Skip to main content

[CERBUNG] Magician of Feliz (Bab 7)

 BAB 7: DE JA VU


Baca cerita sebelumnya di:

baca cerbung online magician of feliz bab 2
    

“Ayah bercanda ya?! Mana mungkin orang mati bisa dihidupkan kembali?!” Pevita mengungkapkan rasa ketidak percayaannya kepada raja Alberto. Raut mukanya menunjukkan ekspresi bingung bercampur tegang.

“Mungkin kau tidak akan percaya, tapi begitulah kenyataannya. Ayah pun berusaha untuk tidak percaya, tapi itulah satu-satunya harapan kita,” ucap raja Alberto yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya. Di hadapannya ada putri Pevita, Raline sang magician dan panglima perang kerajaan yaitu Carlos yang menunjukkan raut wajah tak percaya.

Raja Alberto kemudian menyuruh Carlos untuk mengambil sebuah buku di rak buku yang berada di pojok kamar raja tersebut. Dan dengan cepat Carlos mengambil buku berwarna putih yang dimaksud oleh raja Alberto. Carlos kemudian membawakan buku yang berjudul ‘flores de la felicidad’ itu kepada sang raja.

“Semua tertulis disini. Semua legenda tentang bunga ajaib yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati,” jelas raja Alberto sambil memegang buku yang tadi diambilkan oleh Carlos. “Kata kakekku, bunga itu diciptakan para leluhur untuk situasi yang sangat genting di masa depan, seperti di saat sekarang ini. Dan bunga itu hanya bisa menghidupkan 1 orang saja,” lanjut sang raja kepada putri Pevita, Raline dan Carlos.

“Flores de la felicidad itu harus ditanam di tanah makam leluhur kita yang bernama La tierra santa. “Setelah itu, mantra yang tertulis di buku diucapkan, maka permohonan untuk menghidupkan seseorang bisa dilaksanakan.

“Sesunggunya orang yang ingin aku hidupkan adalah..

“Ezhar Al, sang magician ‘initial E’?!” Raline mencoba menebak.

“Tepat sekali nak. Dia adalah satu-satunya harapan kerajaan kita. Hanya dia yang bisa mengalahkan ratu Eden beserta para sekutunya,” raja menjelaskan seluruh rencananya. Mendengar penjelasan ayahnya, Pevita kemudian terdiam dan terhenyak. Perasaannya seperti bercampur antara senang dan penuh harap. Orang yang ingin dihidupkan ayahnya adalah kekasih tercintanya yaitu Ezhar Al. Pevita pun mengangguk tanda setuju dengan semua rencana ayahnya.

“Sepertinya tidak meyakinkan, tapi patut dicoba!” seru Raline. Wanita berperawakan tinggi itu terlihat antusias.

“Ya, sekecil apapun harapan itu harus tetap kita usahakan,” Carlos setuju dengan ucapan Raline. “Izinkan aku untuk mencari bunga itu,” lanjut Carlos. Dia menawarkan diri untuk mencari ketiga bunga yang menjadi syarat untuk membangkitkan flores de la felicidad yang melegenda itu.

“Demi Neptunus, itu tidak bisa!” sahut raja Alberto tiba-tiba. “Kita dan seluruh penduduk negeri feliz tidak bisa mengambil bunga itu. Bunga itu akan musnah kalau kita pegang,” sang raja nampak sangat serius memberikan penjelasan.

“Lalu kita harus bagaimana ayah?!” Pevita terlihat sedikit kecewa dengan ucapan ayahnya itu. “Siapa yang bisa mengambil bunga itu?!” suara Pevita terdengar hampir putus asa. Harapan yang tadinya ada berangsur menghilang karena perkataan yang diucapkan oleh raja Alberto.

“Hanya orang dari ‘dunia lain’ yang bisa melakukannya, yaitu manusia. Kita memerlukan bantuan seorang manusia untuk mendapatkan bunga itu,” raja Alberto kembali menjelaskan. Suaranya semakin pelan karena dirinya masih terbaring sakit di atas tempat tidurnya.

“Bagaimana kita bisa mengajak manusia untuk melakukan itu?! Dunia kita dengan dunia mereka terpisah oleh ruang dan waktu,” tanya putri Pevita dengan nada ragu. Dia kembali tidak yakin dengan semua perkataan yang diucapkan oleh ayahnya.

“Kita diuntungkan oleh ‘takdir’, dimana kita bisa melihat manusia beraktivitas di dunia mereka. Sedangkan mereka tidak bisa melihat apa yang kita lakukan. Bagi manusia, dunia kita ini adalah ‘dunia lain’ bagi mereka. Kebalikan dari kita yang menganggap dunia mereka adalah ‘dunia lain’,” jelas raja Alberto kepada putrinya.

“Sepertinya penjelasan ayah itu tidak berarti apa-apa,” Pevita terlihat kecewa dengan penjelasan ayahnya yang panjang lebar namun tidak bermakna apa-apa bagi dirinya.

“Dengarkan baik-baik anakku, takdir akan menunjukkan siapa manusia ‘terpilih’ yang akan mengemban tugas berat ini. Kita semua akan melihat siapa sosok yang tepat itu sambil terus mengamati kehidupan di dunia mereka. Perlahan namun pasti, akan kita temukan sosok itu,” raja Alberto menutup penjelasannya. Suaranya  semakin pelan dan letih karena sakit yang dideritanya. Pevita pun menganggukkan kepala setelah mendengar penjelasan dari sang ayah.

