--> Skip to main content


[CERBUNG] D2C: Harta Karun yang Tak Terlihat (Eps. 8)

BAB 8: Sang Penolong Yang Tak Disangka-sangka

Sebelum membaca bab ini, silahkan baca dulu bab sebelumnya di:




Teka-teki yang sedang dipecahkan Nino dan Jono:

   Berlayar di dunia yang luas namun tak bisa dirasakan
 Harta karun yang sangat berlimpah namun sulit untuk didapatkan
 Dengan kerja keras yang gigih akhirnya semua bisa dikumpulkan
 Namun wujudnya tak bisa dilihat dan dirasakan
 Bagi yang menginginkan, petunjuknya sebagai berikut:
 1. Surat yang sering ku kirimkan namun tak bisa dipegang
 2. Hanya bisa dilihat apabila pergi ke tempat pertama aku bertemu dengan orang yang ku cintai..


kisah detektif cilik indonesia



“Apa kalian sudah menemukan sesuatu?” Tanya wanita berparas cantik itu dengan ramah.
“Tu-tunggu dulu! Bagaimana kakak bisa tahu tempat ini??” Tanya Nino dengan nada keras.
“Waktuku tidak banyak untuk menjawab pertanyaan tak penting itu,” jawab Sisca sambil tersenyum. “Cepat katakan, di mana harta karun itu!” Kali ini wajahnya berubah serius.
“Tidak! Tak akan aku katakan kalau kakak tidak menjawab pertanyaanku!”
Sisca kemudian menghela nafasnya, “Oke oke oke.. Akan ku katakan kenapa aku bisa tahu tempat ini. Tempat ini lumayan bagus ternyata. Sejuk dan tenang, ha ha ha..”
“Jangan basa-basi!” Kali ini Jono yang berseru dengan kencang. “Cepat kakak katakan kenapa kakak jadi tahu tempat rahasia ini. Apakah kakak selama ini membuntuti kami?”
“Ha ha ha, baiklah,” kata Sisca disertai tawa liciknya. “Awalnya aku memang membuntuti kalian -- tapi semenjak aku bertemu kalian, aku tak perlu lagi bersusah-payah membuntuti bocah ingusan seperti kalian. Buang-buang waktuku saja, ha ha ha..”
“Bagaimana bisa?” Tanya Jono lagi. “Apa yang sebenarnya kakak lakukan??”
“Sebuah alat pelacak!” Jawab Sisca. “Aku memasang alat pelacak pada kalian!”
“Hah? Pelacak?” Seru Nino heran. “Apa di sepeda kami kakak memasangnya?” Duga Nino.
“Kau salah,” jawab wanita itu. “Aku memberikan alat pelacak itu kepada kalian, dan kalian menerimanya dengan senang hati. Bukan salahku, bukan? Ha ha ha..”
“Jangan-Jangan?” Nino kemudian mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
“Ya, itu dia alat pelacaknya!” Seru Sisca seraya menunjuk ke kartu nama yang kini berada di tangan Nino. Seketika itu juga Nino mematahkan kartu nama itu dan membuangnya ke luar jendela.
“Nah, aku sudah menjawab pertanyaan kalian. Sekarang giliran kalian menjawab pertanyaanku. Di mana harta karun itu? Cepat kalian katakan! Kalau tidak....!
“Kalau tidak kenapa?!” Tantang Jono. “Kau mau melawan kami? Dua lawan satu?”
“Hahahahaha..” Sisca justru tertawa penuh kemenangan. “Coba kalian tengok ke luar jendela!”
Dengan perlahan Jono dan Nino melakukan apa yang dikatakan Sisca. Alangkah terkejutnya mereka. Ada 3 orang lelaki dewasa berseragam hitam yang berjalan mendekati markas mereka.
“Itu kan penjahat yang menculik kak Ardi?” Seru Jono dengan gugup. Dia kemudian teringat lagi dengan kejadian yang ada di dalam mimpinya. Kejadian yang kemungkinan menjadi nyata. Kejadian yang membuat bocah bertubuh jangkung itu menjadi gemetaran dan ketakutan.
Wajah Nino terlihat sangat kesal. “Jangan-jangan – kau yang telah menyekap kak Ardi?!”
“Tepat sekali,” jawab Sisca. “Lelaki sialan itu tidak mau diajak bekerja sama, jadi bukan salahku lagi kalau aku harus menyekap dia di sebuah gudang tua yang bau dan kotor, ha ha ha..”
Sisca kemudian menatap Jono dan Nino. “Dan sekarang, giliran kalian yang akan ku sekap! Kalau kalian tidak bisa diajak bekerja sama – akan kuhabisi nyawa kalian! Aku tidak main-main!”
