Skip to main content

[CERPEN] Twelve

               Pria berumur 26 tahun itu adalah suamiku. Raut wajahnya selalu terlihat kebingungan dan  terkadang -- atau malahan sering lupa dengan apa yang telah dilakukannya. Bisa dibilang dia itu pikun di usia muda. Kata dokter, dia terkena gejala suatu  penyakit yang bernama alzheimer -- tapi stadiumnya masih belum mengkhawatirkan.
Tapi tahukah kalian, walaupun suamiku terkena gejala penyakit langka itu, dia juga memiliki banyak kelebihan yang tentunya sangat mengagumkan. Banyak orang menilai kalau dia adalah orang yang sangat jenius. Jenius dalam mengamati segala hal, jenius dalam menganalisa sesuatu, jenius dalam menyimpulkan dan mengambil keputusan yang tepat dan akurat. Kesimpulannya, dibalik kekurangannya itu, suamiku memiliki kelebihan yang teramat luar biasa. Kelebihan yang hanya dimiliki oleh sedikit orang di negeri ini.
 Dulunya suamiku adalah seorang ahli matematika yang sering juara di sekolah. Dia selalu ceria dan tak pernah sedih. Dan sekarang keadaan itu tidak berubah walaupun ada penyakit yang menggerogotinya – penyakit yang konon katanya belum ada obatnya. Namun dia berjuang keras untuk melawan penyakit itu. Salah satunya adalah dengan menerima ‘pekerjaan’ yang riskan dan tidak seharusnya dilakukan oleh orang yang bergejala alzheimer.
Namanya adalah Ajie. Namun dia biasa dipanggil oleh pihak kepolisian dengan nama panggilan ‘Twelve’. Kenapa jadi demikian? Apa hubungan dirinya dengan pihak kepolisian? Lagipula apa itu ‘Twelve’ – atau dalam bahasa Indonesianya berarti angka 12 itu?
twelve sang detektif alzheimer

Namaku adalah Pevita, usiaku 23 tahun atau 3 tahun lebih muda dari suamiku. Kami sudah menikah selama 2 tahun. Selama itu pula aku bisa pergi ke mana saja mendampingi suamiku, mendampinginya setiap saat. Karena hanya aku yang bisa menjadi ‘asisten’ dalam ‘profesi’nya sekarang ini. Hanya aku yang bisa menjadi moodbooster baginya. Dan yang terpenting, hanya aku yang bisa ‘mempertahankan’ ingatannya dalam waktu 12 jam nonstop. Membuat dirinya tetap ‘normal’ dalam durasi 12 jam. Tidak kurang tidak lebih.
Kenapa begitu penting untuk mempertahankan ingatan suamiku? 
Jawabannya adalah, karena hal itu sangat berharga bagi banyak pihak. Hanya aku yang bisa melakukan itu (mempertahankan ingatan suamiku) supaya dia bisa ‘stabil’ dan gejala  alzheimernya tidak kambuh. Dalam waktu maksimal 12 jam. Lagi-lagi angka 12 ya, hehe..

