tentang kekasihnya Aliando selalu menghantui pikirannya, dia berusaha untuk memejamkan matanya. Dia berusaha menenangkan pikirannya dan berharap menemukan semua jawaban atas pertanyaannya di hari esok, lusa dan seterusnya. Nabilah kemudian mematikan lampu kamar yang menerangi kamarnya dan perlahan namun pasti, mata Nabilah pun mulai terpejam. Diiringi dengan hembusan nafas yang tenang yang mengiringi tidurnya di malam itu. Dia pun terlelap dalam tidurnya, dalam suasana hening malam.

“Ingat, malam bulan purnama di padang rumput kita akan bertemu.  Persiapkan dirimu untuk sebuah ‘tugas khusus’ yang akan kuberikan kepadamu. Tugas berat yang hanya bisa dilakukan oleh kau seorang”


Tiba-tiba terdengar suara bisikan yang sangat pelan di malam itu. Bisikan itu menghantui Nabilah, tatkala Nabilah masih memejamkan matanya. Bisikan ghaib yang membuat raut wajah Nabilah seketika berubah tegang dalam keadaan masih terlelap.



(To be continued...)


Ditulis oleh: Jack Neptune

Baca Juga