Raja Alberto kemudian memberikan buku yang tadi dipegangnya kepada Pevita. Dia memberikan isyarat kepada anaknya untuk mempelajari isi dari buku itu yang berupa petunjuk untuk menemukan bunga suci yang tadi dijelaskan raja Alberto. Raline dan Carlos juga akan ikut serta untuk mempelajari buku warisan leluhur dari kerajaan itu. Sekarang masa depan ada di tangan mereka yang berusaha untuk mencari petunjuk keberadaan bunga suci yang bernama flores de la felicidad itu.  Tujuan utamanya adalah untuk menghidupkan sang magician terkuat -- dengan julukan ‘initial E’ yaitu Ezhar Al. Kekasih dari putri Pevita itu adalah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan penguasa dark of feliz  yaitu ratu Eden. Sekaligus untuk mengembalikan kejayaan dan kedamaian di negeri feliz yang sekarang dilanda peperangan.

 Yang menjadi pertanyaan, siapakah manusia yang akan diberikan ‘tugas’ untuk menemukan bunga suci itu? Apalagi bunga suci itu berada di negeri feliz, yang merupakan ‘dunia lain’ bagi manusia itu. Mungkinkah dia bersedia untuk tinggal dan melaksanakan di dunia yang terasa asing bagi dirinya? Semua pertanyaan itu menghantui pikiran putri Pevita saat ini.


***


“Ingat, malam bulan purnama di padang rumput kita akan bertemu.  Persiapkan dirimu untuk sebuah ‘tugas khusus’ yang akan kuberikan kepadamu. Tugas berat yang hanya bisa dilakukan oleh kau seorang”

Bisikan itu  pelan namun jelas terdengar di telinga Nabilah. Membuat Nabilah yang tengah terlelap menjadi terbangun dengan tiba-tiba. Raut wajahnya sangat tegang dan keringat dingin membasahi wajahnya. Suara bisikan itu menghilang setelah Nabilah terbangun.

Jam dinding yang tertempel dinding kamar Nabilah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Baru beberapa jam dia tertidur sampai akhirnya terbangun karena dikejutkan oleh suara bisikan aneh itu. Angin malam yang masuk dari ventilasi kamar Nabilah membuatnya menggigil kedinginan. Gorden yang menutupi jendela kamarnya bergerak kesana kemari karena tertiup oleh angin malam itu.

Nabilah kemudian menyalakan lampu untuk menerangi kamarnya yang dari tadi gelap. Kemudian dia mulai menenangkan pikirannya sambil duduk di atas kasur empuknya.  Setelah pikirannya mulai tenang, Nabilah kemudian berusaha mengingat suara yang membisiki dirinya saat tertidur beberapa saat yang lalu. Begitu keras dia mengingat suara itu beserta dengan ‘pesan’ yang ada di dalamnya. Dia kemudian mulai mengingat ‘pesan’ yang isinya tentang malam bulan purnama, pertemuan, serta tentang ‘tugas khusus’. Apa sebenarnya maksud dari semua ‘pesan’ itu? Nabilah terus bertanya kepada dirinya sendiri.


Semakin lama Nabilah berfikir, semakin sadarlah Nabilah bahwa suara itu seperti pernah didengarnya di mimpi sebelumnya. Suara halus dari seorang wanita berbaju putih yang perawakannya lebih pendek daripada wanita yang satunya. Ya, suara itu adalah suara seorang putri raja dari ‘dunia lain’ yang bernama Pevita. Jelas sekarang Nabilah sangat mengingat suara dan juga isi ‘pesan’ dari suara itu. ‘Pesan’ dari suara itu yang pernah disampaikan di mimpi sebelumnya, namun Nabilah lupa akan pesan itu. Dan bisikan tadi seakan menjadi pengingat akan ‘pesan’ sebelumnya yang disampaikan putri Pevita kalau mereka akan bertemu langsung pada malam bulan purnama, bertempat di pohon besar di padang rumput yang sering didatangi Nabilah.

Namun ada satu hal yang membuat Nabilah bingung, yaitu maksud dari ‘tugas khusus’ yang disampaikan lewat pesan tadi. Apa maksud dari dua kata itu, apakah ada semacam ‘tugas’ yang akan dibebankan kepada dirinya? Nabilah berusaha untuk tidak menghiraukan makna dari ‘tugas khusus’ itu, karena hanya akan menambah daftar pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.

Nabilah kemudian mengalihkan perhatiannya untuk melihat kalender yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Hari ini tanggal 12 bulan april. Biasanya bulan pernama terjadi di pertengahan bulan atau di tiap tanggal 15. Artinya ‘malam pertemuan’ itu akan terjadi tidak kurang tiga hari lagi. Semakin dekat dan membuat Nabilah semakin takut. Dia takut akan banyak hal aneh yang akan menimpa dirinya. Apalagi dia akan bertemu dengan dua sosok wanita yang sebelumnya pernah ditemuinya di dalam mimpi. Dua sosok wanita yang mengaku berasal dari ‘dunia lain’. Dua wanita yang menitipkan sebuah benda yang harus dijaga Nabilah baik-baik.