***

“Bagaimana, sayang?? Apakah kau sudah menemukan petunjuk baru?” Tiba-tiba lamunanku buyar lantaran pertanyaan yang dilontarkan suamiku. Wajahnya tampak serius lantaran sedang dihadapkan pada suatu masalah. Saat ini kami berdua tengah duduk bersama di kursi taman -- sambil memikirkan sesuatu hal yang sangat rumit. Sesuatu yang seharian ini mengganggu pikiran kami. Sesuatu yang merupakan tugas kami.
 “Be-belum suamiku” jawabku setengah kaget. Aku ‘terbangun’ dari lamunanku. Kebetulan di kota tempat tinggal kami – Banjarmasin, ada sebuah hutan kota nan sejuk yang terletak di tengah-tengah kota. View nya pun sangat bagus, yaitu mengarah ke hamparan sungai besar nan luas – di mana banyak perahu (kelotok) lalu lalang. Angin sepoi menemani kami saat itu – membuat kami larut dalam lamunan masing-masing.
“Sepertinya kita harus segera ke rumah Pak Anwar!” Seru suamiku. Terlihat raut wajahnya nampak yakin. Padahal biasanya selalu kebingungan dan kikuk. Namun karena sekarang dia sedang melakukan ‘pekerjaan’nya -- ‘pekerjaan’ yang sangat dicintainya dan ‘pekerjaan’ yang membuatnya selalu bersemangat, membuatnya lupa akan penyakit yang dideritanya saat ini.
Dari raut wajah suamiku -- TIDAK terlihat kalau dia sedang ‘sakit’. Mungkin ini yang disebut dengan ‘jalan hidup’. Ketika seseorang mencintai sesuatu, maka orang itu akan total melakukannya, dan melupakan segala hal yang menghalanginya. Dan hal itu terjadi secara alamiah. Atau bisa dibilang obat alami yang bisa menjadi pengurang ‘sakit’nya. Intinya ada 2 hal yang sangat dicintai oleh suamiku saat ini. Aku dan juga ‘pekerjaan’nya. Hanya 2 hal itulah yang bisa menjadi penyemangat hidup suamiku.
“Baiklah,” kataku. “Kita akan menuju ke rumah pak Anwar!” Akupun beranjak dari kursi taman itu bersama suamiku yang telah lebih dahulu melakukannya.
“Jangan lupa kau catat semua yang kita alami hari ini,” ucap suamiku. “Kau tahu sendiri kan, aku ini pelupa dan tingkat ‘lupa’ ku teramat ‘ekstrim’,” sambungnya seraya terkekeh. Dan akupun tersenyum seraya mengambil pulpen dan buku catatan di tasku.
Kami berangkat menuju rumah pak Anwar – dengan mengendarai mobil yang di supiri oleh Solihin – supir kami. Si Solihin ini juga selalu ikut bersama kami dalam setiap ‘tugas’ yang kami lakukan. Bisa dibilang dia adalah salah satu bagian penting dari ‘tim’ kami.
Di tengah perjalanan, aku pun membaca semua yang tadi aku tulis di buku kecil. Sementara suamiku tengah fokus dengan pikirannya sendiri. Memikirkan ‘tugas’ itu.
Di dalam buku catatan tersebut aku membaca tulisanku sendiri yang isinya tentang apa yang kami alami siang ini. Dalam buku itu tertulis paling atas “Hilangnya Batu Permata Martapura” yang tertulis dengan huruf berukuran besar. Bisa dibilang semacam judul. Selanjutnya tertulis di bawahnya, “Sebuah permata berwarna putih dengan harga 1 triliun rupiah, berukuran seperti ibu jari kaki -- tiba-tiba raib hanya dalam kurun waktu 5 menit.  Tempat kejadian perkara: Ruang serbaguna hotel Golden Tulip yang merupakan tempat diadakannya pameran permata terbesar di kota Banjarmasin. Kronologi kejadian: Permata yang terletak di tengah-tengah ruangan dan berada di dalam kotak kaca yang terletak di atas meja. Permata tersebut tiba-tiba raib dalam kurun waktu antara pukul 21.00-21.05. Dalam kurun waktu itu juga lampu ruangan mati secara tiba-tiba -- dan kemudian menyala lagi berkat genset yang ada di hotel itu."
Aku kemudian merenung sendiri, pikiranku menerawang. Permata itu hilang sekejap mata! Pada pukul 21.00 masih ada – namun pada pukul 21.05 sudah raib. Pertanyaan pun muncul di benakku, mungkinkah ada yang memainkan trik sulap atau sihir di sana?
Kenyataan yang terjadi bukanlah trik sulap ataupun pertunjukan hiburan. Yang terjadi sesungguhnya adalah hal yang serius –  di mana permata itu benar-benar hilang. Dan semua orang di TKP saat itu seperti takjub melihat kejadian yang hanya berlangsung selama 5 menit itu.
Mobil yang kami tumpangi terus melaju di tengah perjalanan. Sementara Solihin berkonsentrasi menyupir dan suamiku masih fokus dengan pikiran dan lamunannya sendiri – aku pun kemudian meneruskan membaca catatan di buku kecil tadi.
Di sana tertulis lagi, “Ada 3 orang yang ditetapkan sebagai saksi lantaran berada paling dekat dengan posisi permata yang hilang. Mereka adalah Pak Anhar, Pak Arif dan Pak Anwar. Ketiganya adalah pengunjung di pameran itu. Dan ketiganya langsung digeledah saat itu juga (pada pukul 21.06), namun permata itu tetap tidak ditemukan. Bahkan tidak ditemukan juga keberadaan sidik jari di sekitar kotak kaca kecil tempat asal permata itu. Alhasil semua itu benar-benar seperti trik sulap yang benar-benar luar biasa. Ada apa sebenarnya ini?
“Bagaimana menurutmu tentang kasus ini?” Aku pun bertanya pada suamiku seraya menghela nafas.
“Rumit sekali,” jawabnya pelan. “Dari 2 tersangka yang sudah kita selidiki barusan, tak ada satupun yang mencurigakan. Alibi mereka kuat!”
Dia kemudian menambahkan, “namun masih tersisa satu orang lagi yang belum kita selidiki,” gumamnya. “Kecurigaanku mengarah ke dia saat ini. Aku harus mengumpulkan bukti-bukti agar bisa menguatkan dugaanku!” Ucapan suamiku nampak sangat yakin.
Tiba-tiba HP ku berdering. Akupun dengan cepat mengangkat HP ku itu.

