Skip to main content

[CERBUNG] D2C: Harta Karun Yang Tak Terlihat (Eps.5)

Bab 5: Konspirasi

  Sebelum membaca bab ini, silahkan baca dulu bab sebelumnya di:
[CERBUNG] D2C: Harta Karun Yang Tak Terlihat (Eps. 4)


Teka-teki yang sedang dipecahkan Nino dan Jono:

   Berlayar di dunia yang luas namun tak bisa dirasakan
 Harta karun yang sangat berlimpah namun sulit untuk didapatkan
 Dengan kerja keras yang gigih akhirnya semua bisa dikumpulkan
 Namun wujudnya tak bisa dilihat dan dirasakan
 Bagi yang menginginkan, petunjuknya sebagai berikut:
 1. Surat yang sering ku kirimkan namun tak bisa dipegang
 2. Hanya bisa dilihat apabila pergi ke tempat pertama aku bertemu dengan orang yang ku cintai


detektif lokal indonesia

    

    Kali ini wajah Jono benar-benar terlihat bingung. Dia sangat heran dengan apa yang dikatakan sahabatnya barusan. "Akhirnya ikan memakan umpan?" Apa maksudnya itu? Pikir bocah bertubuh jangkung itu. Padahal mereka kan tidak sedang memancing ikan sekarang.
     "Hallo kak Sisca," sapa Nino dengan ramah.
     "Halo Nino," sapa wanita bernama sisca itu sambil tersenyum manis. Wajahnya begitu cantik.
     Kemudian Jono berbisik ke arah Nino "Hei kau mengenal kakak cantik ini? Siapa sih dia?"
     Nino tak menggubris bisikan si Jono.
     "Kenapa kakak baru muncul sekarang?" Tanya Nino dengan polos.
     "Hmm.. Maksudmu?" Tanya sisca dengan heran.
     Nino kemudian tersenyum. "Bukannya selama ini kakak selalu mengawasi kami. Kakak yang membuntuti kami dalam beberapa hari ini, kan?"
     "Hei, apa maksudmu?? Aku tak mengerti sama sekali," elak Sisca dengan raut wajah bingung.
     "Baiklah, kalau begitu," pungkas Nino. Kemudian dia menghela nafasnya, "Lalu kenapa kakak ada di sini? Pasti memata-matai kami, ya??"
     "Ke-kebetulan pas aku jogging pagi -- pas aku dari jauh melihat kalian. Aku kan ingat dengan bocah jenius yang berhasil lulus tes sayembara?" Jelas wanita itu. " Langsung saja deh aku hampiri, sekalian bertutur sapa dengan anak-anak ganteng ini, hehehe.."
     "Maksudku  -- langsung saja kakak to the point," Pungkas Nino seraya menguap tanda bosan. “Kakak ke sini pasti punya maksud dan tujuan lain bukan?”
     Jono pun berbisik, "hei kenapa kau kasar kepada kakak cantik itu?"
     Mendengar perkataan si Nino, Sisca pun terdiam sejenak. Senyumannya seketika hilang.
     "Oke oke oke!" Kata Sisca dengan nada menyerah. Wajahnya berubah serius.
     "Nanti akan aku katakan maksud dan tujuanku menemuimu, bocah. Tapi tidak di sini, disini terlalu banyak orang,” kata Sisca. “Kita ke kafe di seberang sana saja. Nanti aku yang traktir."
     "Horee!" Seru Jono girang. "Kebetulan perutku juga sangat lapar niih, hihihi.."
     Nino pun mengangguk tanda setuju. Kebetulan dia mungkin juga lapar – sama seperti Jono.
     "Ayo ikuti aku," kata Sisca sambil tersenyum. Dia kemudian mulai bersiap menyeberang jalan.
     "Sebelum itu, boleh aku tanya satu hal?" Tanya Nino dengan tiba-tiba.
     "Ng.. Mau bertanya apa?" Tanya Sisca heran.
     "Di mana kakak memarkir mobil honda Jazz putih milik kakak?"