Sambil terus berfikir, Nabilah kemudian mengambil liontin putih yang ada di lacinya. Liontin kecil itu memperlihatkan kilauannya hasil pantulan cahaya lampu kamarnya. Sambil menatap liontin itu, Nabilah jadi teringat dengan sosok yang selalu mengejar dirinya. Sosok pria misterius berbadan tinggi yang beberapa hari ini tidak terlihat lagi. Nabilah kemudian menjadi heran kenapa sosok itu tidak mengejar dirinya lagi, justru pada saat kekasihnya Aliando juga ‘menghilang’ dari hadapannya. Kenapa kedua lelaki itu menghilang di saat yang bersamaan? Ada hubungan apa diantara keduanya? Pikiran Nabilah terus bertanya-tanya seraya mengingat semua kejadian ketika dia, Aliando dan si pria misterius berada di tebing. Sejak saat itulah kedua pria itu tidak muncul lagi. Dan semua itu membuat Nabilah kembali bertanya-tanya dalam pikirannya. Seiring semakin banyaknya pertanyaan yang berputar di kepala Nabilah, tanpa sadar dia malah terlelap dengan sendirinya. Kali ini Nabilah langsung tertidur seperti biasanya. Namun bedanya, kali ini dia lupa mematikan lampu di kamarnya. Sementara angin malam yang berhembus lembut menemani Nabilah yang tengah terlelap dalam tidurnya.

Sore hari itu Nabilah tengah berjalan-jalan di pedesaan. Kali ini wajahnya terlihat lebih segar, karena habis tidur siang beberapa jam – setelah pulang sekolah tadi siang. Nabilah kemudian teringat pesan om dan tantenya yang pergi dari tadi pagi, agar menjaga rumah baik-baik. Mereka berdua berangkat ke luar kota selama seminggu. Jadi saat ini yang tinggal di rumah hanya Nabilah dan Bi Surti saja. Nabilah pun harus mulai terbiasa ke sekolah naik taksi dalam 7 hari kedepan. Begitu juga dengan pulangnya, karena biasanya omnya lah yang mengantar dan menjemputnya dari sekolah.

Kali ini rute perjalanan Nabilah adalah ke perbukitan tempat dia dan Aliando jalan-jalan untuk ‘kencan pertama’ mereka. Perjalanan hari minggu yang dipenuhi dengan kejadian-kejadian aneh. Sampai akhirnya sang kekasihnya tidak pernah muncul lagi.

Tujuan perjalanan Nabilah kali ini adalah mencari jejak kekasihnya yang kala itu meninggalkan dirinya dengan alasan untuk menyelesaikan sebuah ‘urusan’. Dan kala itu sang kekasih pergi menuju ke arah bukit dalam keadaan cuaca mendung. Semenjak itulah dia tidak pernah muncul lagi ke hadapan Nabilah. Nabilah seolah ingin bertindak seperti seorang detektif atau sejenisnya, sehingga dia mencari petunjuk ke arah perbukitan. Perbukitan yang telah menghadirkan banyak kejadian aneh yang menimpa Nabilah bersama kekasihnya saat ‘kencan pertama’ mereka.

Sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 04.00 sore, Nabilah dengan santai berjalan menyusuri jalan pedesaan seperti sebelum-sebelumnya. Cuaca sore yang cerah serta hamparan sawah yang luas menjadi teman perjalanannya kali ini. Suasana pun lumayan ramai, banyak orang lalu lalang di jalanan itu.

Sesampainya di jalan setapak menuju bukit, Nabilah kemudian berjalan menyusuri jalan yang lumayan menanjak itu. Kali ini Nabilah dengan gesit berjalan di jalan itu. Dia sudah mulai membiasakan dirinya untuk berolahraga supaya tidak cepat kelelahan seperti saat melalui jalan yang sama sebelumnya.

 Setelah 30 menit berjalan menyusuri jalan setapak itu, akhirnya Nabilah sampai di atas bukit yang indah itu.Pemandangan indah yang terhampar dari atas perbukitan itu mengingatkan Nabilah akan kenangannya ketika sang kekasih menyatakan cinta di sana. Terlebih lagi kenangan akan indahnya ciuman pertama dari sang kekasih, terlihat indah dalam benak Nabilah. Kala itu, terik matahari pagi serta angin sepoi menjadi saksi cinta mereka berdua. Mengingat hal itu wajah Nabilah tersenyum sendiri karena begitu bahagianya saat momen kebersamaan itu terjalin. Namun sekarang segalanya telah berakhir. Sang kekasih hilang begitu saja meninggalkan rasa sedih dan sepi yang selalu melingkupi batin Nabilah. 

Nabilah kemudian duduk di rerumputan di atas bukit itu. Dari sana terlihat pemandangan persawahan dan perumahan yang tampak kecil dari kejauhan. Angin sore yang berhembus membuat suasana sore yang sejuk, seakan membawa ingatan Nabilah tatkala dia bersama sang kekasih makan siang di atas bukit itu. Ketika itu Aliando menghamparkan tikar serta membawakan camilan yang banyak untuk Nabilah.. Keduanya waktu itu menghabiskan waktu bersama sambil melihat pemandangan nan indah di sana.

Kebersamaan yang membuat Nabilah sangat bahagia.

Kali ini tidak ada petunjuk sedikitpun di perbukitan maupun di tebing. Suara air terjun yang mengalir deras menuju sungai terlihat normal seperti biasanya. Suasana sore yang masih cerah disertai hembusan angin sepoi – tidak seperti prjalanan sebelumnya yang dipenuhi hal aneh dan tidak masuk akal alias seperti di dalam cerita fantasi. Alhasil, pencarian pun Nihil.

