Skip to main content

Apa Penyebab Industri Musik Menjadi Sangat Lesu?

Dalam beberapa tahun terakhir, industri musik kian terpuruk saja. Jauh berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, di mana industri musik masih 'menggeliat' dan menghasilkan banyak uang bagi para pelakunya.

Beberapa tahun yang lalu, memang banyak cara 'membisniskan' musik. Ada royalti dari RBT (Ring Back Tone), royalti dari penjualan CD dan Kaset, royalti dari rumah karaoke, pendapatan dari konser (jaman dulu konser musik masih sering), tampil di acara TV, jadi bintang iklan, dan lainnya.

Jaman sekarang, dengan 'mati'nya RBT, tutupnya toko CD dan Kaset, jarangnya diadakan konser, hingga sulitnya tampil di TV -- membuat industri musik kian lesu saja. Sangat sulit untuk membisniskan musik, sehingga penghasilan para pelakunya jadi tak pasti.

Selain beberapa penyebab di atas, ada beberapa penyebab lainnya yang menyebabkan industri musik akhir-akhir ini kian lesu.

Lantas, apa sajakah itu?


kenapa industri musik semakin terpuruk dan lesu
Apa penyebab dunia musik semakin terpuruk?


1. Maraknya pembajakan di era digital

Sudah tak dapat dipungkiri, kemajuan era digital -- selain berdampak positif -- tentunya juga ada sisi negatifnya. Salah satu 'korban utama' dari dampak negatif kemajuan era digital adalah dunia musik.

Saat ini banyak sekali situs-situs d0wnload lagu ilegal yang bertebaran di internet. Ketika situs-situs tersebut diblokir pemerintah, muncul lagi situs-situs sejenis -- bahkan semakin masiv. Istilahnya 'mati satu, tumbuh seribu'.

Hal inilah yang menjadi penyebab kenapa banyak toko kaset dan CD yang akhirnya gulung tikar. Orang-orang semakin enggan membeli kaset dan CD lantaran bisa mend0wnload lagu secara gratis di internet. Imbasnya, para musisi pun kehilangan salah satu mata pencahariannya -- dan industri musik kian lesu saja.


2. Persaingan di dunia musik yang kian ketat

Selain maraknya pembajakan dan minimnya sumber pendapatan musisi, hal itu semakin diperparah dengan persaingan di dunia musik yang kian ketat.

Persaingan semakin ketat, sedangkan 'jatah' musisi sukses semakin sedikit. Imbasnya, ada banyak musisi yang gagal mewujudkan impiannya, karena kalah bersaing. Dari sini juga dapat dilihat kalau industri musik kian terpuruk, lantaran semakin minimnya 'jatah panggung sukses' bagi para musisi.


3. Harus bayar agar bisa tampil (baca: 'promo') di radio dan TV

Tidak seperti dulu -- musisi-lah yang dibayar untuk tampil di stasiun TV. Sekarang justru sebaliknya, di mana apabila ada musisi yang ingin tampil di TV (acara musik), mereka-lah yang harus membayar ke stasiun TV (khususnya untuk musisi yang berstatus sebagai 'pendatang baru').

'Bahasa' penampilan di acara musik bukan lagi sebagai 'tamu undangan', melainkan sebagai ajang 'promosi' untuk mengenalkan karya-karya si musisi. Karena si musisi ingin promosi, maka dialah yang harus membayar ke stasiun TV.

Sebagai tambahan, konon biaya tampil di acara musik (3-4 tahun yang lalu) adalah sebesar Rp 7 juta per sekali tampil. Mungkin sekarang 'tarif'nya sudah naik.

Dengan semakin 'dipersulit'nya seorang musisi untuk berkembang, membuktikan bahwa industri musik semakin lesu saja. Bagi anda yang ingin mencoba bidang ini, harap berpikir 1000 kali sebelum 'terlanjur terjun'.


Baca juga:



Dunia musik akhir-akhir ini semakin lesu saja. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir sangat jarang adanya musisi pendatang baru yang muncul ke permukaan.

Musisi yang sudah lama malang melintang saja harus susah payah agar bisa survive. Bahkan ada musisi pop yang 'banting setir' menjadi musisi dangdut (agar bisa survive).

Maka dari itu, pikirkanlah matang-matang sebelum anda ingin menjadi musisi untuk dijadikan profesi. Pengecualian, kalau anda ingin menjadi musisi sebagai hobi (bukan mata pencaharian) -- maka itu tak masalah karena anda memiliki penghasilan tetap di bidang lain. (af)


Baca Juga
> Jual eBook bisnis online kekinian Rp25.000, bisa bayar via pulsa [LIHAT]