     Sisca pun langsung terdiam. Raut wajahnya mendadak heran. Dalam hatinya berkata -- darimana bocah ini tahu dengan merk dan warna mobilnya? Benar-benar bukan bocah biasa.
     "Kenapa kakak tidak menjawab?" Tanya Nino lagi
     "Hehehe.. Anak yang sangat pintar. Nanti akan kuceritakan semuanya di kafe, okey?" Wajah Sisca kembali tersenyum manis. Dia langsung berjalan mendahului Jono dan Nino.
     Mereka bertiga kemudian menyeberangi jalan yang pagi itu lumayan ramai. Ada yang jogging, ada juga yang menggunakan skateboard maupun in line skate. Banyak sekali yang melakukan kegiatan di pagi minggu yang cerah itu. Tua, muda, laki-laki, perempuan, yang single maupun yang bersama-sama keluarga masing-masing -- semuanya dalam suasana pagi yang menyenangkan.
     Sesampainya di seberang jalan, Sisca, Nino dan Jono kemudian berjalan sekitar 200 meter ke arah timur -- di mana letak kafe yang dimaksud Sisca berada. Dari kejauhan tampak tulisan "Capung Kafe" dengan bangunan yang minimalis namun tertata rapi. Di depan bangunan kafe berwarna coklat itu terparkir beberapa buah kendaraan di depannya. Tidak terlalu banyak pengunjungnya pagi itu -- sehingga sangat bagus untuk mendiskusikan hal-hal penting yang bersifat privasi. Atau lebih tepatnya membicarakan hal-hal yang bersifat RAHASIA.
     Sisca kemudian memilih kursi yang letaknya paling pojok. Kemudian dia mempersilakan kedua bocah di sampingnya untuk duduk di kursi itu.
     "Kalian pilih-pilih menu dulu," kata Sisca seraya menunjukkan daftar menu yang ada di meja.
     "Waaw, makanannya enak-enak..." Kata Jono sumringah. "Aku pesan Nasi capcai boleh gak? Sama Minumnya Es jeruk." Jono sangat bersemangat karena perutnya memang sudah tak sabar lagi untuk melahap menu yang dipesannya itu.
     "Kalau kau, mau pesan apa?" Tanya Sisca kepada Nino.
     "Kalau aku, Nasi goreng sama Es jeruk saja," jawab Nino singkat.
     "Baiklah kalau begitu," kata Sisca. "Kalian tunggu di sini, aku mau memesankan pesanan kalian. Duduk yang manis ya, anak-anak."
     "Siaap!" Kata Jono dan Nino serentak.
     Kemudian Jono berbisik ke Nino, "Paling enak hidup pas-pasan -- pas lapar -- pas banget ada yang traktir, hihihi.."
     "Setuju," balas Nino dengan nada berbisik pula.
     5 menit kemudian, Sisca pun kembali duduk bersama Nino dan Jono.
     "Jadi sementara menunggu menu, mari kita berkenalan dulu -- namaku sisca," kata wanita berparas cantik itu. “Yang ini Nino – kalau yang satunya siapa ya namanya?”
     "Na-namaku Jono! Senang berkenalan dengan kakak," jawab Jono. “Terima kasih ya, kakak sudah mengajak ke sini. Kebetulan perut aku sangat lapar, hihihi..”
     "Hehehe.. Santai saja," kata Sisca seraya tersenyum.
     "Sebenarnya aku mau mengatakan maksudku kepada kalian -- tapi sebelumnya beritahu aku -- darimana kau tahu warna dan tipe mobilku?" Tanya Sisca. Matanya menatap ke arah Nino.
     “Cuma menebak saja," sahut Nino dengan santai. "Apakah tebakanku benar?"
     "Hmmm.. Kau benar! Mobilku memang Honda Jazz berwarna putih, dan sekarang terparkir di dekat Gedung Pemuda di sebelah Sana." Tangan Sisca menunjuk ke arah gedung yang jaraknya sekitar 300 meter dari tempat mereka berada.