“Rasa rindu sekelebat yang menghantui tiap langkah. Tiada harapan walau secercah. Ingin rasanya kepala ini pecah. Tatkala pikiran ini dipenuhi oleh sebuah wajah. Senyuman lembut nan merekah. Namun dia hilang tak tahu ke mana arah. Apa daya hanya bisa pasrah. Tuhan tolonglah. Aku hanya manusia, aku pasti punya salah. Tapi satu yang kumohon, kabulkanlah. Doa dan harapku – ingin bertemu seseorang yang kini antah berantah. Tuhan kumohon berilah. Sebuah petunjuk arah dan kemana aku harus memulai langkah. Agar semua rasa rindu ini bisa terjamah. Oleh hati yang sudah kuberikan amanah. Untuk menjaga hatiku yang sedang lelah.....” (Nabilah Zahra)


***


“Kenapa non Nabilah kok sarapannya tidak di makan?” Bi Surti bingung melihat majikannya yang terlihat tidak nafsu makan.

“Aku lagi tidak enak badan bi,” sahut Nabilah pelan

“Jangan tidak dimakan, nanti sakit. Inget pesen nyonya sama tuan non. Jaga kesehatan,” bi Surti berusaha membujuk.

Nabilah pun perlahan memasukkan roti sandwich ke dalam mulutnya, walau nafsu makannya kurang baik. Wajahnya sedikit pucat.

Sepotong sandwich berhasil mendarat di dalam mulutnya, menuju ke dalam perutnya. Dengan susah payah – karena memang dia sedang tidak ingin makan.

“Aku berangkat dulu ya bi,” pamit Nabilah.

“Iya non. Hati-hati di jalan,” jawab Bi Surti yang tertinggal sendirian di rumah itu.

Kemudian berangkatlah Nabilah menuju sekolahnya dengan menaiki taxi yang sudah lama menunggu di depan rumah. Secara khusus taxi itu menjadi langganan untuk 7 hari ke depan.

“Adakalanya kita harus tahu mengenai sebab apa yang membuat Aliando hilang dan tidak muncul lagi,” Stella yang ceplas ceplos dan sok tahu memulai obrolan. Kantin sekolah menjadi latar obrolan kali ini. Empat mangkok berisi kuah sisa bakso plus gelas berisi 4 es jeruk yang sudah hampir habis – tergeletak di atas meja. Mereka tak dihiraukan lagi setelah waktu makan siang dihabiskan keempat orang itu.

“Mungkinkah dia diculik?? Atau dibunuh,” fantasi Dhini si bungsu dari ke 4 sahabat ini yang suka berpendapat yang sifatnya mengada-ada.

“Hmm.. yeah.. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi inilah kenyataan. Kadang sedikit aneh tatkala sesuatu yang sudah menjadi penting bagi kita dan selalu ada untuk kita – tiba-tiba menghilang,” Nabilah merenung. Curahan hatinya didengarkan seksama oleh ketiga temannya.

“Aku bisa memahami itu. Aku pun pasti akan sedih bercampur bingung dan kecewa kalau mengalami semua hal seperti yang kau alami,” Febby berusaha menenangkan kegundahan Nabilah. Dia yang paling mengerti tentang Nabilah, sepertinya. Tapi yang pasti dia yang paling dewasa di antara keempatnya.

“Sudah-sudah. Aku jadi pengen nangis nih,” Stella yang ceplas ceplos mulai menunjukkan sisi lainnya yang mudah terharu.

“Hehehe biasa saja dong. Aku tidak terlalu sedih juga. Kan ada kalian di sini, sahabat-sahabatku,” senyum di wajah Nabilah kembali merenggang. Walau tak sepenuhnya bisa menghilangkan kesedihan di hatinya.

“Hmmm.. So sweet,” timpal Dhini, diiringi tawa keempatnya di tengah ramainya suasana kantin yang diisi oleh banyak murid di sekolah itu.

“Oh iya teman-teman, kalian lihat tidak – di kalender besok tanggal merah – tepatnya hari kamis dan jumat. Dengar dengar hari sabtunya juga diliburkan, karena tanggung. Terus, hari senin, selasa dan rabu kan try out Ujian Nasional kakak kelas 3. Jadi kalau ditotalkan – jumlah hari libur kita jadi 7 hari. Asyik kan?” Stella memulai obrolan lagi. Kali ini topiknya adalah tentang sesuatu yang sangat di sukainya – liburan sekolah. Tepatnya liburan panjang

“Owh, benarkah?” tanya Febby sedikit tak percaya. “Aku jarang melihat kalender, makanya tidak tahu,” dia menambahkan.
“Hmm.. iya benar itu Stel,” Dhini setuju dengan Stella

“Tahu darimana kalau hari sabtu juga diliburkan?” Nabilah bertanya kepada Stella

“Hahaha.. Kamu ini seperti tidak tahu denganku. Aku ini ibarat seorang informan atau mata-mata atau intelejen atau detektif. Semua kabar pasti aku yang tahu duluan,” begitu percaya dirinya Stella membanggakan diri. Tapi memang itulah adanya.

Suasana kantin masih ramai walaupun sebentar lagi mau jam masuk kelas. Obrolan terhenti sebentar karena ibu kantin mau membersihkan meja tempat mereka mengobrol. Setelah selesai, obrolan pun dilanjutkan kembali.

“Sepertinya aku punya ide bagus. Menyikapi libur panjang 7 hari yang sayang untuk disia-siakan,” gaya bahasa Stella semakin tinggi saja. “Bagaimana kalau kita rekreasi saja – di dekat rumah nenekku ada pantai yang indah. Yeah, lumayan jauh dari sini – tapi kita bisa menginap di rumah nenekku. Beliau orang nya baik dan suka sama anak-anak seperti kita. Bagaimana?”