“Oke,baik pak!” Ucapku seraya mengakhiri percakapanku dengan si penelepon.
“Dari siapa?” Tanya suamiku.
“Dari Briptu Efendi. Katanya pak Anwar sedang tidak di rumah,” jawabku singkat.
“Hahh?" Tanya suamiku setengah terkejut. "Memangnya dia lagi di mana?”
Akupun menghela nafas. “Kata Briptu Efendi, pak Anwar lagi di rumah sakit. Dia baru tadi pagi selesai dioperasi di RSUD Ulin. Katanya ada tumor di lambungnya.”
Suamiku berpikir sejenak. “Hmm.. Aneh sekali,” gumamnya.
“Iya, betul-betul aneh,” timpalku. “Padahal dia kan ada di pameran sehari sebelumnya. Kenapa kalau punya penyakit seperti itu – dia malah memaksakan diri untuk datang ke pameran permata itu?” Aku turut merasa janggal setelah tau akan hal ini.
Suamiku kemudian menghela nafasnya lagi. “Baiklah.. Kita akan tetap menuju rumah pak Anwar sekarang. Banyak hal yang harus kita selidiki!” Tegas suamiku. “Lagipula waktu kita tinggal beberapa jam lagi. Sebentar lagi akan terjadi ‘reset’ dan aku akan kehilangan semua 'insting' dan analisaku. Jadi saat inilah momentumku untuk menyelesaikan semuanya!”
Aku pun mengangguk tanda setuju.  Kemudian kusuruh Solihin agar mempercepat laju mobilnya. Kami berdua ingin agar semua ini bisa cepat diselesaikan. Sebelum 'hal itu' benar-benar terjadi.

***

Tepat pukul 16.00 tibalah kami di rumah pak Anwar. Rumah mewah berpagar besar itu ternyata dalam keadaan sepi. Yah, wajar saja karena pemiliknya sedang berada di Rumah Sakit. 
Tapi penyelidikan harus tetap berjalan, pikirku.
Solihin kemudian membunyikan klapson mobil, agar ada orang di dalam rumah yang membukakan pagar.  Beberapa kali dia melakukan itu sampai akhirnya ada seorang pria yang kemudian membukakan pagar. Tapi sebelum mobil kami masuk, orang itu keburu mencegat kami semua. Dia kemudian mendekati mobil kami dan menanyai kami.
“Siapa kalian?” Tanya pria berkumis tipis itu kepada kami.
“Kami diutus untuk menyelidiki suatu kasus,” jawabku seraya menunjukkan kartu identitas milik suami ku. "Kau tahu sendiri kan kalau pemilik rumah ini terlibat dalam kasus tersebut."
Pria itupun menangguk. Dia dengan cepat mempersilakan mobil kami masuk ke dalam pekarangan. Mobil terparkir di samping rumah besar itu,dan kami pun bergegas untuk turun.
Setelah itu si pria mempersilakan kami semua untuk masuk ke dalam rumah .
“Perkenalkan, saya adalah kepala pelayan di rumah ini. Nama saya Rahman,” pria itu memperkenalkan dirinya. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya kemudian.
Akupun menghela nafas.
“Begini, pak Rahman,” jawabku. “Kami sedang menyelidiki sebuah kasus. Dan atasan anda – Pak Anwar adalah salah satu saksi dari kasus ini. Bisakah kami meminta sedikit informasi?” Tanyaku kepada orang itu. Tugasku di sini adalah, selain sebagai asisten – juga sebagai ‘juru bicara’ bagi suamiku. Berhubung karena ‘keterbatasan’ suamiku itu.
“Baiklah,” jawab Rahman. “Tapi pak Anwar saat ini sedang di Rumah Sakit. Jadi silakan saja kalian masuk untuk memeriksa kamar dan ruang kerjanya. Mungkin ada petunjuk yang bisa kalian dapat di sana,” sambungnya. Rupanya orang yang satu ini bisa diajak bekerja sama. Dan tentunya memudahkan ‘kerja’ kami dalam melaksanakan ‘tugas’ hari ini.
Sambil berjalan ke dalam rumah, suamiku kemudian berbisik kepadaku. “Kau tanya-tanya dan alihkan perhatian dia. Aku akan memeriksa kamar pak Anwar dan mengambil beberapa foto.” Akupun mengangguk tanda setuju dengan rencana suamiku.
Suamiku pun bergegas masuk ke kamar dan ruang kerja pak Anwar. Dia mengajak Solihin bersamanya. Sementara aku berbincang dengan si kepala pelayan.
Aku bertanya banyak hal -- dan tak lupa untuk mencatat semua informasi yang kudapat. Pak Rahman – si Kepala Pelayan itu memang bisa diajak bekerja sama. Dia memberikan banyak informasi yang diketahuinya tentang apa saja yang dilakukan atasannya dalam beberapa hari ini.
Dari beberapa informasi yang ku dapat, ada 2 hal yang ku garis bawahi di buku catatanku. 2 informasi penting yang sepertinya bisa dijadikan petunjuk. 2 informasi yang nantinya akan ku laporkan kepada suamiku – selaku pengambil keputusan dari semua ini.