Mendengar ucapan itu kontan saja wajah Jono seketika berubah, semakin takut. Dia terbayang-bayang kalau dirinya akan menjadi seperti yang terjadi di dalam mimpinya. Sementara itu, 3 anak buah Sisca tinggal beberapa meter lagi akan mencapai markas mereka. Tubuh mereka besar-besar.
“Sepertinya kalian dalam keadaan terdesak,” ucap Sisca. “Cepat katakan saja di mana harta karun itu! Kalau kalian memang sayang dengan nyawa kalian!”
“Bagaimana ini?” Bisik Jono. “Sepertinya kita memang dalam keadaan terdesak.”
“Yeah, walaupun kita memberitahukan harta karun itu, tetap saja nyawa kita akan terancam. Orang seperti dia mana bisa dipercaya,” bisik Nino. Matanya menatap ke arah Sisca dengan sengit.
“Kabar gembira, ketiga penjahat itu kini sudah siap untuk naik ke markas kita,” bisik Jono lagi. Matanya melihat ke arah 3 pria besar berseragam hitam yang tengah bersiap menaiki tangga tali.
“Ha ha ha.. Sepertinya kalian tidak punya pilihan!” Seru Sisca dengan tawa liciknya.
Sepertinya kedua bocah itu memang tidak punya pilihan lagi. Mereka dalam keadaan terdesak. Sebentar lagi 3 anak buah Sisca akan mencengkram mereka. Atau bisa saja menghabisi nyawa mereka. Terlihat raut wajah Jono yang ketakutan. Sementara Nino masih terus berfikir keras.
Mata Nino kemudian tertuju ke arah luar jendela. Raut wajahnya seketika berubah. Secercah harapan terlihat dari raut wajah bocah jenius itu. Dia sepertinya bersiap untuk melakukan tindakan.
“Apa kau membawa ikat pinggang?” Bisik Nino kepada Jono.
Jono kemudian terkejut. “I-iya. Aku membawanya. Memangnya untuk apa?”
“Ikuti saja aku!” Kata Nino seraya melepaskan ikat pinggangnya, diikuti oleh Jono.
Bocah jenius itu kemudian berlari ke arah Sisca dengan ikat pinggang yang ada di tangannya. Sementara Jono juga melakukan hal yang sama. Dan Sisca pun terkejut bukan main.
“Hei! Kalian mau menyerangku ya! Percuma Saja!” Bentak Sisca seraya menghindar dari serangan 2 bocah yang berlari mendekatinya. Keduanya berlari dengan sangat cepat dan gesit.
Namun, apa yang terjadi? Kedua bocah itu ternyata tidak menyerang Sisca. Mereka justru bersiap untuk melompat ke luar jendela yang posisinya ada di belakang Sisca.
“Selamat datang di jalur evakuasi!” Seru Nino dengan nada optimis. “Flying Fox is Begin!”
“Hahaha kenapa aku tidak menyadarinya ya?” Jono ikut menimpali. “Lets Goo!!”
Kini kedua detektif cilik itu menggunakan jalur evakuasi di markas mereka. Jalur itu berupa tali yang terbentang dari pohon di markas mereka –  menuju ke pohon lain yang jaraknya sekitar seratus meter. Jalur evakuasi tersebut memiliki konsep seperti flying fox – yaitu sebuah wahana berupa tali yang terikat dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Tujuannya agar lebih cepat dalam proses evakuasi – dan tentunya bisa lari dari kejaran penjahat yang kini mengepung mereka.
Kedua bocah itu kemudian menggunakan ikat pinggang sebagai alat peluncur di jalur evakuasi yang sangat kreatif itu. Dan kini mereka sudah meluncur di jalur evakuasi itu. Semakin lama mereka semakin menjauhi markas mereka sendiri. Sementara Sisca dan ketiga anak buahnya hanya bisa melongo dari balik jendela rumah pohon. Mereka heran sekaligus tak menyangka.
Kini kedua detektif cilik itu sudah sampai di pohon lain yang terhubung dengan tali itu. Jarak mereka kini dengan para penjahat itu lumayan jauh – yaitu sekitar 100 meter.
“Ayo cepat kau potong tali ini!” Seru Nino. “Nanti mereka akan mengikuti cara yang tadi kita lakukan!” Nino kemudian memberikan gunting yang tadi di bawanya dari markas. Dia sudah memperhitungkan akan hal ini – yaitu membawa gunting untuk ‘memotong’ jalur evakuasi mereka.
Jono pun langsung memotong tali itu dengan menggunakan gunting. Dan kini keduanya bisa tersenyum lega. Yah, setidaknya ada waktu sekitar 10 menit untuk melakukan rencana selanjutnya.
“Bagaimana sekarang?” Tanya Jono. “Apakah kita harus lari dari sini?”
