--> Skip to main content


[CERBUNG] Magician of Feliz (Bab 8)

BAB 8: CARLOS VS RAVEN (MAGICIAN INITIAL ‘R’)


Baca cerita sebelumnya di:

baca cerbung online magician of feliz bab 2

    

 ”Setelah ditemukan, Flores de la felicidad kemudian di tanam di La tierra santa. Setelah mantera dibacakan, maka bunga itu akan mengeluarkan cahaya putih. Jasad orang yang akan dihidupkan diletakkan di samping bunga. Maka, jasad itu akan hidup kembali seutuhnya. Kemampuannya tidak akan berkurang dari sebelumnya. Sekian,” Raline membacakan isi buku yang diberikan raja. Dia membacakan buku itu untuk putri Pevita. Keduanya berada di kamar sang putri – kamar yang lumayan luas dengan tempat tidur di paling samping.

“Sepertinya ada satu ‘syarat’ lagi yang harus dipenuhi. Jasad Ezhar Al,” seru Raline. “Sampai saat ini tidak ada seorangpun yang tahu dimana jasad itu,”

“Betul sekali,” sahut putri Pevita lirih. Wajahnya terlihat pesimis. “Perasaanku tidak enak. Jasad itu sepertinya ada pada Eden. Entah dimana dia menguburkannya. Tak ada seorangpun yang tahu.”

“Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita perlu ke sana untuk mencari jasad Ezhar?” tanya Raline.

“Suatu hal yang sangat beresiko kalau kita harus ke sana. Tapi tidak ada cara lain selain mendatangi markas Eden dan mencari jasad itu,” terang Pevita. “Meski begitu, jasad itu belum tentu dikuburkan di tanah. Bisa saja dibuang ke lautan,” tambahnya.

“Oh iya tuan putri. Aku lupa memberitahukan sesuatu,” mata Raline berbinar-binar. “Liontin putih yang kini ada pada putri – sebenarnya bisa melacak keberadaan Ezhar. Walaupun Ezhar sudah menjadi jasad, kekuatan liontin itu tetap bisa mencari dimana jasad Ezhar berada.”

“Benarkah itu?” tanya Pevita. Wajahnya tampak senang. Semangatnya kembali lagi. “Kita akan membentuk suatu tim untuk menemukan jasad itu. Sedangkan tim yang satunya – yang ada manusia di dalamnya – akan menjadi tim kedua. Tugas tim kedua adalah menemukan flores de la felicidad.

“Penting bagi kita untuk tidak membuang-buang waktu. Kekuatan pelindung kerajaan feliz  semakin melemah. Demi Neptunus, kalau semua rencana ini gagal – maka pupuslah harapan satu-satunya kita. Maka Negeri feliz ini akan dikuasai kekuatan kegelapan – tanpa sepengetahuan sang Neptunus. Kalau kita memberitahu sang Neptunus, ayah pasti menolak. Beliau terlalu prinsipal. Beliau merasa tidak ingin Negeri ini dipandang rendah oleh Neptunus dan negeri lainnya di Atlantis. Bagi beliau, perang melawan Eden hanyalah perang saudara biasa. Negeri lain tidak perlu tau dan ikut campur dengan urusan dalam negeri kita.

“Nanti beritahu kepada Carlos mengenai rencana kita ini. Dia akan menjadi salah satu bagian dari tim kita ini. Nanti aku akan menyampaikan rencana ini kepada ayah. Semoga dia setuju,” putri Pevita menjelaskan semua rencananya kepada Raline. Raline pun mengangguk.

Semuanya akan segera dimulai.


***


“Bertemu pada seseorang yang sama. Situasinya pun juga sama. Hanya tempatnya yang berbeda. Ketika bulan purnama menerangi malam yang sangat mencekam. Apakah ini sebuah ‘de ja vu’?"
(Nabilah Zahra)

Tiada yang bisa menggambarkan suasana yang sangat mencekam. Dua orang lelaki yang sedang berhadapan satu sama lain. Nabilah tak bisa berkata apa-apa lagi. Sang kekasih, Aliando – sepertinya  akan terlibat perkelahian dengan si pria misterius. ‘De ja vu’ untuk kedua kalinya !!

Aliando berjalan mendekat ke arah si pria misterius itu. Wajahnya nampak sangat murka. Nabilah berusaha menghentikan – namun tak bisa. Aliando tetap bersikeras untuk memberikan ‘pelajaran’ kepada lelaki itu. Rupanya dia masih tak bisa melupakan kejadian di tebing – nyawanya hampir hilang gara-gara pria di hadapannya itu. Kini dia bersiap untuk membalas semua itu. Tangannya terkepal, emosinya tak bisa di tahan.

Kini Aliando berhadapan langsung dengan si pria. Jarak mereka hanya sekitar 10 meter. Wajah keduanya saling menatap garang.

“Kau hampir saja membunuhku, brengsek!” kecam Aliando.

“Memang sepantasnya begitu! Kau yang brengsek!” balas si pria misterius. Wajahnya juga menunjukkan amarah.

“Aliando, hati-hati!” Nabilah berseru memperingatkan kekasihnya. Sepertinya Nabilah sudah bisa menerima – bahwasanya sebuah pertarungan memang takkan bisa terelakkan lain. Dia percaya bahwa Aliando pasti punya kekuatan tersembunyi yang masih dirahasiakan kekasihnya itu. Semua yang dilihatnya sewaktu di perbuktikan – membuktikan hal itu. Dia sangat kuat, melebihi manusia biasa. Lagipula dia punya sesuatu yang luar biasa. Nabilah sangat yakin akan hal itu.

“Sepertinya kau harus minta maaf padaku, sebelum aku menghajarmu. Kau bukanlah tandinganku!” Aliando menggertak pria itu

“Kau yang harusnya minta maaf!!” Pria itu dengan cepat berlari ke arah Aliando. Tangannya terkepal – membentuk sebuah pukulan yang siap mendarat ke wajah Aliando.

Dengan gesit Aliando menghindari pukulan itu. Dia kemudian melompat ke arah kiri si pria. Kaki kanannya melakukan tendangan yang kemudian ditangkis oleh si pria. Kemudian dia mengangkat kaki kirinya yang tepat mengenai kepala lawannya itu. Sang lawan kemudian mundur beberapa langkah.