     "Ya, sudah. Tak penting membahas tentang mobil. Sekarang kita akan membahas hal pokok. Jadi apa yang mau kakak katakan kepada kami?" Tanya Nino.
     "Begini, kau tahu kan kalau kita adalah 2 dari 3 pemenang sayembara yang diselenggarakan oleh pak Anton -- yang merupakan adik kandung dari almarhum Pak Hendro?"
     Nino pun mengangguk. "Yang seorang lagi kalau tak salah yang bernama kak Ardi, bukan?"
     "Yup. Ternyata kau masih ingat," tutur Sisca. "Sekarang aku akan menceritakan sesuatu hal yang sangat keterlaluan. Kau harus tahu kalau ada konspirasi yang terjadi dalam sayembara ini!" Jelas Sisca kepada Nino. Sementara si Jono hanya bisa melongo karena dia seperti tak dilibatkan.
     "Konspirasi? Maksud kakak?" Tanya Nino heran.
     "Ada sesuatu yang aneh, pak Hendro sepertinya mengajak si Ardi untuk bekerja sama dalam memecahkan teka-teki di sayembara ini."
     "Wow, benarkah itu?" Tanya Nino setengah terkejut.
     "Ya seperti itulah adanya," jawab Sisca. "Seharusnya seorang panitia tak boleh melakukan itu. Dia harus bersikap netral, dan membiarkan peserta bekerja sendiri-sendiri. Ini benar-benar tidak fair.” Gerutu Sisca. Raut wajahnya tampak  kesal.
     “Atau jangan-jangan Pak Hendro juga menginginkan harta itu -- sehingga dia mengajak si Ardi berkomplot dengannya. Mungkin dia mengira kalau Ardi lah yang paling berpeluang memenangkan sayembara ini -- daripada aku yang seorang wanita -- dan kau yang seorang bocah. Benar, kan?"
     "Hahaha, bocah ya?" Si Jono tertawa terpingkal-pingkal karena Nino-lah si ‘bocah’ yang dimaksud oleh Sisca barusan.
     "Ups maafkan aku," ucap Sisca seraya tersenyum geli.
     "Ya ya ya.. Itu memang benar adanya," kata Nino sambil menguap bosan.
     "Tapi tunggu dulu!" Seru Nino lagi. "Darimana kakak tahu semua itu? Jangan-jangan kakak memata-matai mereka ya?" Rupanya Nino masih teringat tentang seseorang yang selalu membuntutinya. Dia yakin kalau orang itu adalah Sisca. Walaupun Sisca tidak mengakui akan hal itu.
     "Memata-matai?" Tanya Sisca. "Hahaha.. Lebih tepatnya menggali informasi. Menurutku memata-matai itu hanya ada di film-film. Aku lebih suka dengan istilah ‘menggali informasi’."
     "Hmm.. Sama saja itu," gumam Jono.
     “Tapi lebih keren ‘menggali informasi’, bukan?” Tanya Sisca membela diri.
     "Jadi apa sekarang yang kakak mau? Apa cuma sekedar memberitahukan informasi itu saja?" Tanya Nino. “Atau kakak punya informasi lain lagi buat kami?”
     Sisca kemudian menghela nafasnya. Kemudian dia tersenyum ke arah Nino. "Aku menawarkan sebuah kerjasama. Lebih tepatnya konspirasi -- seperti yang telah dilakukan oleh Ardi dan Pak Hendro,” jelas Sisca. “Konspirasi harus dibalas dengan konspirasi!"
     "Wow!" Seru Jono. "Konspirasi dibalas konspirasi, kereen ituu!"
     "Memangnya apa untungnya bagi kami?" Tanya Nino dengan nada curiga.
     "Keuntungannya sudah jelas. Kalau 2 otak digabung menjadi 1 -- maka kemungkinan berhasilnya lebih besar. Apalagi lawan yang dihadapi sudah ‘menggabungkan kekuatannya’. Bisa-bisa mereka yang menjadi pemenangnya – dan kita yang jadi pecundangnya."