“Ide yang brilian. Aku suka aku suka aku suka,” Dhini langsung setuju. Wajahnya sumringah, tingkahnya sangat antusias.

“Wah sepertinya mengasyikkan. Bagaimana Nabilah?” Febby memberikan kesempatan kepada gadis disampingnya untuk mengutarakan pendapat.

Dengan cepat Nabilah hendak menjawab, tapi tiba-tiba dia terdiam sejenak. Seperti ada hal yang dipikirkannya, sehingga keraguan menyelimuti wajahnya.

“Bagaimana?” kali ini Stella mencoba memastikan pendapat dari Nabilah.

Sambil menghela nafas, Nabilah kemudian memberikan pendapatnya. “Maaf teman-teman, sepertinya aku tidak bisa ikut,” jawabnya lirih.  Dalam hatinya dia tidak bisa ikut karena ada satu hal penting yang harus dilakukan, kebetulan bertepatan dengan libur panjang sekolah

“Wah kenapa? Apa sebabnya? Kamu masih memikirkan Aliando itu ya?” Stella sedikit menghakimi. Dia kecewa karena libur panjangnya yang rencananya mau diisi liburan bersama ketiga sahabatnya itu tidak diikuti oleh Nabilah.

“Bukannya begitu. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan lelaki itu,” jawab Nabilah. “Dalam seminggu ini, om dan tanteku pergi ke luar kota. Praktis tinggal aku dengan Bi Surti yang ada di rumah. Kalau aku pergi, kasihan beliau sendirian menjaga rumah. Sekali lagi aku minta maaf ya teman-teman,” Nabilah memberikan alasannya. Alasan yang sebenarnya tidak benar. Ada hal lain yang dilakukannya dan kebetulan bertepatan dengan libur panjang di sekolah.

“Yaahh.. Kurang Asyik kalau tak ada Nabilah,” Dhini terlihat kecewa.

“Iya nih, huuft,” Stella ikut kecewa

“Ya sudah kalau begitu,” sahut Febby menenangkan. “Jadi Stel, liburannya jadi apa tidak?”

“Hmm.. menurut kalian?” Stella malah berbalik tanya.

“Kalau aku sih yes. Kalau kamu Feb?” Dhini berpendapat setuju.

Febby berfikir sejenak. Nabilah hanya bisa diam.

“Baiklah. Aku ikut,” Febby pun turut setuju. “Tapi Nabilah, kalau kamu berubah pikiran – beritahu kami ya. Kalau tidak ada kamu rasa ada yang kurang hehe,”

“Iya. Pasti aku beritahu kalau aku nanti bisa ikut,” jawab Nabilah sambil tersenyum.

“Oke fix!” seru Stella. “Besok kita liburan ke rumah nenekku. Pantai-pantai,” mata Stella melirik ke arah Nabilah. Dia mencoba memanasi Nabilah supaya berubah pikiran. Nabilah hanya tersenyum kalem.

Bel sekolah pun berbunyi, tanda masuk sekolah. Keempatnya bergegas menuju ke kelasnya. Febby yang berjalan lebih dulu, diikuti Dhini dan Stella. Nabilah berjalan paling akhir dari rombongan. Dia seperti berpikir. Pada dasarnya, sangat menyenangkan liburan panjang yang dihabiskan bersama sahabat tercinta – Nabilah menyadari hal itu. Namun ada hal yang sangat penting yang harus dilakukan Nabilah besok. Bukan untuk menjaga rumah, seperti yang diutarakannya kepada teman-temannya – melainkan untuk suatu alasan khusus. Alasan yang sangat penting dan tidak bisa dirubah.

Besok tanggal 15, bertepatan dengan malam bulan purnama. Adalah sebuah pertemuan yang sudah direncanakan dan tak bisa ditunda lagi. Pertemuan berlatar di padang rumput luas di sebuah pohon besar yang teramat misterius. Pertemuan dengan putri Pevita, sang putri dari sebuah negeri misterius – yang telah mengamanatkan liontin putih kepada Nabilah. Kenapa begitu penting pertemuan itu? Karena itulah satu-satunya petunjuk keberadaan kedua orang tua Nabilah. Walau kecil kemungkinan, tapi setidaknya itulah yang saat ini ada di kepala Nabilah. Sebuah harapan untuk bertemu kembali dengan kedua orang tuanya yang telah hilang dan belum ditemukan sampai saat ini.

“Kenapa non, tumben memanggil bi Surti?” kata Bi Surti yang dengan sigap datang setelah dipanggil Nabilah yang tengah duduk sendirian di ruang keluarga. Sore itu suasana rumah terasa sepi – karena hanya ada Nabilah dan Bi Surti yang menghuni rumah besar itu.

“Bibi duduk dulu. Santai saja. Cuma ada sesuatu hal yang mau aku bicarakan,” Nabilah mengisyaratkan pembantunya itu untuk duduk di sofa panjang berwarna cokelat yang tepat menghadap ke TV LCD berukuran 40 inci.

“Iya iya non,” bi Surti mengikuti kemauan majikannya itu.

Nabilah menarik nafas panjang, kemudian dia memulai maksud dan tujuan dia memanggil bi Surti.

“Begini bi. Ada sesuatu hal yang ingin ku bicarakan. Sesuatu hal yang mungkin tidak begitu penting – tapi berdasarkan pesan om dan tante – segala sesuatunya harus aku bicarakan kepada Bibi. Berhubung hanya bibi yang sekarang menjagaku di rumah,” Nabilah mengawali maksud yang ingin disampaikannya kepada wanita tua berambut kusut yang duduk di sampingnya. Matanya yang galak menatap ke arah pembantunya itu. Sementara angin malam berhembus lembut memenuhi ruangan yang cukup luas itu.