“Ya, memang harus begitu!” Seru Nino. “Tak ada cara lain selain berlari sejauh mungkin!”
Nino kemudian berlari dikuti oleh Jono. Sementara hari semakin gelap dan malam pun datang menyongsong. Dan para penjahat itu sepertinya masih belum terlihat mengejar mereka.
Nino dan Jono kemudian sampai di depan jalan raya. Dari sana terlihat sebuah mobil avanza hitam yang sepertinya familiar di mata kedua bocah itu.
“Sepertinya itu mobil mereka!” Seru Nino. “Kau ingat kan – mobil itu adalah mobil milik penjahat yang menyekap kak Ardi sewaktu di perpustakaan?”
Tiba-tiba saja, dari dalam mobil itu keluar seorang pria bertubuh besar lainnya. Rupanya ada 1 orang lagi yang berjaga di dalam mobil. Dan pria itu menatap tajam ke arah Nino dan Jono. Sepertinya dia baru diinstruksikan untuk menangkap kedua bocah itu via telepon oleh Sisca. Wajah Jono dan Nino pun seketika tegang. Raut wajah lega yang tadi ada – kini menghilang dalam sekejap.
Pria bertubuh besar itu kemudian bersiap menangkap Jono dan Nino. Kini jarak antara mereka hanya beberapa langkah saja. Pria itu pun semakin mendekat ke arah Jono dan Nino.
Tapi tiba-tiba... “BRUAAKK!” Sebuah tongkat kayu tepat menghajar bagian belakang kepala penjahat itu. Sepertinya ada orang lain yang menghajar penjahat itu dari belakang. Dan orang itu adalah...
ARDI! Rupanya dia masih selamat! Sementara si penjahat langsung jatuh dan pingsan.
“Rasakan balasan dariku!” Seru Ardi yang sebelumnya pernah terkena pukulan yang sama.
“Hah?! Kak Ardi?” Seru Nino terkejut. “Bukannya kakak disekap oleh mereka??”
“Ha ha ha. Sayangnya aku berhasil membebaskan diri,” kata Ardi. “Kalau urusan berkelahi aku memang kurang jago. Tapi kalau urusan membebaskan diri – aku adalah masternya. Kalian bisa mengibaratkan aku seperti seorang pesulap bernama Houdini, hahaha,” si Ardi tampak menyombongkan dirinya. Rupanya atlet catur itu juga hebat dalam hal meloloskan diri.
Kemudian mata Ardi menatap ke arah belakang Nino dan Jono. “Sepertinya ada 4 penjahat lagi yang tersisa – 1 orang wanita dan 3 monster!” Seru Ardi. Jarak para pengejar yang dimaksud Ardi itu sekitar 100 meter dari posisi mereka sekarang. Dan semakin lama semakin mendekat.
“Baiklah, langsung to the point saja!!” Seru Ardi. “Aku akan lari dari sini, kalau kalian mau kuselamatkan – kalian harus rela membagi harta karun itu denganku. Bagaimana??”
“Kita sudah tak ada waktu lagi.” Bisik Jono kepada Nino. “Ikuti saja kemauan kakak itu!”
“Memangnya bagaimana caranya kita lari dari sini?” Tanya Nino kepada Ardi.
Ardi kemudian merogoh saku penjahat yang tengah pingsan karena pukulannya.
“Dengan ini kita bisa lari!” Seru Ardi seraya menunjukkan kunci mobil avanza hitam yang ada di tangannya. “Kebetulan aku juga bisa menyetir,” gumamnya. “Jadi Bagaimana? Deal or No Deal?”
Nino kemudian menatap ke arah pengejarnya yang hanya tinggal beberapa puluh meter.
“BAIKLAH!! DEAAL!!!” Teriak Nino seraya berlari menuju ke mobil avanza hitam itu. Kemudian dia dan Jono masuk ke pintu belakang mobil – sedangkan Ardi di bagian kemudi.
Mobil pun berhasil dihidupkan, sementara para penjahat hanya tinggal beberapa meter dari mereka. Namun dengan sigap ardi tancap gas dan seketika mobil pun melesat menjauhi para penjahat itu. Jono kemudian menengok ke arah belakang sambil tertawa penuh kemenangan. Dia melihat gelagat Sisca dari kejauhan yang terlihat berteriak-teriak dan memaki-maki.
Kini mobil itu berjalan dengan tenang di jalan raya, membawa serta Ardi, Jono dan Nino.
“Baiklah, apa yang selanjutnya kita lakukan?” Tanya Ardi seraya tersenyum puas. “Dan mengenai pembagian hasil ini – kapan akan kita laksanakan?”
“Secepatnya! Kakak tenang saja,” Jawab Nino – juga dengan raut wajah penuh kemenangan.