***

Tepat pukul 18.30 kini kami sudah berada di dalam mobil lagi. Kami sekarang dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, setelah berhasil 'mengorek' informasi di kediaman pak Anwar.
“Waktu kita tidak banyak lagi,” Kata suamiku. “Bisakah kau berikan buku catatanmu?” Sambungnya seraya mengulurkan tangannya kepadaku.
“Baiklah,” jawabku seraya memberikan buku catatan yang sejak tadi bersamaku.
Suamiku kemudian membuka buku itu sambil melihat- foto-foto yang tadi diambilnya lewat HP nya. Dia juga mengamati satu persatu di tiap-tiap catatan yang ku tulis tadi. Matanya menatap tajam tiap-tiap foto yang ada di HP nya. Wajahnya tampak sangat serius. Pikirannya sedang fokus. Dia tengah berfikir keras saat itu, bahkan terlalu keras. Tiba-tiba.....
Wajah suamiku tampak kebingungan. Matanya tampak tidak fokus lagi. Raut mukanya tidak seserius tadi. Sepertinya ada sesuatu yang ‘kambuh’ di dalam dirinya, lagi.
“Kamu kenapa sayang?” tanyaku cemas. Ku lihat bola matanya tidak fokus lagi.
Suamiku masih tak menjawab. Dia seperti kebingungan dan terus seperti itu.
Akupun semakin cemas. “Ayo sini tatap mataku, dan katakan kalau kamu tidak apa-apa,” kataku sambil menggoyang-goyangkan bahu suamiku. Aku semakin cemas saja.
“Ti-tidak apa-apa,” jawab suamiku dengan nada yang lirih. “Hanya saja...”
“Hanya saja kenapa??” Kali ini aku tak dapat menyembunyikan kekhawatiranku.
“Sepertinya... Penyakitku kambuh lagi, banyak hal yang mulai terlupakan olehku, hehehe..” Suamiku menjawab dengan enteng dan sambil terkekeh-kekeh. Dia berusaha menghapus kekhawatiran yang masih tersisa di wajahku dengan celotehannya itu.
Akupun menghela nafas panjang. Kemudian mataku menatap suamiku dengan tatapan meyakinkan. “Untuk itulah aku ada di sini. Aku ada bersamamu untuk menyelesaikan semua yang sudah kita mulai sejak awal.” Tuturku. “Aku juga akan membimbingmu untuk mengingat kejadian-kejadian hari ini. Semua yang kita lalui seharian ini. Ingat, sesuai permintaanmu sebelum kita menikah,” kataku seraya mengingat akan apa yang dulu pernah ku dengar darinya.
“Wow, memangnya aku pernah meminta hal itu?” Tanya suamiku heran. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Ternyata aku semakin pikun saja ya, hahaha...”
Akupun kemudian menjelaskan satu persatu apa yang kami alami hari ini. Sambil ku paparkan juga mengenai apa yang kutulis di buku catatan serta foto-foto yang tadi diambil suamiku. Aku bekerja keras untuk mengembalikan ‘instingnya’ yang saat ini hilang. Aku dengan sabar menjelaskan kepada suamiku layaknya seorang ibu yang berdongeng untuk anaknya. Dan beruntungnya, ingatan, insting dan pengalaman yang dialaminya seharian ini perlahan bisa diingatnya kembali. Walaupun dia sedikit kesulitan. Tapi aku merasa lega.
Sore hari yang sangat tenang ditemani angin sepoi -- di mana perjalanan kami hampir sampai menuju rumah – tiba-tiba aku mendengar beberapa kalimat bernada optimis.
“Baiklah, aku sudah tahu pelakunya, juga trik yang digunakannya dan siapa saja yang terlibat di kasus ini!” Tutur suamiku dengan yakin. Instingnya kembali lagi seperti semula.