Belum sempat mengambil nafas, si pria kemudian mendapat serangan cepat nan bertubi-tubi dari Aliando. Dia sangat mahir melakukan serangan dengan kombinasi tangan dan kakinya. Beruntung si pria itu juga tak kalah gesit untuk menangkis semua serangan itu. Angin malam yang semakin dingin seperti tak mempengaruhi keduanya yang bertarung sengit

Nabilah hanya bisa terpaku. Dia seperti tak bisa berkata-kata. Dirinya takjub melihat kehebatan kekasihnya yang sangat pandai bertarung. Kekuatan, kecepatan dan kegesitan Aliando seperti melampaui manusia pada umumnya. Sang lawan pun tak kalah hebatnya, karena mampu mengimbangi kemampuan Aliando. Tapi yang berbeda kali ini, rasa takut Nabilah mulai berkurang. Dia seperti tidak terlalu takut lagi dengan si pria misterius itu. Sepertinya Aliando akan mengalahkan lelaki itu. Nabilah sangat yakin akan hal itu. Rasa aman di hati Nabilah semakin kuat.

Malam semakin gelap. Dinginnya angin mewarnai pertarungan kedua lelaki yang ada di depan Nabilah. Mereka bertarung tanpa mengenal lelah. Kebetulan arena pertarungan sangat luas – padang rumput yang sangat sepi. Tak ada kekhawatiran akan ada orang yang melihatnya, kecuali Nabilah yang terpaku dan terpukau – berdiri tak jauh dari lokasi pertempuran. Dia berdiri tepat di depan pohon besar – yang rencananya menjadi tempat pertemuan dengan putri Pevita. Namun sampai saat ini sang putri belum muncul juga.

Semakin lama pertarungan yang berlangsung semakin tidak seimbang. Beberapa kali pukulan dan tendangan Aliando mengenai wajah, perut dan punggung si lelaki misterius. Lawan Aliando itu terlihat kewalahan menghadapi kecepatan serangan Aliando. Dia mulai cedera di beberapa bagian tubuhnya. Sementara Aliando tidak terlalu sering terkena serangan. Tidak ada luka yang terlihat sejauh ini. Dia terlihat mendikte pertarungan.

Sepertinya kemenangan sudah di depan mata Aliando. Lawannya mulai terlihat kepayahan dan sedikit babak belur. Tanpa ampun Aliando melancarkan semua serangan-serangannya ke perut, wajah dan kaki lawannya itu. Hanya beberapa yang bisa ditangkis, sisanya mengenai semua bagian vital lawannya itu.  Sang lawan pun roboh seketika. Tubuh tingginya terbaring di atas rumput yang bertinggi beberapa sentimeter itu.


Tibalah akhirnya Aliando untuk segera ‘mengakhiri’ pertarungan dengan ‘pukulan terakhir’. Si pria misterius terbaring tak berdaya. Dia seperti tak bisa melanjutkan pertarungan. Akan tetapi Aliando seperti akan melancarkan sebuah ‘pukulan’ tepat ke wajah lawannya itu.

Hampir saja pukulan itu mendarat tepat di wajah si pria misterius, jika saja Nabilah yang berdiri tidak jauh dari tempat pertarungan – tidak mencegah kekasihnya melakukan hal itu.

“Hentikaan!!” teriak Nabilah dari kejauhan. Hal itu membuat Aliando terkejut dan menoleh ke arah Nabilah. Wajahnya tampak ‘kesetanan’. Namun dia belum sempat melancarkan ‘pukulan mematikan’ itu ke wajah lawannya.

“Hentikan saja Aliando! Kau sudah menang! Dia sudah sekarat dan tak bisa apa-apa lagi sekarang!” teriak Nabilah. Dia berusaha menghentikan tindakan sang kekasih yang ingin ‘menghabisi’ si pria misterius yang kini tergeletak tak berdaya. Dan si pria pun terlihat pasrah.

Tiba-tiba muncul sosok berbaju putih yang bergerak sangat cepat. Sosok itu langsung melayangkan tendangan dan tepat mengenai perut Aliando. Aliando pun terpental sejauh 10 meter. Tendangan itu sangat kuat dan membuat Aliando terlihat kesakitan. Nabilah dengan cepat berlari ke arah kekasihnya itu.

“Kamu tidak apa-apa?!” tanya Nabilah dengan panik.

“Ya. Tenang saja. Cuma sakit sedikit.. uh,” Aliando tampak kesakitan memegangi perutnya yang terkena serangan mendadak. Dia tak menyangka dan tidak siap menghadapi serangan sporadis yang mengakibatkan cidera di perutnya itu.

Nabilah kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang telah menyerang kekasihnya. Sosok berbaju putih itu kemudian terlihat jelas. Dia seorang wanita berbadan tinggi yang pernah dilihat Nabilah. Sosok itu membuat Nabilah kaget karena tidak menyangka bahwa sosok itu telah menyerang kekasihnya.


Nabilah kemudian teringat dengan mimpinya sewaktu bertemu putri Pevita. Dan sosok yang dikenal Nabilah itu adalah Raline. Dia tampak sangat kuat. Namun anehnya, kenapa dia malah menyerang Aliando. Apa yang sebenarnya terjadi, gumam Nabilah dalam hati. Rasa panik dan bingung terus menghantuinya.

Mata Nabilah kembali dikejutkan oleh sosok yang – entah sejak tadi ada atau apalah. Yang pasti sosok kedua ini berdiri di depan pohon besar yang berada tidak jauh dari Nabilah dan Aliando. Sosok wanita cantik, berpostur lebih rendah ketimbang Raline. Ya, dialah sosok putri Pevita. Sosok yang selama ini menitipkan ‘benda berharga’ berupa liontin kepada Nabilah.

“Nabilah, cepat kemari! Menjauh dari lelaki itu!” seru Pevita kepada. Wajahnya nampak serius.

“Kenapa?! Apa maksudmu?! Dia adalah kekasihku! Memang kenapa dengan dia?!” wajah Nabilah nampak kebingungan dan panik. Sedangkan Aliando hanya bisa diam. Namun sorot matanya tajam kepada 3 orang ‘musuh’ yang ada di depannya.

“Dia orang yang sangat berbahaya! Dia adalah utusan Eden yang ingin mengambil liontin itu darimu!” kali ini wajah Pevita nampak sangat serius. Matanya menatap sengit kepada lelaki yang ada di samping Nabilah itu. “Benarkan, Raven?” tanya Pevita.

“Mustahil!! Itu tidak mungkin! Kau pasti bercanda kan?!” Nabilah langsung memotong ucapan Pevita. Air mukanya merah padam. Dia tidak terima kekasihnya itu dituduh seperti itu.

“Itu tidak benar kan, Aliando?!” kini Nabilah bertanya kepada kekasihnya. “Katakan kalau ucapan wanita itu tidak benar!” Dia berusaha memastikan kalau kekasihnya bukanlah orang jahat seperti yang dituduhkan oleh Pevita.

Aliando hanya bisa terdiam. Mulutnya seperti terkunci. Kepalanya sedikit tertunduk. Reaksi yang sangat tidak disukai Nabilah.