“Yeah, akhirnya penjahat itu berhasil diringkus pamanku!” Seru Jono. Matanya tertuju ke surat kabar yang ada di tangannya. Terlihat penangkapan ketiga penjahat, penipu sekaligus perampok itu.
“Wah, aku tidak menyangka – ternyata kak Ardi tidak jadi mengambil sebagian dari harta itu,” kata Nino kepada Ardi yang duduk di sampingnya. Siang itu si Jono, Nino dan Ardi tengah bersantai di taman di pinggir sungai. Taman itu adalah tempat mereka sebelumnya berdiskusi dengan Sisca.
“Yeah, karena harta itu untuk membantu teman kalian – aku jadi tak tega untuk mengambilnya, hehehe..” jawab Ardi seraya terkekeh. “Anggap saja untuk mencari pahala.”
“Tapi syukurlah kak Ardi sudah menolong kami,” tutur Nino. “Kakak memang hebat!”
“Hehehe.. Dari awal aku sudah tahu – kalau ada hal yang tidak beres dalam sayembara ini,” jelas Ardi. “Ternyata Pak Anton itu hanyalah tokoh fiktif yang diciptakan Sisca – yang disuruh Sisca untuk berperan sebagai panitia sayembara. Padahal Sisca lah satu-satunya keluarga dari almarhum pak Hendro – atau lebih tepatnya anak angkatnya Pak Hendro. Namun dia ingin menguasai seluruh harta ayah angkatnya itu. Padahal dalam wasiat Pak Hendro – yang berhak mendapatkan ‘harta karun yang tak terlihat’ adalah orang jenius yang berhasil memecahkan teka-teki dari almarhum. Kebetulan beliau adalah maniak detektif dan suka membuat hal-hal yang penuh dengan teka-teki dan misteri.”
“Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu di mana letak harta karun itu?” Tanya Ardi kepada Nino yang duduk di sampingnya. Sementara Jono masih asyik membaca koran. Bocah bertubuh jangkung itu sedang fokus membaca berita favoritnya –  yaitu di kolom sepakbola.
Nino kemudian menghela nafasnya. “Yeah, itu semua berkat petunjuk yang kakak berikan melalui buku ini,” jawab Nino seraya menyerahkan buku hijau yang dipinjam Ardi dari perpustakaan. “Buku kecil itu merupakan pahlawan yang sesungguhnya.”
Nino kemudian menambahkan, “mungkin kakak juga sudah tahu dengan tempat disimpannya harta itu – tapi kakak tidak tahu bagaimana cara membukanya,” jelas Nino. “Atau lebih tepatnya kunci untuk membuka harta itu. Kakak benar-benar tidak tahu, bukan?”
“Yeah, kau benar sekali. Aku memang tak tau kuncinya – karena yang tau kuncinya hanyalah orang terdekat almarhum pak Hendro – yaitu Sisca – anak angkatnya sendiri,” tutur Ardi. “Makanya dia sendiri kan yang memberitahu kalian tentang jawaban dari kalimat ‘Hanya bisa dilihat apabila pergi ke tempat pertama aku bertemu dengan orang yang ku cintai’ – yaitu Martapura.”
Ardi kemudian menghela nafasnya. “Ya, ‘Martapura’ adalah kata kunci dari harta karun itu. Dan aku tak tahu sama sekali akan hal itu – karena aku bukan orang dekat almarhum.”
“Yeah begitulah,” balas Nino. “Aku tak menyangka ternyata pak Hendro itu punya harta bernilai 50 ribu dollar – namun harta itu tak terlihat – dan sumbernya pun tak terlihat. Akan tetapi berkat buku yang diberikan kak Ardi, aku jadi tahu kalau sumber penghasilan itu tak hanya di dunia nyata  -- melainkan juga ada di dunia maya. Biasanya hal seperti itu terkenal dengan sebutan bisnis Online dan internet marketing.” Jelas Nino panjang lebar.