***

Di rumah – atau tepatnya di kamar kami, sekitar pukul 21.30. Malam hari.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanyaku. “Tinggal 30 menit lagi!”
“Ambil laptopmu, kemudian kau ketik apa yang kuucapkan setelah ini,” perintah suamiku. “Seperti biasa, kau kirimkan tulisanmu itu dalam bentuk email kepada briptu Efendi.”
Aku pun mengangguk dan segera mengambil laptop yang ada di dalam lemari.
“Baiklah, bisa kita mulai sekarang?” Tanyaku setelah semua persiapannya selesai.
“Tentu.., ” Suamiku kemudian menghela nafasnya panjang-panjang... Dia kemudian menjelaskan semua analisis dan kesimpulannya dengan panjang lebar. Semua tentang penyelesaian dari kasus rumit ini. Tampak jelas dan optimis! Semuanya kemudian kutulis dalam bentuk email yang isinya adalah:
Yang terhormat briptu Efendi,
Saya akan paparkan mengenai segalanya yang saya dapatkan dari kasus besar ini, kasus hilangnya permata berharga 1 triliun ini. 
Dan tanpa berbasa-basi lagi, langsung saja saya ungkapkan bahwa pelakunya adalah...
PAK ANWAR!!
***
Seperti bapak ketahui, pak Anwar adalah salah satu dari 3 orang yang kami periksa hari ini – 1 dari 3 saksi di kasus ini. Dan perlu bapak ketahui, dari awal hanya beliau yang paling saya curigai.
Saya bersama tim saya kemudian mendatangi rumah Pak Anwar. Kebetulan beliau berada di Rumah Sakit lantaran sedang dalam pemulihan -- pasca operasi pengangkatan tumor di lambung. Dan hal itu memang betul, karena pihak Rumah Sakit membenarkannya (setelah kami telepon). Namun tahukah anda, sebenarnya apa yang dilakukan Pak Anwar di rumah sakit?
Jawabannya adalah, bukan operasi pengangkatan tumor... Yang beliau lakukan adalah, operasi pengangkatan ‘PERMATA YANG HILANG”... YA! Permata curian itu disembunyikan di dalam tubuh Pak Anwar. Bagaimana caranya? 
Caranya cukup simpel, yakni dengan cara ditelan pada saat pameran permata berlangsung. Banyak yang tidak menyadari, lantaran cara itu teramat ‘ekstrim’ dan di luar perkiraan semua orang. Mengingat harga dari permata itu (1 triliun), maka hal ‘ekstrim’ seperti apapun tak jadi masalah untuk dilakukan. Makanya pada saat kalian menggeledah mereka 1 menit setelah permata raib, tak akan ditemukan apapun! Karena benda berharga itu sudah berada di dalam tubuhnya – tepatnya di dalam lambung. Jadi ini bukanlah trik sulap ataupun sihir! 
Dan satu hal lagi, saya menyimpulkan bahwa yang melakukan operasi  'pengangkatan permata' juga terlibat dalam kasus ini! Perkiraan saya, dialah yang sekarang menyimpan permata itu -- sementara pak Anwar masih dalam pemulihan.
Bukti dari analisa saya ini adalah berdasarkan dari catatan istri saya yang telah mengintrogasi kepala pelayan di rumah pelaku. Dalam hal ini ada dua petunjuk penting yang didapat, yaitu:
1. Dalam seminggu terakhir, ada seorang dokter yang sering berkunjung ke rumah pak Anwar. Kemungkinan besar dokter itulah yang saya maksudkan tadi.
2. Fakta lainnya, dalam beberapa hari ini pak Anwar sangat banyak makannya. Hal itu terlihat aneh lantaran beliau biasanya tidak terlalu banyak makan, menurut pelayannya. Saya menyimpulkan kalau beliau sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari. Tujuannya banyak makan adalah -- agar permata curian yang nanti ditelannya tidak langsung hancur karena terkena asam lambung. Jadi sebelumnya harus diganjal dulu dengan makanan.
Bukti selanjutnya adalah -- keterlibatan seorang oknum PLN dalam kasus ini. Anda tentunya masih ingat tentang pemadaman listrik di hotel itu, bukan? Ya, itu adalah bukti keterlibatan oknum PLN yang secara sengaja memadamkan lampu (pasca diminta pak Anwar tentunya). Rasa-rasanya tidak ada jadwal pemadaman lampu hari itu.
Bukti keterlibatan oknum PLN itu saya temukan ketika memeriksa kamar pak Anwar. Di dekat kasurnya saya temukan buku kuning daftar nomor telepon di kota ini. Saat itu saya melihat satu nomor 'penting' yang dilingkari dengan spidol. Saya memotret nomor itu dan tadi sore langsung saya telepon. Ternyata pemilik nomor  itu memang seorang petugas PLN, sesuai dengan perkiraan saya.
KESIMPULANNYA, saya meminta kepada Briptu Efendi agar segera menangkap Dokter dan oknum PLN itu MALAM INI juga!! 
Saya yakin Dokter itulah yang kini  menyimpan permata itu, dan oknum PLN itu pasti tak akan kemana-mana karena 'bagi hasil' belum dilakukan. Sedangkan pak Anwar tentunya masih terbaring di rumah sakit dan juga tak bisa pergi kemana-mana. 
Tangkap SEKARANG JUGA! 
Nama, alamat dan nomor telepon mereka saya lampirkan. Juga foto buku telepon dan semua bukti yang diperlukan ada dalam lampiran email ini.
Hormat saya