“Ayo Katakan?!” Katakan kalau itu tidak benar!” kali ini tangan Nabilah memegang bahu Aliando dengan keras. Wajahnya tampak kecewa bercampur sedih. Matanya menatap dalam ke mata Aliando. Dia berusaha memastikan.

“Ayo mengaku saja!” seru Raline dari kejauhan.

Aliando masih terdiam. Namun tatapan mata Nabilah membuatnya luluh.

“Baiklah. Aku mengaku saja,” jawab Aliando lirih. “Aku adalah utusan dari Eden. Dan nama asliku adalah Raven.”

Dia pun mengakui semuanya. Angin malam semakin berhembus di tengah nyala bulan nan terang yang seakan menjadi saksi bisu. Suasana hati Nabilah semakin kacau mendengar pengakuan itu. Air mukanya nampak tak percaya. Dia seperti ingin menangis. Rasa percayanya selama ini ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Apalagi cinta tulusnya, seakan hanyalah sebuah bayangan yang semu.



“Rasa percaya yang telah tertanam dengan akar yang kuat, kini perlahan tergerus oleh rusaknya tanah. Mungkinkah sebuah pohon bisa berdiri di atas tanah yang sudah rusak..."
(Nabilah Zahra)


Kali ini dengan cepat lagi Raline melakukan pergerakan. Dengan gesit dia mendorong jauh Aliando yang tadi terduduk lesu. Usaha Raline ingin menjauhkan Aliando dari Nabilah. Nabilah yang sedang berdiri membeku. Wajahnya nampak sangat sedih bercampur kecewa. Orang yang dicintainya ternyata adalah orang yang mengincar nyawanya. Penyesalan tak terelakkan menghantuinya. Rasa bahagia dan rasa aman tatkala berada disisi Aliando – sekarang sudah terhapus begitu saja. Semua berubah menjadi rasa kecewa dan tragedi hati yang sangat memilukan. Semua seperti mimpi buruk dan Nabilah ingin segera bangun dari mimpi itu. Namun itu semua adalah nyata. Dia hanya bisa menangis. Air mata pilu yang mewarnai malam yang dingin itu.

“Ini tak seperti yang kau lihat Nabilah! Semuanya sudah berubah! Aku benar-benar mencintaimu. Ijinkan aku menjelaskan semuanya,” kata Aliando berusaha membujuk Nabilah yang terlanjur sakit hati. Dia sekuat tenaga meyakinkan dalam keadaan tubuh yang terikat. Dia berhasil ditangkap oleh Raline dan pria misterius yang ternyata bernama Carlos. Keduanya mengeroyok Aliando hingga akhirnya dia kalah dan langsung diikat dan tubuhnya disandarkan ke pohon besar.

Carlos adalah teman Raline. Dia pemimpin pasukan di negeri Feliz. Dia diutus putri Pevita untuk mengawasi dan menjaga Nabilah dari tangan-tangan jahat, termasuk Aliando alias Raven – yang merupakan utusan dari ratu Eden. Namun pergerakan Carlos yang tampak mencurigakan – justru membuat Nabilah menganggapnya adalah utusan Eden. Perkiraannya salah – justru orang yang selalu berada di dekatnya lah, yang ternyata ‘musuh’. Bisa dibilang ‘musuh’ dalam selimut yang berhasil meluluhkan hati Nabilah. Dan sekarang justru membuat hati Nabilah terluka, sangat parah.

“Diam kau!” bentak Raline. Wajahnya nampak sangat berang.

“Jangan ikut campur! Kau tidak tahu yang sebenarnya!” balas Aliando alias Raven kepada Raline. Dia berusaha sekuat tenaga melepas ikatan di tangan dan kakinya.

“Hei, kau! Beraninya membentak wanita!” Carlos ikut-ikutan membentak. Suaranya sangat nyaring meski tubuhnya terluka akibat dihajar Aliando.

Nabilah hanya diam saja. Dia terduduk di posisi yang jauh dari Raven yang telah membuatnya ‘terluka’. Dia hanya bisa menangis. Dan di sisinya ada putri Pevita yang berusaha menenangkannya. Putri yang berhati lembut itu merasa berhutang budi kepada Nabilah. Hutang budi karena Nabilah yang berhasil menjaga amanat darinya. Kini amanat berupa liontin putih itu berada di tangan putri Pevita. Nabilah menyerahkannya sesuai perjanjian sebelum pertemuan antara mereka.

Malam yang semakin larut namun cahaya bulan semakin terang. Pevita kemudian bercerita tentang kisah cintanya dengan mendiang Ezhar Al. Nabilah tetap tertunduk dan tak berkata apapun.

“2 tahun yang lalu, adalah masa-masa yang paling indah bagi kami berdua,” putri Pevita memulai kisahnya.

“Dahulu kala ada seorang master magician bernama Lucas Roullete. Dia adalah seorang guru magic terhebat di kerajaan Feliz.  Dia sangat selektif dalam menentukan murid yang akan dilatihnya. Hanya orang yang lulus tes ‘mematikan’ yang boleh berguru kepadanya.

“Dari 1000 calon murid yang ikut tes, hanya 3 orang saja yang lulus.  Mereka terdiri dari, 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.  1 orang laki-laki itu bernama Ernst Al. Sedangkan 2 orang perempuan bernama Eden dan Elena,” dengan seksama Pevita menceritakan tentang cerita masa lalu di kerajaannya.

“Seiring waktu berjalan, ketiga murid tersebut saling akrab satu sama lain. Mereka selalu berlatih bersama dan saling memahami satu sama lain. Hingga akhirnya tumbuh rasa cinta di hati salah satu wanita yang bernama Eden terhadap Ernst Al. Entah karena malu atau apa, dia enggan mengungkapkan isi hatinya dan lebih memilih untuk menyimpan rasa cintanya itu.

“Beberapa tahun kemudian, Lucas Roulette jatuh sakit. Sakitnya teramat parah hingga akhirnya merenggut nyawa sang master magician. Dia berpesan kepada murid laki-laki satu-satunya, Ernst Al agar menggantikan perannya sebagai guru magician di kerajaan Feliz. Dan itu merupakan pesan terakhir sang guru kepada sang murid terhebatnya. Ernst pun berusaha menyanggupi permintaan terakhir gurunya itu.

“Ernst Al kemudian mendirikan sekolah magic, yang luasnya lebih besar daripada sekolah yang dibangun oleh gurunya. Dengan jumlah murid yang juga lebih banyak tentunya. Karena jumlah murid yang banyak, dia mengajak para sahabatnya Eden dan Elena untuk turut serta menjadi pengajar di sekolah itu. Kontan saja hal itu membuat Eden menjadi sangat senang. Pasalnya, dirinya pasti akan selalu dekat dengan sang pujaan hatinya Ernst Al. Rasa cintanya kepada sang pujaan hati yang selama ini tidak diketahui oleh orang yang dicintainya itu. Semua rasa itu disimpan rapat-rapat oleh Eden.