     Nino kemudian berfikir sejenak. Dia mempertimbangkan tawaran dari kakak cantik yang duduk di hadapannya itu. "Tawaran yang sangat menarik," gumam bocah jenius itu.
     "Tapi kau harus tahu konsekuensinya!" tutur Sisca. "Kalau kita berhasil -- maka harta itu harus dibagi dua!” Tegasnya lagi. “Di mana ada kelebihan -- di situ ada kekurangan."
     Nino kembali berpikir. Dia ragu antara menerima atau menolak tawaran dari Sisca. Kalau dia menolak -- maka kemungkinan besar Ardi dan Pak Hendro lah yang paling berpeluang untuk mendapatkan harta karun itu. Sementara kalau dia menerima tawaran itu -- maka dia harus siap berbagi harta karun dengan Sisca. Padahal niat Nino ingin agar harta itu digunakan untuk biaya operasi temannya, si Dita. Sementara mereka semua tidak tahu berapa nominal dari harta karun itu. Kalau berbagi – takutnya harta itu tidak cukup untuk membiayai operasinya si Dita.
     "Bagaimana?" Tanya Sisca. "Dari raut wajahmu, tampaknya kau masih ragu, ya?"
     Memang benar, kali ini Nino tak langsung menyetujui permintaannya Sisca, karena berbagai pertimbangan – lebih tepatnya karena faktor jumlah uang yang tak diketahui dengan pasti.
     "Bagaimana menurutmu?" Bisik Jono kepada Nino yang tengah sibuk berfikir.
     "Baiklah, sebagai langkah awal dari kerjasama ini -- akan kuberikan sedikit petunjuk mengenai teka-teki itu,” Sisca kembali mengajukan penawaran. “Lebih tepatnya pada kalimat yang terakhir."
     "Wow! Memangnya kakak sudah bisa memecahkan kalimat terakhir itu?" Tanya Jono antusias. Kemudian dia berbisik lagi ke arah Nino. "Sekarang kau kalah dari kakak cantik ini, hehehe.."
     "Ya. Aku sudah menemukan jawaban dari kalimat terakhir dalam teka-teki itu." Kata Sisca dengan nada optimis. "Kalian tau sendiri kan, aku ini selain mahasiswi hukum -- aku juga pandai menggali informasi. Banyak hal yang aku ketahui – namun tak kalian ketahui."
     "Yeah, lebih tepatnya mata-mata," gumam Nino dengan nada pelan namun ketus.
     Tidak lama kemudian hidangan pun datang. Wajah Jono tampak sumringah menyambut kedatangan ‘sang penyelamat’ bagi rasa lapar dan haus yang dari tadi menggerogotinya.
     "Baiklah, mari kita makan dulu." Ajak Sisca kepada Jono dan Nino.
     Ketiga orang itu kemudian melahap hidangan yang tersedia di meja. Namun, hanya Jono yang terlihat paling rakus. Dia tak segan makan dengan lahap dihadapan seorang wanita cantik. Walaupun rakus, entah kenapa bocah jangkung itu badannya tidak gemuk-gemuk.
     Acara makan pun akhirnya selesai. Sekaranglah saatnya mendengar jawaban dari Nino.
     “Sepertinya aku tak punya pilihan lain,” kata Nino dengan nada lirih. “Waktu terus berjalan, dan aku memilih untuk menerima tawaran dari kakak.”
     “Yeah, itu dia jawaban yang aku tunggu-tunggu dari tadi,” kata Sisca.
     “Jadi, kapan kakak akan memberitahu jawaban dari kalimat terakhir teka-teki itu?” Tanya Jono.
     “Secepatnya,” jawab Sisca. “Tapi tidak sekarang. Aku hari ini ada urusan dan harus segera pergi. Nanti sore kita bertemu lagi, dan Ini kartu namaku. Tolong kalian simpan baik-baik.”