“Kemudian, aku tahu kalau pak Hendro berhasil mengumpulkan uang dari bisnisnya di internet – antara lain website, google adsense, jual beli online dan bisnis online lainnya yang diperbolehkan pemerintah,” kata Nino lagi. “Dan semua penghasilan itu disimpan dalam sebuah dompet Online bernama paypal. Yeah, total harta bernilai 50 ribu dollar itu tersimpan aman di dalam paypal.”
“Berkat buku itu pula – aku akhirnya tahu apa itu paypal. Paypal adalah dompet untuk bertransaksi Online dengan aman. Dan paypal merupakan dompet Online tertua dan terbaik di dunia. Akhirnya ilmuku bertambah lagi deh, hehehehe... “ jelas Nino seraya tertawa dengan lepas.
“Ya ya ya,” sahut Ardi. “Dan untuk membuka akses ke akun paypal milik pak Hendro adalah dengan memasukan alamat email dan password – berupa kata ‘martapura’. Hehehe, sungguh unik.”
“Yeah begitulah,” kata Nino. Matanya kemudian menatap ke secarik kertas bertuliskan:
Berlayar di dunia yang luas namun tak bisa dirasakan
Harta karun yang sangat berlimpah namun sulit untuk didapatkan
Dengan kerja keras yang gigih akhirnya semua bisa dikumpulkan
Namun wujudnya tak bisa dilihat dan dirasakan
Bagi yang menginginkan, petunjuknya sebagai berikut:
1. Surat yang sering ku kirimkan namun tak bisa dipegang
2. Hanya bisa dilihat apabila pergi ke tempat pertama aku bertemu dengan orang yang ku cintai..
“Semua kalimat itu ternyata mengarah ke sebuah ‘harta karun yang tak terlihat’ – atau lebih tepatnya harta yang di tidak di dapat di dunia nyata  -- melainkan didapat dari dunia maya. Rupanya Pak Hendro ternyata memiliki bisnis Online yang tak diketahui oleh orang lain. Hanya beliau sendiri yang tahu akan hal itu – dan beliau membiarkan hartanya mengendap di dunia yang tak bisa dirasakan. Sungguh luar biasa, ‘harta karun yang tak terlihat’ ini. ” Jelas Nino panjang lebar.
Dan pada akhirnya, semua teka-teki berhasil dipecahkan dan semua berakhir dengan bahagia. Kini ketiga orang itu sedang asyik menikmati suasana sore yang sejuk di taman – seraya menatap ke arah sungai besar yang sangat indah. Ketiganya merasa lega dan puas akan hasil yang mereka capai – sebuah kemenangan yang sangat dramatis. Dan satu hal yang terpenting, pada akhirnya Jono dan Nino berhasil membantu kesembuhan teman baik mereka, yaitu Dita.
Awali semuanya dengan niat yang mulia, maka hal semustahil apapun pasti bisa dilakukan..


SEKIAN






Lihat bab lainnya di: D2C1

***




Author: A F
Profesi: Internet marketer, penulis dan pencipta lagu
Dengarkan lagu ciptaannya di: 
www.reverbnation.com/triology4
www.reverbnation.com/ajiesongcollection
KUTIPAN FAVORIT:
"Enjoy Aja!"

CAUTION!

- DILARANG KERAS MENIRU, MENJIPLAK DAN MENGKOPI IDE MAUPUN ISI DARI TULISAN DI ATAS. KARENA ITU MERUPAKAN PELANGGARAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.



- APABILA DITEMUKAN PELANGGARAN HAK CIPTA/PLAGIAT, MAKA AKAN BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN HUKUM DI REPUBLIK INDONESIA!

Baca Juga