“Seiring berjalannya waktu, Eden kemudian mendapatkan kabar buruk. Ibunya yang berada di negeri Alexandra – negeri tetangga ternyata telah meninggal dunia. Dia amat sedih dan terpukul. Dia pun meminta izin kepada Ernst Al untuk pulang dalam waktu yang lama. Setidaknya untuk mengobati rasa sedihnya yang kini kehilangan ibunya – setelah sebelumnya ayahnya. Sekarang dia yatim piatu.”

Nabilah hanya diam dan mendengarkan semua cerita itu dengan seksama. Baginya, cerita itu seperti kisah di negeri dongeng dari seorang ibu yang mau menidurkan anaknya.

Kemudian Nabilah bertanya, “selanjutnya apa yang terjadi?”

“Yang terjadi selanjutnya adalah, Eden kembali lagi ke sekolah magic, setelah 2 tahun lamanya dia pergi. Mungkin untuk menghilangkan rasa sedihnya atau menenangkan dirinya – sehingga dia pergi selama itu.

“Rupanya kenyataan tidak berpihak kepada dirinya. Setelah dilanda rasa sedih yang begitu hebat karena kehilangan ibunya, kini dia kembali harus menerima kenyataan yang tak kalah pahitnya. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya amat terluka,” putri Pevita menghela nafasnya sejenak.

“Memang apa yang terjadi saat itu?” Nabilah mulai antusias mendengar cerita yang tadinya dianggap dongeng itu.

“Saat itu dia harus menerima sebuah kenyataan pahit. Orang yang paling dicintainya selama ini ternyata telah menikah dengan sahabatnya sendiri. Sebuah pemandangan yang sangat tidak mengenakkan baginya. Hatinya teramat hancur.  Dia pun kemudian langsung pergi. Kali ini tanpa pamit.” Pevita kembali menghela nafasnya.

Angin malam berhembus halus mewarnai malam itu di padang rumput. Raline, Carlos dan Raven terlihat diam. Mereka turut mendengarkan cerita Pevita.

“Sejak saat itulah Eden yang menghilang kemudian kembali. Dia kembali untuk menghancurkan kerajaan. Tidak hanya Ernst dan Elena saja, tapi seluruh kerajaan.

“Eden saat itu seperti dipengaruhi oleh kekuataan yang sangat jahat. Mungkin setelah hatinya hancur, dia pergi ke hutan larangan. Disanalah kekuatan jahat itu membuat dirinya menjadi kehilangan jati diri. Rasa sakit hatinya berubah menjadi keinginan untuk balas dendam. Kekuatan jahat itu seakan menggelapkan pandangannya. Dia membunuh tanpa pandang bulu. Sangat brutal dan itu bukanlah sifat dirinya yang sesungguhnya. Semua karena kekuatan jahat dari hutan larangan, yang membuatnya menjadi seperti itu.

“Eden kemudian membinasakan Ernst dan Elena tanpa ampun. Keduanya harus mati dibunuh, tanpa meeka tahu apa kesalahan mereka. Selama ini mereka tidak tahu kalau penyebabnya adalah karena cinta. Selama ini Eden tidak pernah mengungkapkan isi hatinya yang sangat mencintai Ernst Al. Namun keduanya harus mati karena kesalahan yang tidak mereka ketahui. Dan sebenarnya itu bukanlah kesalahan mereka.

“Setelah membunuh Ernst Al dan Elena, Eden seperti tidak puas. Dia justru makin berhasrat untuk menghancurkan seluruh kerajaan yang dilindungi oleh para magician. Entah kekuatan jahat apa yang membuatnya menjadi haus akan kekuasaan. Walaupun dendam cintanya sudah terpenuhi, dia kemudian malah ingin menguasai seluruh kerajaan. Sepertinya kekuatan jahat misterius itu telah membuatnya kehilangan hati nuraninya sendiri. Membuatnya menjadi monster mengerikan yang tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang mencoba menghalangi tujuannya,” jelas Pevita lirih.

“Mengerikan. Jadi itu penyebab Eden itu menyerang negeri anda, yaitu karena cinta. Sungguh mengerikan,” kata Nabilah menyela. Matanya menatap sengit ke arah Aliando alias Raven yang tangan dan kakinya terikat. Wajah lelaki itu tertunduk. Tatapan Nabilah mengartikan kalau cinta itu bisa ‘merusak’ segalanya. Kisah Pevita itu seperti mengisyaratkan kisah yang sama yang dialami oleh Nabilah. Hatinya sangat geram.

“Tapi cinta tak selamanya buruk!” kata Pevita tiba-tiba.


“Cinta juga bisa menimbulkan ‘rasa melindungi orang yang dicintai melebihi diri sendiri’,” wajah Pevita menunjukkan raut kesedihan. Dia teringat akan seseorang yang dicintainya yang sudah tiada. Nabilah tertegun mendengar ucapan Pevita itu.

“Seseorang bernama Ezhar Al, putra dari Ernst Al dan Elena – contoh nyata dari ‘pengorbanan’ demi orang yang dicintainya. Walaupun dia sangat kuat atau bisa dibilang setara Eden, tapi dia mempunyai kelemahan,” Pevita menjelaskan semua tentang kekasihnya. Wajahnya semakin surut. Pikiran putri cantik itu terbang menuju kenangan sedihnya ketika harus kehilangan kekasih tercintanya. Nabilah yang duduk disampingnya dengan beralaskan rumput – hanya bisa termenung.

“Waktu itu aku berhasil diculik oleh Raline – yang waktu itu masih menjadi bawahan Eden. Aku disekap di kastil miliknya yang dipenuhi oleh pasukan bernama oscured beserta 4 magician ‘initial R’ yang sangat kuat, termasuk 2 diantaranya, Raline dan Raven,” mata Pevita menatap ke arah Raline dan Raven. Raline mengangguk. Sedangkan Raven yang dalam keadaan terikat hanya diam membisu. Bisu seperti suasana malam yang semakin dingin itu.

“Ezhar Al dengan gagah berani datang sendirian ke kastil. Dia berusaha menyelamatkan diriku. Eden yang jahat mensyaratkan kebebasanku, asalkan hanya Ezhar Al sendiri yang datang ke kastilnya. Kalau syarat itu ditolak, maka nyawaku akan dihabisi wanita biadab itu.