     Nino kemudian menerima kartu nama berwarna putih itu. Di sana tertulis nama ‘Sisca Sanjaya’
     Ketiga orang itu kemudian pergi dari Kafe itu. Di depan halaman kafe – Sisca kemudian memisahkan diri dari Jono dan Nino.
     “Jangan lupa hubungi aku ya,” seru Sisca. Dia kemudian pergi menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir. Dan kini tinggal Nino dan Jono yang berjalan berdua menuju ke siring – tempat di mana sepeda mereka terparkir. Sementara suasana yang tadinya ramai perlahan mulai berkurang.
     “Hei, boleh aku tanya sesuatu?” Kali ini Jono memulai obrolan lagi dengan Nino.
     “Mau tanya apa? Nomor handphone kakak tadi?” Ejek Nino.
     “Bukan-bukan! Aku serius,” kata Jono. “Benarkah kakak yang tadi itu yang sering mengikuti kita dalam beberapa hari ini? Lalu tahu darimana kau –  kalau dia yang melakukan hal itu?”
     “Hehehe.. Cuma menduga saja,” jawab Nino santai. “Tapi yang pasti, aku pernah secara tidak sengaja melihat mobil Honda Jazz putih yang terparkir – sewaktu kita berada di pelabuhan. Selain itu, aku juga merasa sering ada mobil yang membuntuti kita dari belakang. Entah kenapa.”
     “Hei, bukannya aku membela,” sergah Jono. “Tapi di kota ini bukan Cuma kak Sisca yang memiliki Honda Jazz putih. Kenapa malah kakak cantik itu yang kau tuduh membuntuti kita? Why?”
     Nino kemudian menghela nafas panjangnya. “Aku sempat mengingat nomor plat mobil di pelabuhan itu. Nomornya DA 515 CA. Bukankah dari plat itu terlihat jelas nama SISCA?”
     “Hmm benar juga ya,” sahut Jono. “Tapi aku masih ragu akan hal itu. Mungkinkah itu Cuma kebetulan saja nomornya sama dengan nama kak Sisca? Lagipula banyak nama Sisca di kota ini.”
     “Hei, cepat kita sembunyi!” Bisik Nino. Dia kemudian menarik tangan Jono agar segera bersembunyi di belakang pohon di dekat mereka berada sekarang.
     “Hei ada apa??” Tanya Jono Heran.
     “Sebentar lagi mobil kak Sisca lewat sini. Apa kau mau lihat bukti perkataanku barusan?”
     Jono pun mengangguk. Dia kemudian bersembunyi di belakang pohon besar yang ada di pinggir jalan raya. Memang betul dari kejauhan terlihat sebuah mobil Jazz putih mau lewat.
     Semakin lama mobil itu semakin mendekat. Dan akhirnya mobil itu pun berlalu dari tempat persembunyian Jono dan Nino. Sangat jelas terlihat -- wajah Sisca yang tengah menelepon sambil menyetir mobil itu. Dia tidak menyadari keberadaan Jono dan Nino yang tengah bersembunyi. Dan yang lebih parahnya lagi, terlihat jelas nomor plat mobil itu yang bertuliskan DA 515 CA.

 (To be continued...)


Lihat bab lainnya di: D2C1

***




Author: A F
Profesi: Internet marketer, penulis dan pencipta lagu
Dengarkan lagu ciptaannya di: 
www.reverbnation.com/triology4
www.reverbnation.com/ajiesongcollection
KUTIPAN FAVORIT:
"Enjoy Aja!"

CAUTION!

- DILARANG KERAS MENIRU, MENJIPLAK DAN MENGKOPI IDE MAUPUN ISI DARI TULISAN DI ATAS. KARENA ITU MERUPAKAN PELANGGARAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.


- APABILA DITEMUKAN PELANGGARAN HAK CIPTA/PLAGIAT, MAKA AKAN BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN HUKUM DI REPUBLIK INDONESIA!

Baca Juga