“Mau bicara tentang apa non? Bibi semakin bingung,” bi Surti mengernyitkan alisnya.

“Begini bi. Besok kan hari Jumat, Aku libur sekolah bi. Kemungkinan pas malamnya aku mau jalan-jalan. Kemungkinan bisa sampai larut malam. Atau mungkin juga menginap di rumah Febby, teman sekolahku,” Nabilah minta izin kepada bi Surti. Dia berbohong dengan alasan jalan-jalan dengan teman-temannya. Padahal dia ingin bertemu dengan seseorang – pada malam bulan purnama, besok.

“Waduh non. Bibi gak tau harus ngomong apa. Kalau bisa jangan ya non. Nanti bibi dimarahi sama tuan dan nyonya,” wajah bi Surti nampak cemas. Dia merasa serba salah.

“Tenang saja kok bi. Aku pasti baik-baik saja. Paling tidak kan aku menginap di rumah teman baik aku juga. Lagipula om dan tante baru datang 4 hari lagi. Nanti kita bakal rahasiakan ini. Percaya saja ya sama aku bi. Please yaa bi..” Nabilah terus membujuk pembantunya itu. Dia terlihat seperti seorang anak kecil yang merengek minta belikan sesuatu kepada orang tuanya.

“Waduh gimana ya. Bibi benar-benar bingung,” bi Surti terlihat masih ragu.

“Ayolah bi. Kali ini saja. Please ya izinin aku. Bibi sudah ku anggap orang tua aku sendiri. Jadi aku percaya bi Surti pasti mau izinin aku,” kali ini Nabilah benar-benar memohon.

Bi Surti pun akhirnya mengizinkan. Dia menyerah dengan bujukan majikan mudanya itu.

“Tapi non hati-hati ya. Jaga diri baik-baik. Kan baru sekali ini non jalan-jalan larut malam – makanya bibi bingung harus bilang apa,”

“Asyik. Thanks ya bi. Nabilah sayang sama bibi,” Nabilah langsung memeluk pembantunya itu. Dia tampak sangat senang sekali. Setidaknya ada lampu hijau untuk menjalankan misinya besok malam. Walaupun harus ditempuh dengan sedikit kebohongan. Tapi apalah arti kebohongan kalau tujuannya sangat penting. Bertemu dengan orang yang (mungkin) tahu dengan petunjuk keberadaan orang tua Nabilah yang hilang. Walau penuh dengan tantangan, karena semua itu berbau mistis dan fantasi.

Malam semakin larut, Nabila pun berpamitan kepada bibinya – untuk segera ke kamar tidur. Angin malam di ruang keluarga membuat rasa kantuk menjalar ke kepala Nabilah. Dia ingin cepat-cepat tidur.

TV di ruang keluarga pun dimatikan. Nabilah kemudian bergegas ke kamar tidurnya. Menuju pulau kapuk – itulah keinginannya saat ini.



Siang jumat yang cerah. Bahkan lebih dari cerah – ketika sinar matahari siang yang terlihat dari dalam kamar Nabilah semakin terik.

Nabilah waktu itu baru bangun dari tidurnya. Hari libur di kalender membuatnya malas bangun pagi-pagi. Dia menguap sejenak sebelum akhirnya duduk di atas kasur berwarna pink itu. Matanya langsung tertuju ke jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 11.30 siang.

Kemudian matanya tertuju kepada meja di samping kasurnya. Di atasnya ada sepiring mie goreng dan segelas air putih. Sepertinya sudah lama disiapkan. Siapa lagi kalau bukan bi Surti yang menyiapkan itu semua. Dia mungkin tidak tega membangunkan Nabilah untuk sarapan pagi tadi – sehingga sarapan itu harus berubah menjadi santapan siang. Nabilah pun melahap sarapan atau santapan siang itu dengan sedikit rakus. Perutnya sangat lapar.

Selesai sarapan, Nabilah kemudian bergerak menuju lemarinya – untuk mengambil laptop. Rupanya hati pertama liburan ini diisi dengan bermalasan di kamar sambil di temani laptop. Maklum, semenjak pergi ditinggal Aliando yang ‘hilang’ – hanya laptop kesayangannya yang jadi teman di kala sendiri.

Masih dengan berseragamkan piyama, Nabilah kemudian memulai browsing di laptopnya. Dia pun mengetikkan tulisan ‘Atlantis’ di mesin pencari Google. Hanya nama itu yang diingatnya saat mimpi bertemu putri Pevita – selain juga magician yang sudah lebih dulu dicari tahunya di mesin pencari. Walau tak banyak informasi yang didapat mengenai segalanya tentang magician  itu, namun setidaknya penjelasan tentang ‘mistis’ menyiratkan kebenaran dari perkiraan Nabilah. Bahwasanya makhluk dari Atlantis yang bernama magician  itu  memiliki kemampuan mistis.

Kali ini informasi yang didapat Nabilah mengenai Atlantis membuatnya bingung. Sambil menggaruk kepala, Nabilah yang bingung dan tak menyangka tentang wilayah Atlantis yang ‘hilang’ di masa lalu – dulunya berada di Pulau Sunda. Kebetulan tempat tinggal Nabilah sekarang, Jawa Barat – adalah Pulau Sunda di masa kini.