“Ezhar pun bertarung dengan gagah berani. Menghadapi banyak pasukan Eden. Kemudian dia bertarung melawan Raline dan menang. Dia langsung ‘menyembuhkan’ Raline dari pengaruh jahat Eden. Kemudian dia menyuruh Raline yang sudah sembuh, untuk membawaku ke istana. Dia memberikan amanat kepada Raline – agar melindungi nyawaku jikalau Ezhar harus tewas dalam pertempuran di kastil. Dia juga memberikan liontin pemberian ibunya kepadaku. Seolah semua itu adalah semacam ‘warisan’ terakhirnya. Saat itu dia bermaksud untuk bertarung sampai mati – melawan Eden serta ketiga magician ‘initial R’ yang masih dibawah pengaruh kekuatan jahat Eden. Dia bermaksud mengorbankan dirinya.

“Raline kemudian membawaku menuju ke luar kastil, sesuai dengan perintah Ezhar. Sementara Ezhar sendirian di kastil menghadapi Eden dan anak buahnya.

“Sejak saat itu Ezhar tidak pernah kembali lagi. Sekian lama kami menunggu namun tak pernah lagi dia menampakkan dirinya. Pada akhirnya, kami semua berkesimpulan kalau dia sudah tewas di tangan Eden dan anak buahnya. Hal itu ditandai dengan serangan pasukan Eden yang tiba-tiba menyerang istana kerajaan kami. Mereka berani menyerang istana, setelah pelindung kami yaitu Ezhar – tewas ditangan mereka. Seluruh kerajaan pun panik. Namun, kami ditolong oleh kekuatan liontin yang diberikan oleh mendiang Ezhar. Kekuatan yang dihasilkan oleh liontin itu seperti prisai yang membuat kerajaan kami terlindung dari serangan musuh. Kami sangat beruntung karena mendiang Ezhar. Walaupun dia sudah tewas, kekuatannya masih ada dan melindungi istana kami. Namun akhir-akhir ini kekuatan itu semakin melemah saja. Entah sampai kapan kekuatan itu akan bertahan,” Putri Pevita menjelaskan dengan panjang lebar. Raut wajahnya terlihat sedih. Sedih yang bercampur dengan khawatir. Kekhawatirannya akan kelangsungan kerajaannya yang tak akan lama lagi.


“Cinta bisa seperti pisau bermata dua. Cinta bisa berakhir bahagia, namun bisa juga berakhir tragis. Ketika seseorang mengorbankan dirinya demi cinta, kita merasa bahagia karena ada seseorang yang peduli dan rela berkorban demi kita. Namun tragisnya, kita harus rela kehilangan orang itu untuk selama-lamanya...”
(Pevita Marcia)


“Aku sangat mencintaimu Nabilah!! Ini tak seperti yang kau lihat!” Aliando alias Raven berusaha meyakinkan Nabilah. Dia tidak peduli dengan keadaan tubuhnya yang terikat.

“Diam kau!” bentak Carlos. “Omong kosongmu tak bisa dipercaya!” wajahnya memandang sengit ke arah Raven. Pria berbadan tinggi itu memang sangat ingin menghabisi Raven. Dia sangat membenci Eden dan semua anak buahnya – termasuk Raven kerena telah membunuh orang-orang terdekatnya, seperti Ernst, Elena dan putra mereka Raven. Dia tidak bisa melupakan semua itu begitu saja.

“Kau jangan ikut campur Carlos!” Raven balas membentak. “Kalau badanku tidak terikat, kau pasti akan kuhabisi!”

“Apa Katamu!!” tangan Carlos terkepal. Dia seperti ingin melayangkan pukulan ke wajah Raven. Namun, tindakannya itu berhasil dicegah oleh Nabilah. Sepertinya di hatinya masih ada rasa kepedulian, walaupun sebagian besar di dalam hatinya diisi oleh rasa kecewa karena kebohongan dan juga penghianatan. Carlos pun menghentikan tindakannya. Walau dihatinya masih dipenuhi emosi kepada Raven

“Kenapa kau melindungiku Nabilah? Apakah kau masih percaya kepadaku?” tanya Raven.

“Jangan salah sangka. A-aku hanya.. tidak tega. Itu saja,” perkataan Nabilah sedikit terbata. Perkataan dan isi hatinya sedikit berlawanan. Dihatinya sebetulnya masih sangat mencintai Aliando yang bernama asli Raven, sang magician ‘initial R’ itu. Wajahnya menunjukkan raut kebimbangan.

“Biarkan aku menjelaskan semuanya Nabilah! Semua rahasia yang kusimpan! Semuanya!” Raven berusaha meyakinkan Nabilah.

“Diam kau!! Ku hajar kau kalau masih bicara!!” bentak Carlos.

Kali ini Nabilah hanya diam saja. Kebimbangan menghantui dirinya. Batasan antara kepercayaan dengan ketidakpercayaan hanyalah setipis kertas. Kebencian membuatnya tidak percaya. Namun rasa cinta ‘memaksa’ dirinya untuk percaya. Sekarang dia tidak bisa memutuskan antara harus percaya atau tidak dengan semua perkataan Raven.

Tiba-tiba Raline berjalan mendekati Raven. Tangannya kemudian memegangi tangan Raven yang terikat. Dia menatap lengan magician itu sejenak. Kemudian air mukanya langsung berubah.

“Nabilah, sepertinya kau harus mulai percaya dengannya,” kata Raline. Matanya masih menatap ‘sesuatu’ yang ada di  lengan Raven yang sepertinya menunjukkan sesuatu hal.

“Maksudmu?” Nabilah semakin bingung.

“Lihatlah tangannya,” seru Raline. Kemudian Nabilah diikuti Carlos dan Pevita mengikuti apa yang dikatakan oleh Raline. Mereka menatap dengan seksama lengan Raven yang hanya diterangi oleh cahaya bulan purnama di malam itu.

“Kalian melihatnya? Ada sebuah tanda seperti tatto berbentuk anak panah,” kata Raline. Matanya berbinar, wajahnya antusias.

“Memang kenapa dengan itu?” tanya Nabilah dengan bingung.

“Itu tanda yang sama yang pernah ada padaku. Tanda itu muncul dilenganku setelah aku terbebas dari pengaruh jahat Eden. Tatto berbentuk anak panah itu adalah sebuah akibat kalau kita berkhianat kepada Eden – atau paling tidak terbebas – atau bisa juga dibebaskan dari kutukan itu oleh orang lain. Waktu itu diriku dibebaskan oleh mendiang Ezhar Al.