TWELVE

***

Keesokan paginya...
“Sayang, tadi aku ditelepon oleh briptu Effendi,” kataku dengan bersemangat. “Katanya sampaikan terima kasih kepadamu karena sudah menyelesaikan kasus kemarin.”
Suamiku tampak bingung, dia mengrinyitkan alisnya. “Kasus yang mana?? Memangnya apa yang terjadi kemarin?” Raut bingungnya tampak sangat lucu di mataku.

“Hahaha.. Ya sudahlah.” jawabku singkat. Akupun sadar kalau kelebihan hebat suamiku sedikit terganggu dengan ‘keterbatasannya’ itu. Ingatannya hanya bertahan 1 hari dan besoknya langsung lupa dan hilang begitu saja. Namun, karena cita-citanya yang teramat sangat ingin menjadi seorang detektif handal – dia pun berusaha keras agar bisa menyelesaikan kasusnya hanya dalam waktu 12 jam saja. 
Karena kehebatannya itulah, suamiku kemudian mendapatkan julukan dari pihak kepolisian, yaitu TWELVE! Sang Detektif Azheimer.

--SEKIAN---

Nantikan serial selanjutnya dari Detektif jenius yang dijuluki TWELVE hanya di Selebshop.com.
(disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi dan sedikit mengandung unsur dramatisasi. Jadi apa yang diceritakan di atas bukanlah gambaran sesungguhnya dari penyakit Alzheimer)


Author: Ajie Fabregas
Profesi: Internet marketer, penulis dan pencipta lagu
Dengarkan lagu ciptaannya di: 
www.reverbnation.com/triology4
www.reverbnation.com/ajiesongcollection
KUTIPAN FAVORIT:
"Enjoy Aja!"

CAUTION!

- DILARANG KERAS MENIRU, MENJIPLAK DAN MENGKOPI IDE MAUPUN ISI DARI TULISAN DI ATAS. KARENA ITU MERUPAKAN PELANGGARAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.
- APABILA DITEMUKAN PELANGGARAN HAK CIPTA/PLAGIAT, MAKA AKAN BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN HUKUM DI REPUBLIK INDONESIA!


Baca Juga
Promosikan karyamu (gratis)