Seluruh bukti dan ciri geografi cerita Atlantis dari artikel di mesin pencari – menyiratkan dan sesuai dengan keadaan alam di Pulau Sunda. Semua bukti dan pendapat tentang Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang – tertuang di dalam buku karangan Profesor Santos, ahli geologi dan nuklir berkewarganegaraan Brasil. Dalam artikel itu dijelaskan dari semua wilayah maupun negara yang ‘dinominasikan’ sebagai Atlantis – hanya Indonesia yang memenuhi syarat. Apalagi gen penduduk Indonesia yang mendekati gen penduduk Atlantis, dengan nama suku Austronesia – bisa dilihat dan diperiksa kepada penduduk di kepulauan Notuna, Riau. Penduduk di sana dari segi gen nya merupakan ras Austronesia – ras dari penduduk Atlantis yang hilang.

Nabilah semakin menyengrinyitkan alis tatkala membaca tulisan yang mengatakan bahwa ‘hilang’ nya peradaban Atlantis disebabkan oleh letusan gunung Krakatau Purba yang mahadahsyat. Gunung Krakatau Purba merupakan induk dari gunung Krakatau yang meletus di tahun 1883. Kala itu letusan gunung Krakatau mampu membuat seluruh langit di dunia tertutup oleh debu vulkanik. Saking dahsyatnya bencana itu, sampai menimbulkan banyak sekali orang yang tewas. Apalagi gunung Krakatau purba. Kemungkinan besar berkali-kali lipat dahsyatnya ketimbang gunung Krakatau. Hal yang dianggap wajar kalau letusan Krakatau Purba itu bisa menghancurkan sebuah peradaban.

Dan yang menjadi misteri, apakah Atlantis benar-benar hilang? Pikiran Nabilah terus bertanya-tanya. Ingatan tertuju kembali kepada perkataan putri Pevita yang mengaku berasal dari sebuah negeri yang merupakan bagian dari benua Atlantis yang hilang. Yeah apapun itu, mungkin semua jawabannya akan terlihat pada nanti malam, pikir Nabilah.

Malam nanti adalah malam bulan purnama yang akan menjadi sebuah malam yang tak akan pernah terlupakan bagi Nabilah. Karena pada saat itulah semua jawaban akan tersirat, semua pertanyaan akan terjawab dan semua kekaburan akan terlihat jelas. Nanti malam di padang rumput dekat pohon besar. Ketika dia akan bertemu dengan seorang putri sambil menyerahkan liontin titipan putri itu. Nabilah pun merinding tatkala membayangkan semua yang bakal terjadi besok. Pasti banyak hal aneh yang akan menimpa dirinya. Setidaknya itu yang sedang dipikirkan Nabilah saat ini


“Tidak ada yang bisa dilakukan selain maju dengan tegak. Untuk mundur pun percuma, karena sudah terlanjur terjebak. Terjebak ke dalam hal yang takkan pernah bisa di tebak.  Pada akhirnya, aku takkan bisa mengelak. Semuanya rela kulakukan – demi mencari sebuah jejak.." (Nabilah Zahra)



***



Jutaan bintang malam menghiasi langit malam. Sinarnya bagaikan titik putih di tengah gelap. Sangat kecil dari kejauhan.

Malam gelap menjadi terang. Bulan purnama yang terang dan bulat seperti memancarkan cahaya putih. Kamuflase pantulan cahaya matahari yang dipantulkan bulan di malam hari – seakan menjadi penerang di tengah gelapnya malam itu.

Padang rumput dikejauhan mulai terlihat. Walau masih jauh, karena dari jalan setapak menuju ke sana sekitar ratusan meter jauhnya. Namun, malam itu semuanya lebih terlihat dari kejauhan. Cahaya bulan purnama kali ini jauh lebih terang dari biasanya. Cahaya itu seperti membukakan jalan bagi tiap-tiap langkah kaki Nabilah. Gadis yang kini mengenakan sweater berlengan panjang warna biru dan celana jeans panjangnya – tengah berjalan menyusuri jalan setapak. Dia berjalan dengan sedikit lambat. Di bahunya menjinjing tas ransel yang biasa di bawanya bepergian. Sementara liontin putih feliz de que lo tersimpan aman di saku kanannya.

“Langkah kaki semakin berat. Dinginnya malam membuatku memeluk diriku sendiri dengan erat.  Kegelapan semakin pekat. Namun berkat cahaya purnama yang sekelebat, aku melangkah yakin tanpa rasa penat – untuk menuju ke suatu tempat.. (Nabilah Zahra)

Kamuflase cahaya bulan yang terang benderang menghiasi malam itu. Nabilah melangkahkan kakinya dengan sedikit lambat. Hatinya sangat gugup. Pikirannya berkecamuk. Namun, tekadnya lebih kuat. Demi sebuah tujuan, dia rela kalau harus mengalami hal-hal aneh lagi. Walaupun hal aneh yang akan dialaminya di depan sana akan berkali-kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Semua sudah dipersiapkannya. Harus siap terkejut, gugup, cemas dan lain sebagainya. Adrenalinnya sudah siap untuk diuji oleh situasi buruk yang mungkin akan terjadi.