“Ezhar Al berhasil menghilangkan seluruh pengaruh jahat Eden yang membuatku menjadi anak buahnya. Setelah aku tersadar, tiba-tiba tatto itu muncul di lengan kiriku. Tatto itu sebenarnya adalah ‘kutukan’ karena berkhianat kepada Eden. Tatto berbentuk anak panah itu akan bergerak dari lengan sampai akhirnya menuju ke arah jantung. Artinya tatto itu adalah sebuah ‘kutukan’ yang akhirnya bisa menghilangkan nyawa para magician yang berkhianat kepada dirinya. Proses bergeraknya ‘anak panah’ dari lengan menuju ke jantung berlangsung dalam waktu 7 hari,”  Raline menjelaskan semua yang pernah dialaminya kepada semua orang yang ada dihadapannya.

“Kenapa kau masih hidup? Bukankah kau sudah lama dibebaskan dari pengaruh jahat itu?” tanya Nabilah tiba-tiba. Pertanyaannya menyiratkan rasa ketidakpercayaan.

“Semua berkat mendiang Ezhar Al. Hanya magician terkuat, dengan gelar ‘initial R’ – yang bisa menghilangkan ‘kutukan’ jahat itu. Pada hari itu juga, sebelum Ezhar menyuruhku lari membawa tuan putri – dia sempat lebih dahulu menghilangkan tatto anak panah dari lenganku. Sehingga diriku sampai sekarang masih hidup. Dan yang sekarang terlihat di lengan Raven, sama persis dengan apa yang pernah ku alami. Dengan kata lain dia..” tiba-tiba Raline tidak meneruskan kata-katanya, karena putri Pevita disampingnya ikut berbicara.

“Dengan kata lain, Raven sudah terbebas dari pengaruh jahat Eden. Akibatnya, sebuah ‘kutukan’ anak panah menimpa dirinya. Artinya, kita bisa mempercayai kata-katanya,” kata putri Pevita. Dia menatap Nabilah yang hanya bisa melongo.

“Akan tetapi, dalam 7 hari ke depan – nyawa Raven akan hilang,” kata Raline dengan serius. Carlos yang berada di sampingnya hanya bisa diam. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Sementara, Raven yang duduk dalam keadaan terikat – justru tersenyum dengan penuh kemenangan. Setidaknya dengan ‘tatto’ itu, dirinya mampu meyakinkan semua orang yang ada di sana. Dan yang paling penting, dia mulai dipercaya oleh orang yang paling dicintainya – yaitu Nabilah. Hatinya teramat lega, ketika Nabilah mulai bisa tersenyum. Perlahan namun pasti semua kebenaran akan terkuak.

“Oke-oke-oke. Kalian sudah tahu kan kalau aku sudah tidak jahat lagi?!” kata Raven dengan santai. “Bagaimana kalau kalian melepaskan ikatanku ini? Sakit sekali rasanya terikat seperti ini,” gerutu Raven.

Raline dan Pevita kemudian diam sejenak. Namun Pevita kemudian kembali berbicara.

“Sebelum kami melepaskan ikatanmu, ceritakan dahulu bagaimana kau bisa melepaskan pengaruh jahat Eden itu,” kata Pevita.

“Hmm.. Baiklah. Akan ku ceritakan semuanya. Kalian dengarkan baik-baik, terutama kau Nabilah,” wajah Raven tersenyum kepada Nabilah. Matanya menatap dengan tajam. Dia bermaksud mengutarakan isi hatinya. Juga dengan semua rahasia yang telah disimpannya akan segera terkuak.

“Baiklah. Itu yang ku harapkan,” jawab Nabilah lirih. Dia kemudian berjalan mendekati Raven. Angin malam yang dingin mewarnai malam panjang itu. Padang rumput yang luas diterangi sinar bulan purnama membawa suasana menjadi sangat hening. Sesekali terdengar suara jangkrik bersahutan mengisi heningnya malam. Raven kemudian memulai kisahnya. Kisah tentang dirinya dan semua rahasia yang disimpannya dari Nabilah dan juga semua orang.

“Sebenarnya aku sendirilah yang menghilangkan pengaruh jahat dari Eden yang telah menguasai seluruh pikiran dan tubuhku. Kalian pasti tidak percaya, karena hanya magician terkuat dengan julukan ‘initial E’ yang bisa menghilangkan semua pengaruh jahat ratu Eden, maupun ‘kutukan’ yang timbul setelahnya.

“Untuk ‘kutukan’ mungkin aku belum bisa menghilangkannya,” mata Raven mengisyaratkan agar semuanya menatap ke arah lengannya yang masih terikat tali. Di lengannya itu terdapat tatto anak panah yang merupakan ‘kutukan’ yang nanti akan merenggut nyawanya – terhitung 7 hari ke depan dari hari ini.

“Pertanyaannya adalah, bagaimana aku bisa melepaskan diri dari pengaruh jahat ratu Eden? Ada yang tahu?” tanya Raven dengan santai. Semua yang ada dihadapannya hanya diam.

Dia kemudian meneruskan penjelasannya.

“Jawabannya adalah karena ada suatu kekuatan luar biasa yang membuatku bisa keluar dari pengaruh jahat itu. Membuatku bebas dari ‘pengabdian’ kepada ratu Eden. Kekuatan yang tak kusangka dapat membuatku menjadi sangat kuat dan mampu untuk melakukan itu.

“Kekuatan luar biasa itu adalah... kekuatan cinta,” mata Raven menatap ke arah Nabilah. Tatapannya menyiratkan rasa cinta yang sangat tulus. Nabilah dengan cepat mampu memahami arti dari tatapan ini. Kali ini semua rasa dari hati Raven tersampaikan kepada Nabilah. Tanpa terasa, air mata Nabilah mengalir membasahi pipinya. Dia sangat terharu dengan ucapan Raven. Ketidakpercayaan dan kekecewaan yang tadi melanda, perlahan tergerus oleh rasa yang telah ‘tersampaikan’ melalui tatapan dan ucapan yang sayu.

Nabilah sangat bahagia. Bahagia karena kenyataan kalau orang yang dicintainya benar-benar berubah. Semula Raven adalah orang jahat, namun dia berusaha sekuat tenaga untuk berubah – alias melepaskan dirinya sendiri dari pengaruh jahat ratu Eden. Semua itu terbilang mustahil. Namun, dengan kekuatan cintanya kepada Nabilah, segala yang mustahil berubah menjadi mungkin. Dan dia mampu membuktikan hal itu.


“Cinta adalah dahaga tatkala haus. Cinta adalah pelipur dikala lara melanda. Kekuatan cinta itu diluar akal sehat. Segalanya bisa berubah karena rasa cinta yang kuat. Rasa yang kuat untuk melindungi seseorang yang dicintai.. Rasa yang sangat indah, seindah matahari di pagi hari, seindah pelangi di kala hujan setelah berhenti...
(Raven Rivero)


“Sedikit diluar dugaan, kau bisa melepas pengaruh jahat itu,” gumam Raline.

“Yah begitulah,” jawab Raven. “Bagaimana Nabilah, apa kau sudah bisa mempercayaiku?”

“Hmm.. Sedikit,” jawab Nabilah. “Ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Kenapa kau menghilang dalam beberapa hari ini? Bisakah kau menjelaskan alasannya?” Nabilah terlihat masih sedikit ragu.

“Oh kau masih ragu rupanya. Mungkin tanda anak panah ini belum bisa meyakinkanmu ya?” Raven tersenyum ke arah Nabilah. “Baiklah, akan kujelaskan semuanya. Kenapa aku menghilang dalam beberapa hari ini, serta alasan sebenarnya sewaktu aku mengajakmu ke air terjun. Oh ya, satu lagi. Aku juga akan bercerita awal mula aku tiba di duniamu, guna menjalankan misi yang telah diberikan oleh ratu Eden – yakni mengambil paksa liontin putih yang ada padamu.”

Nabilah mengangguk setuju. Hal itulah yang ingin didengarkannya dari lelaki itu. Semua hal yang dirahasiakan Aliando yang bernama asli Raven itu. Rahasia kehidupan dari sosok magician yang sudah membuat Nabilah jatuh cinta. Dan tentunya menjadi orang paling penting di hati Nabilah saat ini.

“Baiklah. Akan kumulai ceritaku semenjak dari dark of feliz, wilayah di negeri feliz  yang sekarang menjadi kekuasaan ratu Eden,” Raven memulai penjelasannya. Semuanya mendengarkan dengan seksama sambil duduk di atas rumput. Angin malam semakin dingin menyelimuti kelima orang itu.

“Waktu itu, atau sekitar 3 minggu yang lalu – aku masih berada di dark of feliz. Mungkin perlu juga aku beritahukan tentang daerah teritori itu – tapi nanti, kalau kalian memerlukan informasi tentang itu. Tapi yang pasti di wilayah itu terdapat banyak pengikut ratu Eden. Dia mengumpulkan banyak pasukan untuk menyerang kerajaan feliz. Pasukan kegelapan dengan nama oscured, serta 2 magician ‘initial R’ yang tersisa. Kedua magician itu sangat kuat, bahkan lebih kuat daripada aku dan juga Raline.

“Singkat cerita, aku, Rafael dan Riana dipanggil menghadap ratu Eden. Beliau memerintahkan – salah satu dari kami harus menjalankan sebuah misi. Misi untuk merebut liontin putih dari seorang manusia. Dan manusia yang dimaksud itu adalah kamu Nabilah,” Raven menatap Nabilah.

“Syarat dari misi itu ialah salah satu dari kami harus mau tinggal di duniamu, Nabilah – juga harus bisa berbaur dengan orang-orang disekitar. Kami pun harus memilih salah satu dari kami yang harus menjalankan misi itu. Dalam misi itu, tidak menutup kemungkinan – salah satu dari kami yang terpilih harus bertarung. Kemungkinan besar, ada utusan dari kerajaan feliz yang bertugas ‘mengawasi’ Nabilah. Dialah orangnya,” tunjuk Raven ke arah Carlos.

“Karena pertimbangan kemampuan magic, akhirnya akulah yang dipilih untuk menjalankan misi. Kemampuanku sebagai illusionis, lebih fleksibel dan bisa digunakan di mana saja. Tidak seperti kemampuan Rafael dan Riana yang hanya bisa digunakan di negeri feliz dan seluruh  Atlantis – di dunia nyata tak bisa. Pada akhirnya aku pun harus tinggal di dunia nyata dan membaur dengan para manusia di sana,”

Nabilah kemudian memotong penjelasan Raven.

“Tunggu sebentar!” Potong Nabilah. “Sewaktu di sekolah, kamu kan dijemput oleh supirmu. Dia itu siapa? Apakah dia dari Atlantis juga?”

“Mengenai hal itu dan juga semua hal lain yang kau dan  teman-temanmu lihat, seperti supir, mobil mewah dan lain sebagainya – itu hanyalah sebuah ‘ilusi’. Ilusi yang kuciptakan untuk mengelabui mata kalian semua. Yang kalian lihat bukan sebenarnya terjadi. Itu semua rekayasa penglihatan yang memang spesialisasi ku. Semua kekuatan ilusi ku itu dibantu oleh sebuah alat yang kuberi nama magic ball,” Raven kemudian merogoh sakunya dan menunjukkan sebuah benda – atau lebih tepatnya sebuah bola, yang ukurannya seperti bola tenis. Warnanya adalah hitam.

Benda itu membuat Nabilah teringat akan kejadian di Air terjun. Saat itu, benda itulah yang digunakan Aliando alias Raven – ketika berusaha menghindari hisapan dari blackhole. Satu pertanyaan lagi terjawab. Benda aneh yang kala itu membuat Nabilah bertanya-tanya. Namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Mungkin pada penjelasan Raven selanjutnya, akan terjawab juga. Satu persatu.

“Dengan bola ini, aku bisa menciptakan ilusi apa saja. Benda ini Juga bisa kujadikan senjata. Di dalam bola ini ada tali yang terbuat dari kawat baja, tidak akan mudah putus. Kau lihat sendiri kan, Nabilah? Waktu kita di air terjun?”

Nabilah mengangguk. “Ok aku ingat. Benda aneh itu ternyata senjatamu ya,” Nabilah tersenyum simpul.

“Tepat sekali,” jawab Raven.

“Sekarang aku akan menceritakan alasanku mengajakmu ke air terjun,”

“Tunggu. Bukankah itu untuk kencan pertama? Upps,” Nabilah kelepasan. Raven pun tersenyum simpul.

“Hahaha kencan pertama? Bisa saja dibilang begitu. Tapi sebenarnya itu tidak lebih dari sebuah jebakan. Blackhole yang kita lihat adalah pintu portal menuju dark of feliz. Jadi aku sengaja menggiringmu menuju ke sana,”

“Apa?! Teganya kau melakukan itu kepadaku! Jadi itu semua jebakan untukku ya?!” Kali ini Nabilah benar-benar marah dan kecewa.

“Tu-tunggu dulu,” sahut Raven. “Itu kan, sewaktu aku masih di bawah pengaruh jahat Eden. Jadi itu semua bukan sepenuhnya perbuatanku.” Raven mencoba menenangkan Nabilah.

“Bukankah waktu itu kau mengatakan cinta kepadaku?! Jangan-jangan itu semua bohong?! Perasaan cinta mu itu...” Nabilah seperti mau menangis. Perasaan ragu kembali menghantuinya.

Pevita, Carlos dan Raline seperti terheran-heran. Mereka bingung, kenapa Nabilah terlihat sangat mencintai Raven. Dua orang yang berbeda dunia. Semua yang mereka perhatikan itu sangat rumit. Bagi mereka itu sangatlah mustahil.