Langkah kaki Nabilah terhenti. Kini dia telah tiba di padang rumput. Angin malam berhembus pelan membuat rumput-rumput bergoyang – seakan menyambut kedatangannya. Begitu pun daun-daun di pepohonan. Nabilah kembali melangkahkan kakinya. Menyusuri rumput yang  tingginya beberapa sentimeter. Matanya tertuju kepada pohon besar yang letaknya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Disitulah tempat yang akan ditujunya. Sementara cahaya bulan purnama yang bulat tepat berada di atas pohon itu – menerangi pohon besar yang misterius itu. Daunnya lebat, batangnya besar lagipula sangat tinggi pohon itu. Sudah lama Nabilah tidak melihat pohon yang membuatnya mengalami hal-hal aneh – walau tidak secara langsung. Dari pohon itulah dia ‘bertemu’ dengan liontin putih misterius yang harus dijaga baik-baik.

“Tak ada tanda-tanda apapun,” gumam Nabilah kecewa. Dirinya lumayan letih setelah menunggu di depan pohon besar itu. Matanya tertuju ke jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 10.30 malam. Sudah lumayan lama dia menunggu sambil duduk bersila di atas rumput – dengan posisi menghadap ke pohon besar. Matanya mulai sedikit mengantuk, tapi ditahannya sebisa mungkin supaya tidak terlelap. Cahaya bulan yang terang membuat dirinya bisa melihat di sekelilingnya yang terlihat remang. Tanpa rasa takut – walau sendirian di padang rumput luas. Angin malam kembali berhembus, membuat dirinya merinding kedinginan.

“Nabilah. Berbaliklah,” tiba-tiba terdengar suara. Suara seorang lelaki yang berada di belakang Nabilah.

Dengan cepat Nabilah mengikuti perintah itu. Dia membalikkan badannya. Alangkah terkejutnya Nabilah. Air mukanya langsung berubah – antara tegang bercampur terkejut. Di hadapannya – berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya duduk bersila – ada sesosok lelaki yang tak asing baginya. Dengan cepat Nabilah bangkit dari duduknya. Dia langsung berlari mendatangi sosok lelaki berpakaian baju hitam lengan panjang seperti jas, dan celana panjang warna hitam. Nabilah dengan cepat memeluk lelaki itu. Air matanya bercucuran. Lelaki itu menunjukkan senyumnya yang khas sambil menepuk bahu Nabilah yang tengah memeluk erat dirinya. Sosok lelaki tampan itu sangat dikenali Nabilah. Dialah Aliando, sang kekasih yang ‘hilang’ entah kemana – namun sekarang bertemu lagi dengan Nabilah. Rasa rindu Nabilah pecah menjadi tangis yang  menghiasi malam itu.

“Kemana saja kau?” tanya Nabilah lirih. Tubuhnya masih memeluk tubuh kekasih itu.

“Ceritanya panjang,” jawab Aliando. “Nanti aku ceritakan semuanya. Semua tentang diriku dan semua rahasia yang ku simpan dari dirimu. Namun yang pasti, aku sangat mencintaimu. Lebih dari apapun,” Aliando menuturkan isi hatinya.

“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Nabilah masih dengan tetesan air matanya. “Ku mohon. Jangan pernah meninggalkanku lagi,” tangisnya semakin pecah. Pelukannya semakin erat.

“Pasti. Aku akan menjagamu. Aku berjanji,” janji Aliando. Dia kemudian melepaskan pelukan Nabilah. Matanya menatap mata Nabilah yang masih berkaca-kaca. Tangannya menghapuskan air mata di pipi Nabilah. Dia tersenyum pasti. Dia berusaha meyakinkan Nabilah akan kebenaran kata-kata yang baru saja diucapkannya itu. Nabilah pun ikut tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya tanda mempercayai semua yang dijanjikan Aliando kepadanya. Batinnya semakin tenang. Hatinya seperti diliputi oleh rasa aman. Kini semua tentang liontin dan pertemuan dengan putri Pevita sekan terlupakan. Walau itu hanya sementara.

“Menjauh dari gadis itu! Enyah saja kau!” terdengar suara setengah berteriak ditengah gelapnya malam. Suara itu mengejutkan Nabilah dan Aliando.


Nabilah kemudian mengarahkan pandangannya ke arah suara itu berasal. Dari kejauhan terlihat sosok lelaki yang baru saja bersuara setengah berteriak itu. Cahaya bulan purnama yang terang membuat sosok misterius itu terlihat. Sosok berbadan tinggi dengan pakaian putih lengan panjang dan celana panjang berwarna hitam tengah berdiri sekitar 50 meter dari tempat Nabilah dan Aliando berada. Sosok itu menatap tajam ke arah Aliando. Aliando juga membalas tatapan itu dengan tatapan sengit. Wajahnya terlihat seperti menyimpan dendam.

Wajah Nabilah seketika tegang. Perasaan tenang yang baru saja meliputinya kembali berubah menjadi tak karuan. Air mukanya menunjukkan rasa takut setelah melihat sosok itu. Sosok pria itu adalah sosok yang sering dilihat Nabilah. Terakhir kali, mereka bertemu di tebing dekat air terjun. Sosok itu hampir saja menghilangkan nyawa kekasih Nabilah. Sosok itu yang mengincar liontin putih yang dititipkan oleh putri Pevita. Sosok misterius yang bisa saja mengincar nyawa Nabilah juga.


Tubuh Nabilah bergidik. Perasaannya tak menentu. Dia merasa hal yang dialaminya ini seperti ‘de ja vu’. Sesuatu yang sama yang terjadi seperti sebelum-sebelumnya. Angin malam berhembus semakin dingin menusuk ke kulit tubuh Nabilah yang tengah dilanda ketakutan hebat. Takut akan kehilangan kekasihnya (lagi).



(To be continued...)


Ditulis oleh: Jack Neptune

Baca Juga