“Sepertinya ada yang harus aku luruskan,” gumam Raven. “Beberapa hal yang belum jelas dan masih ku rahasiakan. Aku ingin meyakinkanmu. Semoga kau bisa mempercayai semua perkataan dan juga isi hatiku,” ucap Raven lirih.

Nabilah masih terlihat ragu. Dia sudah terlanjur mencintai lelaki itu. Tapi sebaliknya, dia menganggap semua cinta Aliando alias Raven tidaklah meyakinkan. Bisa dibilang cinta yang semu.

“Nama ‘Aliando’, adalah nama yang kugunakan sewaktu menjalankan misi. Nama asliku adalah Raven. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan nama asliku.

“Sewaktu pertama kali menjalankan misi, aku berusaha mendekatimu. Atau bisa dibilang, berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirimu jatuh cinta kepadaku. Jadi, pada awalnya aku hanya berpura-pura mencintaimu. Maafkan aku, Nabilah.” Raven mengutarakan isi hatinya. Dia berusaha jujur.

“Ternyata benar. Kau hanya pura-pura mencintaiku,” Nabilah terlihat kecewa.

“Tapi sekarang berbeda. Sekarang aku benar-benar mencintaimu.

“Waktu itu ada fase dimana diriku terjebak antara ‘pengaruh jahat’ ratu Eden yang sangat kuat dengan ‘rasa cinta’ kepadamu. Aku tersiksa ketika berada diantaranya. Aku benar-benar berusaha keras untuk membunuh salah satunya. Dan yang aku lakukan adalah menghilangkan ‘pengaruh jahat’ ratu Eden dengan berbagai cara. Maka dari itu, aku menghilang selama beberapa hari. Waktu itu aku berjuang keras untuk menutup portal di air terjun, serta melawan ‘pengaruh jahat’ ratu Eden. Sulit sekali, seperti berjalan di dalam labirin tak berujung dengan disertai banyak ranjau di antara langkah kakiku. Aku berusaha melakukan itu semua demi dirimu, Nabilah.” Kali ini wajah Raven benar-benar serius.

“Tunggu dulu! Sejak kapan kau benar-benar mencintaiku?! Bukankah waktu itu hanyalah berpura-pura saja. Ilusi cintamu yang membuatku terjatuh dalam perasaan yang semu,” Nabilah masih tidak yakin dengan apa yang dijelaskan oleh Raven.

“Sulit sekali kujelaskan. Semua sangat rumit. Waktu itu aku seperti berada di dalam pilihan yang sulit. Di satu sisi aku adalah utusan dari ratu Eden yang harus menjalankan misi untuk mengambil sesuatu yang ada padamu. Namun disisi lain, aku terlanjur mencintai dirimu. Entah sejak kapan itu, yang pasti semuanya terjadi begitu saja – mengalir seperti air.

“Cinta itu tumbuh karena terbiasa dalam kebersamaan. Awalnya aku hanya mendekatimu karena suatu ‘tujuan’. Tapi lama kelamaan justru aku yang terjatuh ke dalam rasa yang tak bisa ku ungkapkan. Rasa yang begitu indah dan membahagiakan. Rasa yang membuatku harus memilih antara kesetiaanku dengan sang ratu, atau mempertahankan rasa cintaku – dengan resiko aku harus membangkang. Pada akhirnya aku memilihmu, dengan segala resiko yang harus ku ambil. Seperti ini contohnya,” Raven menunjukkan tanda anak panah yang ada di lengannya.

“Tanda panah ini adalah ‘kutukan’ bagi para ‘pembangkang’ Eden.  Dan dalam 7 hari ke depan, anak panah ini akan bergerak menuju ke jantungku. Kau lihat sendiri kan, nyawaku menjadi taruhannya setelah aku memilih pilihan untuk menjadi ‘pembangkang’. Semua karena rasa cintaku yang begitu besar kepadamu. Aku rela melakukan apa saja demi dirimu. Aku akan melindungimu!” wajah Raven terlihat tidak main-main. Hal itu menunjukkan kekuatan tekadnya yang membara. Tekad untuk melakukan sesuatu untuk orang yang sangat dicintainya.

Nabilah terdiam sejenak. Raline kemudian mendekatinya.

“Benar sekali yang dikatakan Raven,” kata Raline. “Dia rela mengorbankan nyawanya demi dirimu. Dia tidak mungkin berbohong, karena aku juga pernah mendapatkan ‘kutukan’ yang sama, ketika aku dibebaskan dari pengaruh jahat Eden. Waktu itu aku dibebaskan karena kekuatan dari Ezhar Al. Sedangkan Raven bergerak dengan kemauan dan kekuatannya sendiri. Tidak mudah melepaskan pengaruh jahat itu dengan kekuatan kami sendiri, magician ‘initial R’. Karena hanya ‘initial E’ saja yang mampu melakukannya. Tapi Raven berbeda. Kekuatan tekad dan rasa cintanya mampu menghilangkan pengaruh jahat itu. Luar biasa dia itu,” Raline menyatakan kekagumannya terhadap sosok Raven. Dia yang semula tidak mempercayai Raven, beralih membelanya karena ‘tanda panah’ itu lebih dari sekedar bukti. Nyawa adalah sesuatu yang sedang dipertaruhkan oleh Raven.

“Dasar bodoh!” bentak Nabilah. “Benar-benar bodoh. Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu demi aku?! Kenapa??” Nabilah terisak.

Raven kemudian mendekati Nabilah. Dia kemudian menatap mata Nabilah yang berurai air mata. Tangannya memegang tangan Nabilah

“Jawabannya adalah.. Karena kau adalah orang yang sangat penting bagi hidupku,” kata Raven. “ Kau yang mengajariku apa arti cinta. Apalah artinya nyawaku kalau aku tidak bisa melindungi dirimu. Maafkan aku karena membuatmu khawatir. Aku pergi karena aku harus menyelesaikan hal itu. Dan sekarang aku sudah kembali. Aku kembali dalam keadaan utuh. Aku berhasil bebas dari pengaruh jahat itu. Mulai sekarang aku akan berada di pihakmu. Aku  akan melindungimu dengan segenap kekuatanku.” Ucapan lembutnya diiringi dengan pelukan hangat kepada Nabilah. Pelukan yang penuh dengan rasa cinta. Pelukan yang penuh dengan rasa haru, namun rasa haru karena kebahagiaan.


Terlepas dari itu semua, Raven harus siap berhadapan dengan ‘kutukan’ yang akan segera merenggut nyawanya.




(To be continued...)


Ditulis oleh: Jack Neptune

Baca Juga